Komunis

Komunisme di Arab dan Timur Tengah

 

Palestina, Mesir, Libanon, Yordania, Irak, Iran, Suriah, Aljazair, Maroko, dlsb, dulu pernah menjadi "sarang komunis". Bahkan komunisme juga pernah tumbuh dan berkembang di Arab Saudi (lihat studi Toby Matthiesen, "The Other Saudis"). Pendukung komunisme di Timur Tengah berasal dari berbagai agama dan etnis: Muslim, Yahudi, Kristen, Arab, Kurdi, Persi, Azeri, Armenia, dlsb.

Mencari Hantu yang Bernama Komunis

 

 

Dan disinilah kita sekarang, penganut ekonomi kapitalis dimana 1 persen rakyat bisa menguasai 50 persen asset di Indonesia. .

Kebangkitan ekonomi China dan gagalnya sistem ekonomi AS - karena kapitalisme memunculkan banyak kumpulan manusia serakah - membuat Jokowi mengarahkan pandangan ekonomi ke Timur, Rusia dan - terutama - China.

Ini murni pandangan ekonomi, bukan ideologi negara. Tetapi ada yang mencoba membangkitkan isu komunisme dan membandingkannya dengan Pancasila. Ini tentu tidak equil to equil - kata tetangga sebelah.

Lebih Asyik Bicarakan Mantan Daripada PKI

Ilustrasi

Oleh Ryo Kusumo

“Sejarah ditulis oleh Pemenang”

Itulah yang terjadi di Indonesia ketika kami-kami ini yang dulu masih duduk manis di sekolah dasar, harus bersiap sambil bawa cemilan untuk bergadang malam setiap tanggal 30 September tiba, itulah previlege kami sebagai anak kecil, yang dilarang keras nonton "adegan berdarah" oleh bapak ibu kami, bahkan film Barry Prima sekalipun. Tapi soal film G30S, justru kami di wajibkan memelototi satu persatu pisau "gerwani" dalam mengiris para Jenderal yang ditangkap. Ah, adegan berdarah yang mengasyikan dulu.

Islamis, Bukan Komunis

Oleh: Sumanto Al Qurtuby
 

Saya heran kenapa sejumlah aparat keamanan, pemerintah, tokoh agama dan masyarakat, partai politik, dan ormas Islam di Indonesia begitu bergemuruh memburu kaum komunis yang sudah “mati suri” sementara membiarkan “kaum Islamis” yang terang-benderang bergentayangan dimana-mana. Dalam konteks negara-bangsa Indonesia dewasa ini, kelompok Islamis-lah yang justru jauh lebih berbahaya bagi fondasi kenegaraan dan kebangsaan kita, bukan “hantu” komunis yang sudah lama terkubur.

Surat untuk Felix Siauw

Oleh: Nophie Kurniawati
 

Hallo Ustad Felix. Anda mungkin seorang ustad, saya hanya seorang muslim biasa. Jadi pengetahuan agama anda mungkin jauh lebih baik dari saya. Tapi ijinkan saya juga berbagi "kegelisahan" seperti anda.

To the point saja ya.

Islam itu tidak pernah menjadi biang kejumudan. Tapi orang yang mengatas namakan islam bisa saja melakukan kejumudan.

Islam dan "Hantu" Komunis Ateis

Ilustrasi

Apa sebetulnya yang dikhawatirkan dari “makhluk” bernama komunis itu sehingga spanduk dan poster antikomunis dipajang di mana-mana? Diskusi-diskusi tentang sosialisme-komunisme dibubarkan, buku-buku yang ditulis para tokoh dan pemikir sosialis-komunis diberangus, anak-anak sekolah diwanti-wanti untuk tidak membaca ajaran komunisme, para khatib Jumat dan ulama bergemuruh menyerang komunis, laskar-laskar antikomunis juga dibentuk dengan gagahnya, dan lain sebagainya?

Demokrasi Atasi Integrasi Bangsa

Ilustrasi

Oleh Guntur Wahyu Nugroho

Anda bisa sepuas-puasnya mencaci maki sistem demokrasi, menolak, mengutuk, meludahi, mengencingi bahkan melemparinya dengan kotoran yang paling menjijikkan sekalipun dan anda akan tetap bebas melenggang, tanpa takut dipenjara atau dipancung.

Sekarang cobalah pergi ke China dan lakukanlah hal yang sama dan anda tawarkan konsep misalnya Khilafah. Syukur-syukur anda hanya dideportasi. Apabila anda lagi apes, bisa-bisa anda dikembalikan ke Indonesia dalam kantung mayat dengan tanda kenangan manis lubang kecil di dahi anda.

Pages