jokowi

Gibran

Saat dia keluar, saya pun beranjak. Terjadilah pertemuan yang seolah tak disengaja seperti adegan film “Hitch”. Saya menyapa. Eh dia balas dengan senyum ramah. Kesan bahwa Gibran itu pendiam, cuek, apalagi sombong, benar-benar tidak ada. Saya gunakan kesempatan itu baik-baik. Saya kenalkan diri. Dia sudah tahu saya atau pura-pura tahu biar saya tidak isin. Entahlah.

Larang Presiden ke Kediri, Pramono Anung Punya Agenda Tersembunyi?

Justru saya menyesalkan dengan sikap "percaya mitos hitam" yang dilakukan oleh Pramono Anung secara terbuka. Hal itu seolah-olah mencitrakan bahwa Presiden Jokowi percaya mitos atau hal-hal mistik yang tidak bisa dinalar dengan akal sehat. Apa yang dilakukan Pramono Anung secara tidak langsung merupakan "negative PR" bagi Presiden. Dan untuk kasus ini saya tidak yakin Presiden Jokowi percaya mitos seperti yang dikhawatirkan Pramono Anung.

Presiden Jokowi Sibuk Mencatat dan Tekun Menyimak, Tapi Belum Cukup

Sesaat setelah statement Presiden muncul di media, rakyat Indonesia termasuk saya merasa tenang. Karena kita merasa 'NEGARA' hadir di tengah- tengah kita saat ada masalah krusial terjadi. Tinggal kita tunggu implementasi dan eksekusi dari anak buah Presiden dalam menerima instruksi Presiden.

Dalam Politik Tak Ada Sekutu, yang Ada Kepentingan

Apakah presiden bisa diberhentikan? Berdasarkan Pasal 7A UUD 1945, Hamdan Zoelva dlm buku Impeachment Presiden (hal. 51) mengemukakan dua alasan Presiden dpt diberhentikan dalam masa jabatannya, yaitu: 'Pertama', Melakukan pelanggaran hukum berupa: Penghianatan terhadap negara; Korupsi; Penyuapan; Tindak pidana berat lainnya; atau Perbuatan tercela. 'Kedua', terbukti tidak lagi memenuhi syarat sebagai presiden.

Pak Jokowi Sang Maestro dengan Jurus Kuda

Bermacam tanggapan muncul, antara yang kecewa, tidak puas, hingga ada yang nyinyir. Ini bagian rumit presiden sebagai eksekutif yang harus mengatur ritme dengan para pelaku legislatif dan yudikatif. Penulis melihat cara berfikir presiden kini lebih menyesuaikan dengan perkembangan jaman era digital. Memandang jauh masa depan Indonesia dengan sistim demokrasi yang memengaruhi sikap inovatif dan reaktif masyarakatnya.

Semua Gara-Gara Jokowi

Ketika mengajak Prabowo masuk koalisi, bikin poyang-payingan dan seolah isi dunia ambyar. Apakah kita siap? Kesiapan hanya bagi yang sukses melakukan transformasi dirinya. Bahkan, pada titik ini dalam sejarah, transformasi paling radikal, meresap, dan mengguncang bumi, akan terjadi hanya jika setiap orang benar-benar berevolusi menjadi ego yang matang, rasional, dan bertanggung jawab. Tentu juga, karena keyakinan.

Trus Gimana Lagi, Jokowi?

Diangkatnya Nadiel Makarim sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, bukan hanya mengundang penolakan dan rencana demo para pengojol. Sinisme yang menolak menteri termuda ini, ngerti apa soal pendidikan nasional dan kebudayaan? 

Last but not least, diangkatnya Prabowo sebagai Menteri Pertahanan. Para pendukung fanatik, para relawan yang dituding buzzer bayaran, frustrasi. Ada pula yang menuding ini bentuk pengkhianatan dan pragmatisme Jokowi mempertahankan kekuasaan. 

Pages