Natal

Natal.. Sekali Lagi

Pagi ini saya jadi yang pertama bangun. Semua masih tidur, entah jam berapa mereka lelap tadi malam. Tubuh saya mengigil. "Kebaikanmu memijat aku lenyap sekejap oleh kelalaianmu membiarkan aku tak berselimut. Film-film Hollywood bertebaran di sekitar kita untuk memberi inspirasi: selimuti tubuh kekasihmu. Buatmu mereka cuma dongeng."

Muna menggeram dan membalikkan badan, menganggap saya sedang kumur-kumur pagi.

Mensyukuri Natal

Ilustrasi

Kita harus memahami bahwa umat agama Kristen, Katholik, dll, termasuk yang berbeda aliran, bahkan yang tidak beragama sekalipun adalah saudara, selama kita masih komitmen pada Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan Bhinneka Tunggal Ika. Dalam momen perayaan Natal ini, mari kita jadikan ajang untuk memperkuat persatuan sebagai sesama warga bangsa.

Coklat Kapir

Ilustrasi

Apalagi distributor bahan baku coklat buat dia dagang itu, cabang regional ada di Singapur dan di Indonesia dipegang sama orang kapir cinak. Sedangkan kantor pusatnya di Belgia dan Rotterdam yang ngolah bijik coklat dari Sulawesi kemudian dijual lagi ke dia. Di jajaran manajemen, banyak orang Yahudinya. Jadi tidak hanya mereka kapir tapi juga wahyudi dan kumpeni penindas pribumi.

Sentimen Agama dan Pembunuhan Nalar

Ilustrasi

Contohnya adalah teks viral ini. Begitu orang membaca judul "Kyiai dan Pendeta", maka sentimen Islam Kristen langsung on. Nalar pun auto-switch off. Sudah, Anda tidak perlu pakai nalar untuk membaca pesannya. Di akhir teks, Anda setuju. Bahkan, lebih dari itu, Anda ikut menyebarkannya, mungkin. Anda merasa dengan begitu Anda sudah menjadi Muslim yang saleh dan ikut menyelamatkan umat dari pesta sesat tahun baru.

Jangan Campurkan Aqidah dan Muamalah

Ilustrasi

Nasehat guru kembali terngiang malam ini. Yah, sahabatku kita berbeda tapi kita bekerjasama, nasehat leluhur Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa ( kita memang berbeda tetapi kita satu, karena kebenaran tidak pernah mendua).

Tuhan bisa saja membuat kita sama, tetapi Tuhan memilih kita berbeda. Lantas, apakah Kebenaran yang menyatukan itu?

Pages