NKRI

Bela Rasa

Ilustrasi

Maka kita mendapat bukti tak terbantah: kemanusiaan cuma taik ledik. Moral dan belarasa hanya kosmetika peradaban. Agama dan spiritualitas terasa sebagai gincu murahan. Kita, termasuk saya, cuma bersedia menanggung derita dan nyeri anak-anak kita, tapi bukan tetangga kita, apalagi duaratusan manusia tak dikenal.

Saat Ini Banser Pasang Badan Demi NKRI Lawan HTI

Ilustrasi

Kedua adalah kelompok politik yang tidak searah dengan dukungan politik NU pd Pilpres 2019. Meskipun NU mendeklarasikan diri sebagai ormas Islam yang berposisi netral, namun siapa yang tidak mengasosiasikan KH. Ma’ruf Amin sebagai simbol atau sosok tokoh NU. Kelompok ini sebenarnya hanya “pembonceng” saja. Mereka tidak peduli dgn HTI atau apapun. Isu yg mereka angkat adalah bahwa saya atau kami tidak mengenal HTI, yang kami tau ketika kalimat Tauhid dibakar, maka kami marah.

"Membakar" Banser, "Menghanguskan" NU dan "Melenyapkan" NKRI

Ilustrasi

Jadi mengapa sekelompok kecil masyarakat yang marah pada tindakan Banser itu siapa? Merekalah yang ingin mengganti NKRI dengan khilafah. Selama ini niatan mereka selalu dihalangi oleh NU dan konsisten berdiri terdepan menjaga NKRI. Berbeda dengan Ormas lain, NU satu sikap soal NKRI bahkan dalam setiap khotbah, ceramah atau pengajian NU selalu ditekankan mengenai hal ini. Mengapa NU getol menjaga NKRI?

Banser Siap Mati Jaga NKRI

Ilustrasi

BANSER bukan ornamen alat politik partai, bukan milik perorangan ataupun bisa diklaim kepemilikannya oleh tokoh masyarakat tertentu. Pasukan berani mati itu adalah milik seluruh Kiyai dan para Santri NU se-Indonesia. Yang kemudian jiwa dan raga militan BANSER dihibahkan oleh para Ulama NU untuk menjaga kedaulatan bangsa, hingga titik darah penghabisan.

Merah Putih, Kau Bagian Tauhidku

Ilustrasi

Jika kalian bertanya, bukankah Syahadat sebagai Ikrar dan Kesaksian Ketauhidanku? Kapan aku menyaksikan Allah dan kapan pula menyaksikan Muhammad?

Lihatlah ke dalam dirimu sebagaimana aku menyaksikan di dalam diriku. Bahwa ada Allah di dalam Jiwa dan Ruhku. Juga ada Muhammad di dalam ragaku!

Begitupun jika aku melihat dan memandang keluar. Ada Sang Merah Putih! Ia juga bisa menjadi simbol dan bagian dari Tauhidku!

Allahu Akbar!
Merdeka!
Merdeka!
Merdeka!

Jangan Golput

Ilustrasi
Kita butuh pemimpin yang benar-benar punya hati untuk membangun masyarakat yang damai dan sejahtera. Jadi pilihan Jokowi terhadap Kyai Ma'ruf Amin, dan bukan Mahfud MD, mungkin menimbulkan kekecewaan, tetapi kepentingan negara harus diletakkan di atas kekecewaan pribadi dan solidaritas dengan Pak Mahfud. Ada posisi lain yang juga strategis yang bisa diberikan untuk Pak Mahfud sesuai dengan kapasitasnya, ketika Jokowi terpilih sebagai Presiden. 
 

Alien VS Predator, whoever Win We Lose

Ilustrasi

Saya juga tetap memilih Anda Pak Jokowi, karena alasan kedua, saya masih bertaruh (walau sedikit) pada “marjinal improvement”, kebaikan-kebaikan (marginal) yang bisa dilakukan, seperti infrastruktur, membangun dari pinggir, reform tata niaga dll. Meletakkan orang yang tepat pada tempatnya.

NU Mendapat Tempat Di Jaman Jokowi

Ilustrasi

Lambemu itu yang sekterian. Lha wong Indonesia itu 100 % muslim. Lebaran ya pada lebaran, halal-bi halal barengan. Non Muslim itu kalau bilang Assalamuaikum, Insya Allah dsb lebih fasih dari pada antum.

Tapi yaitu, tempat ibadahnya beda-beda. Ada yang ke Mesjid-Gereja-Wihara dsb, tergantung janjian sama Tuhannya di mana.

Pages