Natal

Damai Natal di Indonesia

Ilustrasi

Tapi mengilas ingatan masa kecil saya, sebagai yang biasa didapuk jadi pemeran Bunda Maria kecil, mencecap Natal sebagai simbol dua hal: kesederhanaan dan kembali ke esensi. Orangtua, yang ingin seorang bayi lahir dengan selamat, tidak melihat kandang domba sebagai simbol kerendahan, yang penting si bayi lahir dengan sehat. Raja-raja yang turun dari kuda-kuda mewah mereka, melepaskan seluruh protokol kemewahan, merunduk masuk ke kandang domba menjadi manusia yang menghikmati sebuah proses kelahiran.

Natal dan Spirit Gus Dur

 

Berbeda dengan kematian Yesus yang memunculkan ketegangan imani antara Kristen dan Islam, dua agama ini cukup mesra menyikapi kabar kelahiran Yesus (Isa). Alqur’an yang turun sekitar 600an tahun pasca Yesus, bahkan cukup informatif mengabarkan berita natal ini. Jika mau jujur, Yesus merupakan satu-satunya rasul yang kelahirannya mendapat liputan qur’ani melebihi yang lain. Kelahirannya mendapat ucapan khusus dari Allah. Melalu Qur’an surat Maryam:33 tuhan menceritakan pengkabaran ini.

Natal dan Hadist Tasyabbuh

Oleh : Akhmad Sahal

Ada satu hadis yang belakangan kerap dikutip sekalangan muslim sebagai dalil untuk mengharamkan orang Islam memakai topi Santa Claus. Hadis yang lazim disebut hadis tasyabbuh (penyerupaan) itu berbunyi: “Barang siapa menyerupai suatu kaum, ia termasuk kaum itu.” Bagi mereka, pakaian santa adalah bagian dari ikon Natal yang khas Kristen. Karena itu, mengenakan topi santa bagi muslim adalah tindakan menyerupai kaum Kristen, yang dilarang oleh Nabi.

MUI, Fatwa dan Kesalahan Fatwa

REDAKSIINDONESIA-Baru-baru ini Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa yang tidak perlu dan salah. Fatwa atau petuah itu berjudul “hukum menggunakan atribut keagamaan non-Muslim.” Fatwa ini menggunakan definisi yang luas dan serba mencakup. Atribut keagamaan adalah “sesuatu yang dipakai dan digunakan sebagai identitas, ciri khas atau tanda tertentu dari suatu agama dan/atau umat beragama tertentu, baik terkait dengan keyakinan, ritual ibadah, maupun tradisi dari agama tertentu.”

Fatwa Natal

Oleh : Sumanto Al Qurtuby

Setiap menjelang Natal kok mesti ribut dan sibuk soal "fatwa Natal" sampai bosan aku mengomentari. Begini, terhadap fatwa sejumlah ulama dan institusi Islam seperti MUI yang mengharamkan mengucapkan selamat Natal itu harus disikapi dengan santai dan biasa-biasa saja. Tidak perlu overdosis dalam bersikap. Tidak perlu reaksioner, dan tidak perlu "lebay-njeblay".

Hikmah Natal dan Revolusi Mental

 

Oleh: Mgr. Yustinus Harjosusanto MSF,

Uskup Tanjung Selo

Catatan lawas ini masih sangat relevan dengan kondisi kekinian di tanah air. Demikian pula bertepatan dengan tema Natal 2015 yang telah ditetapkan bersama oleh Persatuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) dan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), yaitu “Hidup Bersama Sebagai Keluarga Allah.”

Pages