medsos

Pemblokiran Medsos dan Tingginya Penyebaran Lone Wolf di Indonesia

Bagaimana Dian sampai terjebak dalam jaringan teror? Itu semua berkat internet melalui jaringan sosial. Baik Dian maupun orang yang menghubunginya dan memprovokasi dan juga orang yang menjadi “suaminya” adalah bukan bagian dari organisasi teroris sesungguhnya atau mereka disebut leaderless. Tapi orang yang terjaring menjadi agent independent dan berlaku seperti Lone Wolf. Apa itu Lone wolf ? aksi perorangan yang terpapar ideologi radikal. Mereka umumnya berangkat dari pemahaman agama yang dangkal.

Rumah

 

Suatu ketika, aku diutus ibu untuk mengunjungi salah seorang di desa yang jauh. Tipikal rumah desa yang ruang tamunya masih jadi satu dengan hewan ternak mereka. Aku berkunjung tanpa membawa buah tangan apapun. Tetapi, ketika pulang, mereka memaksaku membawa hasil panen dan macam-macam keripik.

"Pakde, ini kan kalau ditotal harganya mahal."

Puasa Medsos, Rasain Lo!

Dia juga diam saja ketika selebaran berbau rasis melebar kemana-mana. Anies pun cuek ketika Tamasya Al Maidah yang bergaya provokatif dan intimidatif itu dilakukan. Bahkan Anies sering menggunakan masjid untuk kampanye terselubung. Padahal dia tahu, UU melarang menjadikan tempat ibadah sebagai sarana kampanye.

Kenapa dilarang? Karena akal sehat kita mengatakan, menjadikan ibadah sebagai sarana kampanye politik, apalagi berbentuk provokatif, akan meninggalkan luka dan konflik dalam diri umat.

Fenomena Hater di Jagat Medsos

1. Sabar menanti kabar buruk yang menimpa orang yang dibenci (patient hater/ pembenci sabar menanti...sabar menanti??? koyo warung bakmi etan bangjo purwosari wae... 
2. Berharap orang yang dibenci membuat kesalahan fatal sehingga ada momen untuk menjatuhkan
3. Dengan senang hati menyebarkan kesalahan orang yang dibenci
4. Senang dan antusias bergunjing dengan sesama pembenci (true hater/ pembenci sejati...dadi kelingan apotek jaman awal-awal praktek...Apotek Sehat Sejati... 

Media Sosial dalam Demokrasi

Apakah dinamika seperti ini kontraproduktif? Iya hingga titik tertentu, tapi itulah ongkos demokrasi. Berbagai kelompok muslim anti NKRI bermain intensif. Betapapun mereka menolak disebut demikian, mindset itu tidak bisa disembunyikan. Demokrasi memang memberi ruang bagi siapa saja untuk berpartisipasi, termasuk golongan anti demokrasi, dan disini terkandung persoalan.

Ketika Medsos Mengungkap Siapa Kamu Sebenarnya

Oleh: Denny Siregar
 

"Hati-hati dengan apa yang kamu pikirkan sekarang.."

Begitu kata temanku seorang manager HRD di sebuah perusahaan besar menceritakan rahasia bagaimana ia mengurus penerimaan pegawai.

"Sebuah perusahaan besar, seperti perusahaan tempatku bekerja, tidak bisa main2 dalam menerima seorang pegawai baru. Banyak kriteria yang harus kami ambil dari seseorang yang ingin menjadi bagian dari keluarga besar."

Pakar Dadakan di Republik Medsos

Oleh : Yusran Darmawan

Salah satu fenomena media sosial di Indonesia adalah kemunculan banyak pakar dadakan. Saat kinerja ekonomi Jakarta dibahas, semuanya jadi pakar ekonomi. Tiba-tiba saja semua paham istilah2 seperti penyerapan anggaran dan pengawasan kinerja. Saat ada isu reshuffle kabinet, semua orang jadi pakar politik. Semuanya jadi jago membahas tentang perimbangan kekuatan, serta membahas lemahnya kekuasaan eksekutif.

Dari mana sumber informasinya? Dari media abal-abal dan satu atau dua paragraf yang disebar melalui Whatsapp.

Tabayun di Era Medsos

Oleh: Nadirsyah Hosen
 

Jika di kerumunan pasar tiba-tiba ada yang berteriak "Coppeetttt" sambil menunjuk ke anda, bisa dibayangkan apa yang akan terjadi, Kerumunan akan serentak menghakimi anda, tanpa sempat lagi melakukan verifikasi: benarkan anda copetnya? atau yang lebih krusial lagi, benarkah dompet ibu di sebelah anda itu hilang karena dicopet atau ibu tersebut ketinggalan dompetnya di rumah.

Pages