Mahar

Menyetop Mahar Politik

Ilustrasi

Melihat kenyataan praktek politik menjelang Pilkada yang sedemikian kotor ini saya jadi berpikir keras bagaimana caranya ke depan bangsa ini keluar dari praktek-praktek politik transaksional seperti ini.

Lalu sayapun kemudian menemukan jawabannya, bahwa seharusnya biaya kampanye Pilkada tak seharusnya dibebankan pada sang calon melainkan pada partai pengusungnya.

Mahar Politik dan Tekad Juang

Ilustrasi

Tulisan saya di TS Facebook saya itu seminggu setelahnya saya hapus, karena saya khawatir menimbulkan kesalahfahaman di antara sahabat-sahabat politisi terdekat saya, yang selama ini menjalin komunikasi yang baik dengan saya. Tetapi diluar dugaan beberapa minggu kemudian atau saat-saat ini mledak kasus Mahar Politik yang tersebar kemana-mana. Saya bukanlah yang melakukannya, tapi rupanya semesta merespon kegeraman jiwa saya.

Terima Kasih untuk Para Cukong Penyedia Mahar Pilkada

 

Semua hal itu tidak kasad mata, tidak terlihat. Publik hanya bisa melihat apa yg tampak di permukaan. Apalagi tentang keberadaan "Mahar politik" itu benar benar sulit dibuktikan. Juga tidak akan diakui oleh pelaku pelakunya. Tapi berdasar korban, terutama yg gagal, mereka membenarkan adanya "mahar" tersebut. Uang puluhan hingga ratusan milyar itu bukan selalu dari pribadi uang calon, tapi biasanya yg menyediakan dana untuk mahar politik tersebut adalah cukong atau bohir yg berkepentingan langsung dg kebijakan sang pejabat nantinya.

Jika La Nyalla Bisa Bayar Mahar

Ilustrasi

Kebetulan saja La Nyalla kere sehingga tdk d lirik Prabowo, kebetulan saja La Nyalla tak sanggup bayar mahar, maka semua ini bisa terjadi. Bila La Nyalla bermodal sebesar Sandiaga, bila La Nyalla mendapat diskon mahar, mungkin protes seperti ini tidak akan d ketahui publik. La Nyalla akan tetap maju d pilgub Jatim dengan d usung Gerindra.

Nyala Seorang La Nyalla

Ilustrasi

Si Kotot bilang ulama mereka mengatakan titik fokus pemenangan dengan kopi paste skenario tumbangnya Ahok adalah di lima daerah, termasuk Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Sumatra Utara. Dia juga bilang hanya karena 212 berkontribusi banyak kepada Gerindra, Pilkada Jakarta bisa dimenangkan. Jadi penolakan Gerindra adalah penghianatan.

Pages