LRT

Merefleksi Cara Membangun Indonesia Ala Jokowi

ilustrasi

Masak masih percaya mereka saudara tua? Saudara tiri yang kejam mungkin iya dan para pejabat kita dulu-dulu suka sama saudara tiri. Bahkan ketika ada yang ingin bikin mobil nasional justru dibully, bukannya disupport. Itulah khas watak kita.(padahal sekarang sedang berproduksi di daerah Boyolali,

Kampungan

ilustrasi

Jika ada tetangga yang masuk rumah sakit, atau ada kabar Bapak Anu sudah sakit selama seminggu, kuping langsung gatal mendengar kabar itu dan segera membawa buah, amplop, atau hasil bumi dan langsung menjenguk. Ketemu mereka, kami mendoakan, dan memotivasi agar tegar: "InsyaAllah lekas sembuh, njih, Pak."

Beranikah Anies Putuskan Policy MRT Tahap 2?

ilustrasi

Panjang jalur LRT milik Pemprov harus dikejar, karena warga pasti butuh efisiensi. Kalo dr Velodrome bisa lurus ke Pramuka, lalu masuk jalan Tambak, Manggarai, Pasar Rumput lalu Dukuh Atas, wah udah keren banget.

Proyek LRT milik pusat sendiri nanti akan berfokus mengejar jalur Kuningan-Senayan-Palmerah dan Kuningan-Grogol.

Tentang MRT, Kenapa Harus Bangga Pada Jokowi Bukan SBY Atau Soeharto?

ilustrasi

Generasi mendatang mungkin saja penasaran. Ternyata justru wong ndeso yang bisa membuat MRT terwujud. Mengapa pada saat yang katanya situasi ribut terus, banyak demo membully pemerintah, pengangguran tinggi, ekonomi buruk , pemerintah justru sukses membangun jalan tol, jalan raya, bandara, bendungan, rel kereta, MRT, LRT dan pembangkit listrik?

Kata orang, dia hanya meneruskan. Apakah betul?

Membantah Tuduhan Prabowo Soal Mark Up Biaya Pembangunan LRT

Ilustrasi

Ditegaskan pada artikel tersebut bahwa belajar dari pengalaman Eropa dan USA, maka biaya pembangunan sistem transportasi kota (semisal LRT atau MRT) biayanya berkisar USD 50 juta - 150 juta per Km. Penulis memberikan kisaran angka tsb karena di setiap daerah berbeda tergantung banyak faktor baik di atas tanah maupun di bawah tanah serta faktor lingkungan hidup.

Tukang Nyinyir, Kalian Menghina Mereka

Ilustrasi

Sebagian kawan2 itu bahkan bukan pemilih Presiden Jokowi. Mereka orang2 profesional yang menahan diri tak berkomentar nyinyir dan miring kepada Presiden di medsos, karena sadar periuk nasi mereka ya di profesionalitas mereka. Tentu mereka kecewa kerja keras mereka dilecehkan atau direndahkan oleh hoaks yang sengaja disebarkan

Pages