Mustofa Nahra

Bubur Lemon

ilustrasi

Pembatasan akses medsos nampaknya dimanfaatkan untuk memantau pergerakan orang-orang jahad tapi ngaku jihad dan juga penyebar hoax serta ujaran kebencian. Polisi dengan mudah menemukan mereka yang sok jagoan itu di tengah jalan medsos sedang sepi lengang.

Ibarat makan bubur, polisi menangkap penyebar hoax mulai dari pinggir --- menangkap pembuat dan penyebar hoax kelas teri -- kemudian sedikit ketengah.

Mentarget mereka yang berlagak jagoan dan merasa dirinya tidak bakal ditangkap meski berulang kali berulah

Disitu Tofa lemon kena..

Akhirnya Si "Musnah" Makan Hoax Buatannya Sendiri Di Penjara

ilustrasi

Saya yakin semua orang yang berakal sehat dan waras di negeri ini dengan suka cita menyambut gembira penangkapan MUSNAH yang saat ini menjadi kolektor penyakit asam urat, diabetes dan hipertensi. Apalagi Bareskrim Polri serta merta menetapkan manusia ini sebagai tersangka. Meskipun posisi si MUSNAH ini hanya kroco kelas menengah di kubu Prabowo tapi langkah "schock therapy" dari Polri ini patut kita berikan apresiasi yang tinggi.

Surat Untuk Mbak Cathy, Istri Mustofa Nahra

ilustrasi

Ketika Saudara Jonru Ginting divonis bersalah, saya membuat tulisan, bahwa sejatinya Jonru kehilangan kemerdekaannya sejak ia dibanjiri follower yang sangat banyak. Saya rasa waktu itu belum ada netizen yang bukan tokoh publik, bisa mendapat follower hingga 1.5 juta. Namun justru banyaknya follower ini membuatnya terpenjara.

Mustofa Dijemput Polisi di Rumahnya

Seperti yang sudah-sudah, postingan ini kemudian sempat diralat Tofa untuk menghilangkan jejak. 

Namun terlambat, ribuan orang mempercayai hoax tersebut dan ikut-ikutan menyebarkannya, termasuk salah satu penulis novel kurang ternama, yang juga kader underbouw PKS, Asmanadia.

Niat busuk penyebaran hoax masif ini diduga kuat adalah untuk memprovokasi dan menanamkan kebencian di masyarakat untuk membenci polisi.

Mustofa Nahra Lagi-Lagi Fitnah Kyai NU

ilustrasi

Kedua orang ini sadar atas apa yang mereka lakukan, tapi mereka sudah terbiasa melawan nuraninya memilih berbicara bohong, dan memutarbalikan fakta, karena dengan dusta yang mereka sebar mereka tahu akan mendapat semakin banyak panggung, pada akhirnya juga meningkatkan pendapatan dan menaikan taraf kesejahteraan.

Pages