Kampret

Manusia Simbol

ilustrasi

Saya termasuk orang yang pesimis polaritas cebong - kampret ini akan hilang, karena menyangkut pola pikir. Mungkin nanti istilahnya saja yang berbeda karena 2024 capresnya beda.

Istilahnya boleh berganti-ganti, tapi pola pikir belasan juta orang ini akan tetap begitu. Ini soal mental, cara pandang, dqn kondisi psikologis orang. Nyaris mustahil bisa menyadarkan mereka.

Cebong, Kampret Dan Pekerja Sukarela

ilustrasi

Tak ada gestur, tak ada tatapan mata terpojok, tak ada tinggi rendah suara, dll.
Absennya ciri khas kemanusiaan di sebuah bahasa tulis memungkinkan hilangnya unsur emosional yang mengikat kelompok atau kerumunan yang menggunakan bahasa tutur. 
Padahal unsur inilah yang memunculkan garis tengah ttg menghargai orang lain dlm keberagaman fisik dan pikiran.

Al Patekah dan Kepekokan Jemaah Kampret

 

Sangking pekoknya mereka bahkan banyak yang meragukan keislaman Pak Jokowi hanya karena "al-patekah". Padahal, tidak ada satu jentil dalil pun dalam Al-Qur'an maupun Hadis yang menganggap pengucapan "al-fatihah" sebagai syarat fundamental keislaman.

Menjadi Muslim itu gampang: cuma ngomong atau mengucapkan kalimat syahadat doang. Bim salabim, aba kadabrah. Cling, jadilah ia seorang Muslim, lalu ia dijamin masuk syurgah. Wuuennak tenan to mbul.

***

Lawakan Kelompok Islam Ngacenger

 

Mereka ngggak bisa Bahasa Arab; mereka nggak bisa membaca Al-Qur'an dengan benar, fasih dan tartil apalag membaca kitab kuning Arab gundul; mereka nggak pernah belajar Islam di madrasah; mereka nggak pernah ngaji di pesantren; mereka bahkan mungkin nggak bisa salat dengan bener; bahkan makai peci aja nggak pas...

Lalu dari mana keislamian dan kesyar'ian Om Wowo dan Sandi? Tapi kok bisa rombongan Islam ngacenger itu membela mereka berdua sampai kepentut-pentut? 

Pages