enha

Syahadah di Britania Raya

 

Bagi saya, Syahâdah sebagai pondasi utama keislaman, bukan sekedar seremoni pengucapan, tetapi lebih pada implementasi makna yang mendalam. Syahâdah itu persaksian yang serius dan karenanya ia merupakan proses yang tidak selesai. Berislam itu tidak terletak pada seremoni pengislaman dan atau karena "mentang-mentang" sudah terlahir muslim. Berislam itu proses ketundukan yang harus terus diperbaharui, ditingkatkan menuju level yang lebih baik. Sampai kapan? Sampai seseorang menemui kematian. (QS Âli Imrân 102)

Ahok dan Cinta yang Mengitarinya

 
Bahkan bila di luar sana ada 7 juta orang yang membencinya, kekuatan cinta yang mengitari Ahok tetap membuatnya bersinar, sinar keteduhan akibat tempaan hidup yang tidak ringan. "Tanpa keikhlasan, kita akan sulit berdamai dengan tekanan, stigma penjara akan membunuh mental orang yang tak bisa mengubah dirinya." Begitu kata Ahok, saat kami menanyakan kabar dirinya menghadapi situasi ini.

Pilkada dan Kezaliman di Balik Topeng Kesalehan

Meski demikian, aku menyaksikan hal yang berbeda. Linimasa di jagat sosmed menampilkan wajah tak ramah. Perbedaan masih saja disikapi dengan marah-marah dan puncaknya kerap kali menuding pendukung petahana sebagai kaum munafik yang diharamkan menshalatkan jenazahnya.

Aku memilih bersuara demi Ibukota tercinta, Ibukota yang gagah menjadi sculpture Indonesia Raya. Maka dalam konteks Indonesia yang bukan negara agama, penjelasanku berikutnya semoga dapat membuka mata hati kita semua.

Pesan Mbah Dien...

Oleh: Enha
 

Wajahnya memang tampak sepuh, tapi menatapnya sunggguh sangat mendamaikan. KH. Nahdhuddin Royandi Abbas adalah seorang pengasuh pesantren Buntet yg kini tinggal di London, United Kingdom. Saya bersyukur bisa kembali berjumpa dengan beliau, saat menjumpai beliau di Indonesia Islamic Center, London dalam acara peringatan Maulid Nabi SAW yang diselenggarakan masyarakat Indonesia di Inggris.

Pages