kajitow elkayeni

Gusmus, Gusku

 

Sumatera Barat memang mengubah cara pandang saya dengan sangat radikal. Saya jadi sangat kritis dan hobi berdebat. Saya kehilangan unggah-ungguh, kesopanan ala Jawa. Semua orang saya kritik, tak terkecuali Gusdur, Gusmus, juga kyai-kyai lain. Bacaan ayat kurang fasih, saya persoalkan. Pemaknaan kitab kurang fokus, saya permasalahkan. Ceramah kurang enak, saya cemooh. Setiap waktu saya menggerutu.

Tanoe Sang Tangan Tuhan

 

Dikabarkan oleh Alan Nairn, melalui pemberitaan Tirto, Tanoe ini ikut memperkeruh upaya pendongkelan Jokowi. Dengan kata lain, ia memainkan peran kunci untuk secepatnya merobohkan tampuk pimpinan tertinggi Negara ini. Atau setidaknya ikut memulai berdirinya rezim baru secepatnya tanpa menunggu pemilu berikutnya. Bersama gerombolan Cendana dan Cikeas, kabar anyir itu sempat begitu santer. Lalu hilang tanpa bekas.

Afi dan Kualitas Cecunguk di Sekitar Kita

 

Kasus Afi ini persoalan etika, tidak perlu dibahas lebih jauh. Dia hanya harus diingatkan, diluruskan, diberi pemahaman, tapi jangan dibunuh karakternya. Mengingat di seberang Afi ada orang-orang intoleran dalam jumlah ribuan yang telah mengambil posisi itu. Afi dianggap berbahaya bagi pengagum Rizieq Shihab dan penghuni bumi datar.

Tutorial Melawan Terorisme

 

Menggunakan aplikasi kebudayaan Arab itu hak mereka, meskipun itu bukan tradisi Islam Indonesia. Kewajiban masyarakat adalah waspada. Mau dibilang suudzon, paranoia, penakut, itu hak mereka. Tugas orang waras adalah melakukan pencegahan.

Dari segi ajaran, teroris menggunakan ayat-ayat perang untuk mendoktrin. Terorisme juga menggunakan kesenjangan dan kecemburuan sosial dengan dalih agama. Jika melihat video anak-anak berteriak, "Bunuh, bunuh, bunuh", ini adalah pembibitan terorisme.

Para Perusak Tenun Kebangsaan

Ini penting, karena dia dilabeli ulama, habib pula. Kalau ulamanya bejat, umatnya mau ikut siapa? Kita ini begitu gobloknya sehingga pasrah menerima penghinaan ini. Rizieq bebas berkeliaran dengan kebenciannya, sementara ia tersangkut masalah moral yang fatal. Ke mana muka kita sebagai umat yang katanya wasaton (ideal) hendak disembunyikan. Dalam agama lain, jika pemuka agama terlibat skandal, otomatis jabatan kegamaannya dibekukan sampai terbukti sebaliknya. Jika terbukti bersalah ya dicopot.

Mengajarkan Kebencian Sejak Dini

Kita ini sibuk mengurus hal sepele dan melupakan bahaya yang lebih besar. Keliru bersikap, keliru pula dalam memproteksi.

Saya melihat KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) misalnya, absen dalam memberikan teguran pada aksi memalukan 313. Orang-orang itu mendandani anak-anak mereka layaknya teroris, menempelkan tulisan idiot di punggung mereka, "Kami kebal peluru." Padahal doktrin kekerasan (dan pembodohan) semacam itu jauh lebih berbahaya daripada memblur dada perempuan dan aksi kekerasan di televisi.

Pages