Pekerjaan

Gen 4.0, Kerja Remote dan Milenial

Ilustrasi

Tahun lalu anak saya yang berumur 6 tahun bahkan bertanya pada saya.

"Ayah, gimana cara bikin live streaming game dari hp, aya mau jadi Yutuber." Ujar dia, dan sekarang, jumlah subscriber channel youtube dia lebih banyak dari saya dengan konten bertema game anak, kegiatan harian dia, unboxing majalah bobo, sampai kegiatan molor ayahnya

Saat Tukang Ojeg Tertawakan Indonesia

Ilustrasi

Anehnya lagi kalau yang demo ini pengangguran, minta pemerintah buka lapangan keja baru dan-lain-lain, tapi orangnya nggak mau usaha. Bilang Indonesia dikuasai asing, tapi dia sendiri beli produk buatan asing. "Aneh kan mbak?" 
.
Ya, begitulah badut-badut negeri ini. Kadang kita juga butuh peran mereka supaya hidup nggak spaneng terus. Ngomong dulu, aksi dulu, mikir belakangan. "Pokoknya aku benar!"

Generalisasi Keliru Tentang Ojol

Ilustrasi

Di Jogja saya pernah disopiri seorang anak muda mantan karyawan Bank Mandiri. Dia cerita, resign dari Bank karena bisa kerja lebih fleksibel, dengan hasil yang tidak kalah dengan ketika kerja di Bank. Rupanya selain menjadi driver Grab, ia juga nyambi sebagai makelar properti, dan sering diminta oleh partnernya untuk mengantarkan calon pembeli melihat properti yang hendak dijual.

Kebaikan Istri Ahok Tak Berhenti Meski Bukan Istri Gubernur

Ilustrasi

Beliau sering menanyakan kabar bayi saya setelah tahu ia sempat masuk NICU, sama sekali tidak bahas soal kerjaan. Beliau membuka pendidikan lanjut dan karir bagi saya, padahal sama sekali tidak kenal sebelumnya dan saya bukan anak orang penting.

Tips Tetap Cinta Pekerjaan yang Picu Stres Berkepanjangan

REDAKSIINDONESIA - Waktu kerja normal dan seimbang adalah delapan jam dalam sehari, selama 5 atau 6 hari, dan 12 hari jatah cuti tahunan. Lalu, bagaimana ketika pekerjaan sudah mengonsumsi seluruh waktu serta ruang berpikir, sehingga Anda merasa begitu letih dan stres yang berkelanjutan? Rasanya, sebesar-besarnya rasa cinta Anda pada pekerjaan, ketika hal itu sudah membuat Anda depresi dan tak bahagia, patutkah untuk terus dipertahankan dan dibangga-banggakan?

Pages