pemilih

Golput

ilustrasi

Baru setelah zaman Jokowi dan Ahok saya memilih. Kenapa?

Sebagai orang yang bermukim lama di luar negeri, saya paham sepaham-pahamnya apa yang disebut sebagai good governance. Yang sederhananya memanusiakan warganegara. Pemimpin adalah pelayan masyarakat dan membuat sistem untuk mensejahterakan masyarakat.

Memilih Dan Berpihak

ilustrasi

Argentina, Chile, Brazil dll membutuhkan beberapa dekade untuk mengungkap kebenaran, memulihkan korban dan memenjarakan penjahat kemanusiaan. Mereka perlu menunggu pergantian rejim berkali-kali untuk merealisasikan mimpi membenamkan impunitas dan mengekalkan memori. Yang dibutuhkan, kesabaran, keuletan, kegigihan, dan untuk terus berjuang. Bukankah “the struggle we lose is the struggle we abandon!”, demikian kata kawan kami Patricia Isasa dari Argentina berbagi resep.

G O L P U T

ilustrasi

Aku sih orangnya simple dan gak beperan. 
Tujuan hidup jelas ada. 
Tujuanku pas tanggal 17 April 2019 pun ada. 
Ya ke TPS lah. 
Pemilu bagiku bukan lagi soal HAK dan KEWAJIBAN. 
Tapi itu adalah kebutuhan. 
Aku butuh pemimpin yang menurutku bisa kupercaya untuk memenuhi hakku sebagai rakyat, sebagai warga negara di Republik ini.

Golput Hambat Calon Pemimpin Baik Memimpin

ilustrasi

Jadi jika sang pemenang adalah pilihan kami atau pilihan lawan kami, itu adalah berkat suara kami atau mereka. Jika pilihan kami ternyata salah, itu urusan kami. Jika pilihan mereka yang salah, itu urusan mereka. Suka atau tak suka terhadap sang pemenang, kau berandil menyebabkannya, melalui abstainmu.

Jangan Golput

Ilustrasi
Kita butuh pemimpin yang benar-benar punya hati untuk membangun masyarakat yang damai dan sejahtera. Jadi pilihan Jokowi terhadap Kyai Ma'ruf Amin, dan bukan Mahfud MD, mungkin menimbulkan kekecewaan, tetapi kepentingan negara harus diletakkan di atas kekecewaan pribadi dan solidaritas dengan Pak Mahfud. Ada posisi lain yang juga strategis yang bisa diberikan untuk Pak Mahfud sesuai dengan kapasitasnya, ketika Jokowi terpilih sebagai Presiden. 
 

Saat JKT 58 Meratapi Salah Pilih Gubernur

Ilustrasi

Mereka mudah saja dijanjikan untuk tidak digusur. Yang di pinggir kali sempit selebar 2 meter. Yang tanggulnya hanya diperbaiki tanpa memperbaiki problem utama (kali yang sempit). Lalu jebol lagi

Mereka mudah saja dijanjikan punya rumah dengan DP NOL-NOL-an. Padahal mereka bahkan mustahil memiliki rumah itu karena penghasilan yang minim.

Medan Debat yang Cocok untuk Anies

Jika Anies memaksakan ikut debat, bukannya akan menambah dukungan, tapi malah akan menggerogoti 39 % suaranya, karena dengan situasi kondusif sekarang ini setelah badai 7 juta manusia, maka setiap orang dapat dengan mudah menalar semua program Pasangan Calon Gubernur. Kecuali mereka yang pekok awet

Mungkin 4 kategori pemilih ini sebagai medan perjuangan Anies dan cheerleadernya

Pages