humaniora

Babak Sunyi Wiji Thukul

 
 
Oleh : Aryo Wisanggeni 
 
Setelah 19 tahun Reformasi berlalu, 13 aktivis yang diduga diculik tetap tak tentu rimbanya. Satu dari mereka adalah sosok kerempeng berlidah cadel bernama Wiji Thukul, penyair yang puisi-puisinya dianggap momok oleh rezim militeristik Soeharto. Film Istirahatlah Kata-Kata berkisah tentang pelariannya sebelum hilang. 
 

Semua Agama Sempurna Bagi Pemeluknya

Oleh : Irma Hutabarat
 
Selamat pagi para kekasih hatiku.
Masih belum lekang dari ingatan, saat seorang yang mengaku ulama namun tega menista budaya bangsa sendiri, budaya kita, budaya tanah Pasundan dengan memelesetkan salam orang Sunda #Sampurasun menjadi #Campurracun , karena menurut tuan ulama itu, satu satunya salam yang pantas di dunia ini hanyalah Assalamualaikum. 
..

Siapakah Yang Layak Disebut Kafir?

Oleh : Shohib Sifatar

 

Seneng ngafirke marang liyane

Kafire dewe ora digateke

Dalam Kitab Suci Al-Qur’an, kata kafir dipakai bukan semata sebagai konsep teologis, tetapi juga konsep etis. Memahami konsep ini semata-mata sebagai sebutan untuk mereka yang non-Muslim (kategori teologis) sangatlah simplistis. Karena banyak penggambaran dalam al-Qur’an mengenai kata kafir ini juga banyak merujuk konsep etis.

Jubah, Jenggot dan Bahasa itu Hanya Budaya Saja

 

Oleh : Sumanto Al Qurtuby

Bahasa, jubah dan berjenggot itu bagian dari budaya Arab dan Timur Tengah sejak zaman bahoela jauh sebelum Islam lahir pada abad ke-7 M. Karena itu jangan heran jika anda melihat komunitas Kristen Arab juga berjubah, meskipun tentu saja ada yang tidak, sebagaimana Arab Muslim: ada yang berjubah, juga ada yang tidak. Suka-suka mereka.

Kepada Anak- anakku Mahasiswa..

Oleh : Erizeli Jely Bandaro

Tahun 1998 kakak kalian tampil heroik menjatuhkan Soeharto. Mengapa ? Yang mereka jatuhkan adalah rezim korup, dan tak ada hukum yang bisa menghentikan KKN. Sejarah revolusi yang sukses di manapun karena rezim terlalu kuat tanpa hukum yang membatasi mereka. Dan itu terjadi begitu saja tanpa ada arsitek. Memang dari kekacauan itu lahirlah tokoh pemimpin yang mempersatukan semua agar kembali membangun dari puing puing kehancuran.

Pages