Mahar

Terima Mahar Rp 1 T, PAN dan PKS Membisu

Ilustrasi

Negara ini didirikan untuk mensejahterakan rakyatnya sebagaimana termaktub dalam pembukaan UUD 45. Namun jika cara meraihnya dilakukan dengan cara-cara kotor, semestinya itu masuk dalam pidana yang berat. KPK, Polri, Kejaksaan tidak boleh diam, mereka harus mendalami informasi ini dan jika hasilnya sudah diperoleh KPU berhak memberi sanksi. Baik kepada pemberi mahar maupun parpol secara institusi mestinya dilarang ikut Pemilu.

Cukup 1T Bisa Beli Cawapres

Praktek sogok menyogok dalam dunia politik yang konon dilakukan sembunyi-sembunyi kini sangat jelas di depan mata. Tak tahu malu, bukan hanya si penyogok, yang disogokpun pura-pura begok berlagak tak tahu menahu.

Bagi orang kecil, duit "dalam kardus" berisi 1 triliyun mungkin susah dibayangkan. Berapa "kardus" yang bakal buat bungkus pun tak terpikirkan. Bagi Wong cilik, makan satu kali di warung angkringan habis kurang lebih 10 ribu rupiah udah kenyang. Bayangkan aja jika kamu makan di warung tersebut sebanyak 100 juta kali. Tak perlu kerja, sampai mati pun duit itu bakal sisa.

Mahar Sandiaga Rp 1 T, Setara BOS 1 Juta Lebih Siswa Setahun

Ilustrasi

Sandiaga Uno juga telah mengakui adanya pemberian mahar itu. Hal tersebut disampaikan Sandi pada beberapa media dengan alasan “biaya kampanye”. Biaya kampanye 1 parpol mencapai Rp 500 M? Padahal PAN dan PKS di jagat perpolitikan kita hanya parpol medioker, parpol yang terancam terkena parliamentary threshold alias jumlah suara tidak mencapai 8 persen.

Menyetop Mahar Politik

Ilustrasi

Melihat kenyataan praktek politik menjelang Pilkada yang sedemikian kotor ini saya jadi berpikir keras bagaimana caranya ke depan bangsa ini keluar dari praktek-praktek politik transaksional seperti ini.

Lalu sayapun kemudian menemukan jawabannya, bahwa seharusnya biaya kampanye Pilkada tak seharusnya dibebankan pada sang calon melainkan pada partai pengusungnya.

Mahar Politik dan Tekad Juang

Ilustrasi

Tulisan saya di TS Facebook saya itu seminggu setelahnya saya hapus, karena saya khawatir menimbulkan kesalahfahaman di antara sahabat-sahabat politisi terdekat saya, yang selama ini menjalin komunikasi yang baik dengan saya. Tetapi diluar dugaan beberapa minggu kemudian atau saat-saat ini mledak kasus Mahar Politik yang tersebar kemana-mana. Saya bukanlah yang melakukannya, tapi rupanya semesta merespon kegeraman jiwa saya.

Terima Kasih untuk Para Cukong Penyedia Mahar Pilkada

 

Semua hal itu tidak kasad mata, tidak terlihat. Publik hanya bisa melihat apa yg tampak di permukaan. Apalagi tentang keberadaan "Mahar politik" itu benar benar sulit dibuktikan. Juga tidak akan diakui oleh pelaku pelakunya. Tapi berdasar korban, terutama yg gagal, mereka membenarkan adanya "mahar" tersebut. Uang puluhan hingga ratusan milyar itu bukan selalu dari pribadi uang calon, tapi biasanya yg menyediakan dana untuk mahar politik tersebut adalah cukong atau bohir yg berkepentingan langsung dg kebijakan sang pejabat nantinya.

Pages