iyyas subiakto

Muhammadiyah, Antara Gelisah dan Lelah

 

Ada fenomena sejak PAN yg dikomandani AR menjelma menjadi oposisi, penghuni rumah egaliter itu sebagian besar terserap energinya ikut mengkritisi situasi politik dgn cara kasar, adalah Ketua PP MU yg menjadi timses PS begitu prontalnya dalam melindungi ketidak benaran. Lain dgn NU, walau PKB adalah berbenang merah dgn NU, tapi mereka bisa menjaga kamar masing-masing, sehingga tidak kelihatan disana banyak yg melakukan rekreasi politik, walau terasa ada tapi lebih manis mainnya.

Hoaks Ratna Sarumpaet, NU dan MU

 

Hoaks yg nyaris menjadi tsunami sosial dan berpotensi memecah belah bangsa dan negara adalah hoaks penganiayaan Ratna Sarumpaet yg melibatkan begitu banyak jajaran orang yg harusnya bermoral. Sayang karena nafsunya mereka jadi berandal dan bebal.

Mengamati eksistensi NU dan MU, saya pribadi menilai kadang kurang " gesit " dalam membantu memadamkan isu yg sumbernya kadang malah melibatkan orang-orang dilingkarannya.

Sekarang Sudah Greatest, Nggak Pakai Again

Terus making great againnya yg mana, great proklamasi kita sudah merdeka, great versi Soeharto kita tdk mau mengulang Indonesia menjadi kontroversi, great zaman Sby, kita cuma dapat 6 album yg tak laku dijual. Prabowo mau nge-great yg mana. Apa great zaman Majapahit yg kata Sandi Kuno ekonominya tumbuh 7%, waktu itu menkeunya petruk ngitungnya pakai ranting cemara. Lucu cawapres petai ini. Selalu gak nyambung. Kalau bangau berdiri satu kaki memang dia ahlinya, tapi kalau cawapres gaya bangau jadi kelihatan pedau.

Dia Sudah Memegang Pemantiknya

Dari sudut-sudut ruang keseharian mereka mainkan hoaks harian, harga tempe, pete, bawang, nasi ayam, dan sejenisnya. Targetnya emosi emak-emak yg maaf kadang rasionalitasnya terpangkas hanya gegara harga cabe sedikit keatas. Kadar gerakan yg lebih tinggi adalah pidato-pidato sang sengkuni. Mengomentari ekonomi, kemiskinan, kepemimpinan Jokowi, sampai negara dibilang sakit. Dia yg demam kita yg dipaksa pakai selimut.

Pages