Gibran

Lanjutkanlah Perjuangan Ayahmu

Namun kemudian masyarakat justru terkejut, karena nyatanya sebelum mereka ribut, nyinyir, menyindir dan memaki para putra Presiden yang dituduh tak peka, seorang Kaesang dan Gibran justru sudah jauh melakukan yang memang itu sudah biasa dilakukan sebelumnya, yakni berbagi kepada wong cilik yang berada di Solo dan kota-kota sekitarnya. 

Bahkan untuk yang terakhir justru untuk Provinsi Jawa Tengah yang ia serahkan lewat Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo.

Gibran

Saat dia keluar, saya pun beranjak. Terjadilah pertemuan yang seolah tak disengaja seperti adegan film “Hitch”. Saya menyapa. Eh dia balas dengan senyum ramah. Kesan bahwa Gibran itu pendiam, cuek, apalagi sombong, benar-benar tidak ada. Saya gunakan kesempatan itu baik-baik. Saya kenalkan diri. Dia sudah tahu saya atau pura-pura tahu biar saya tidak isin. Entahlah.

Dudukkan Pada Tempatnya

Sekarang era pemimpin muda dengan hati bersih, idealisme sebukit, gagasan segar, keberanian menyalip di tikungan. Kalau Anda warga Solo, dan berusia 30an, pasti gak rela kota itu dipimpin lelaki renta berusia 70an.

PDIP partai pemenang mutlak di Solo. Siapa pun yang mereka ajukan bakal unggul di pilkada. Hampir pasti wawalkot sana menang tahun depan. Solo yang sedang merias diri dipimpin seorang kakek? Itu gak genah. Gak cocok.

Karena itu Gibran maju ke gelanggang.

GIbran dan Peluangnya di Solo

Mendelegitimasi atau mengendors itu khas pengamat partisan. Apalagi dengan preferensi tertentu, menghakimi calon. Di situ amatan menjadi sering tidak adil, di samping tidak jujur.

Politik dinasti karena hanya melihat sisi seseorang adalah anak seseorang. Tak melihat bagaimana prosedur, sistem dan mekanisme semua itu berdasar aturan demokrasi. Dalam sistem demokrasi, tidak sebagaimana kerajaan atau pesantren.

Pages