Kyai

Melampaui Politik

ilustrasi

Tetapi Jokowi tetaplah Jokowi. Dia tidak peduli apakah cium tangannya kepada orang yang lebih sepuh atau langkah kakinya untuk menjenguk orang yang sedang sakit berdampak secara politis atau tidak. Barangkali dia berpikir kalau berdampak ya alhamdulillah, tetapi kalau pun tidak ya tetap alhamdulillah. Tidak ada yang dirugikan dengan membuat orang lain senang, bukan?

KH Ma'ruf Amien Pelindung Kaum Minoritas

Ilustrasi

Pada saat itu, rumah KH Ma'ruf menjadi tempat perlindungan warga Tionghoa yang ketakutan akibat penjarahan. Saya ingat betul bahwa saya tinggal di rumah tersebut tiga hari lamanya. Kami semua diberi makan-minum secara cuma-cuma oleh beliau. Kala itu ibu (istri) KH Ma'ruf masih hidup. Saya ingat 'para pengungsi' yang menginap di rumah beliau dikasih makan dengan lauk telur.

Tragedi Keset, Ceramah Provokatif

Ilustrasi

Isi kajiannya menggiring opini, sarat fitnah, sebar hoaks, menakut-namkuti umat dan yang paling menyebalkan adalah sikap merasa jadi tuhan karena tidak pernah merasa keliru.

Yang ikut disitu hatinya makin kotor. Semakin lama ikutan malah semakin kotor. Boro-boro nambah ilmu, yang ada nambah berat timbangan dosa.

Mempertanyakan Kapasitas Tengku Zulkarnain Sebagai Ulama

Ilustrasi

Bagi saya seorang Tengku Zulkarnain hanya kerikil kecil yang nyelonong di kepengurusan MUI. Dia bukan batu sandungan besar. Karena kapasitas personalnya juga tidak pantas dikategorikan sebagai batu besar. Dia hanya kerikil kecil yang nyelip di sepatu perjalanan bangsa ini. Namanya kerikil meskipun kecil tak berarti terkadang mengganggu juga. Selayaknya kerikil kecil ini di tempatkan pada tempat yang seharusnya. Daripada mengganggu perjalanan kita sebagai sebuah bangsa.

Mencontoh Perilaku Kyai Papua

Ilustrasi

Sebagian penceramah ada yang keras nadanya, keras isinya. Menghujat, menakut-nakuti, teriak, mengajarkan benci, main hakim sendiri. Sedihnya, yang begini malah punya nama, jadi idola. Diundang ke mana-mana. Tua muda terpesona. Takbir dan jihad berkobar. Padahal itu emosi yang diumbar, menyebar gusar. Jemaah pulang mungkin senang, tapi bukan dengan hati tenang.

Sekelompok Manusia Murahan

Ilustrasi

Bayangkan! Mereka yang hanya belajar sesaat dari buku-buku yang tak jelas sanadnya, memperdalam ilmu dari Yutub sambil mengunyah cemilan di atas dipan, membaca tulisan di google atau yang terpampang di dunia maya, dengan sebegitu mudahnya menjelek-jelekkan Ulama kita! Baca Qur'an saja belepotan, kok sebegitu pedenya mengumpat Ulama kita yang dari kecil nglesot di teras Kiyai untuk mengaji.

Soal Dakwah Serahkan Pada Ahlinya

Ilustrasi

Berdiri sendiri, menjelajah dan melobi para penulis sejati demi mengimbangi gerak para aktor pembodohan yang semakin tak bisa didiamkan!

Kawan, jangan menunggu komando dalam perang non fisik ini. Biarlah para Yai dan Gus itu tampil sebagai insan mulia. Kita rakyat jelatanya tak boleh membebani beliau-beliau dalam kancah perang medsos yang penuh dengan kata nanah busuk dan kalimat darah amis yang membuat otak jongkok.

Jenis Ulama

Ilustrasi

"Wah! kalau begitu Habib Bahar Smith dan Gus Nur Sugik itu ULAMA UNGGUL ya Pak Ustadz? Sudah pinter ceramah, pengikutnya banyak, paham Ilmu Politik bahkan Ilmu Biologi. Dan kalau lagi ceramah, para pendengarnya bisa semacam kena "Sembur". Kadang ya dipisuhi, kadang ya dimarahi. Apakah beliau berdua bisa dikatakan sebagai ULAMA SEMBUR PECATUR DAN TANDUR SEKALIGUS AHLI TUTUR YANG UNGGUL. Betul kan Pak Ustadz?"

Pages