eko kuntadhi

7 Juta Orang Percaya

 

ucu --percaya kok, harus dikoordinir?

Terus sampai 7 juta orang gitu? Mbuh. Siapa juga yang mau repot-repot menghitung.

Sebetulnya orang mau percaya atau tidak pada orang lain itu urusan dia sendiri. Jika mereka percaya Batman bisa pipis di urinoir selagi bertugas --padahal pada kostumnya tidak terdapat resleting-- itu hak dia. Silakan saja. Kalau saya lebih meyakini kostum Batman sudah memperhitungkan posisi diapers. Menurut saya lebih masuk akal.

Puasa Medsos, Rasain Lo!

Dia juga diam saja ketika selebaran berbau rasis melebar kemana-mana. Anies pun cuek ketika Tamasya Al Maidah yang bergaya provokatif dan intimidatif itu dilakukan. Bahkan Anies sering menggunakan masjid untuk kampanye terselubung. Padahal dia tahu, UU melarang menjadikan tempat ibadah sebagai sarana kampanye.

Kenapa dilarang? Karena akal sehat kita mengatakan, menjadikan ibadah sebagai sarana kampanye politik, apalagi berbentuk provokatif, akan meninggalkan luka dan konflik dalam diri umat.

Seekor Nemo

Seekor ikan kecil, di tengah arus Jakarta yang sangat lebat. Kadang berenang melawan arus yang deras. Menari-nari diantara hujaman cuaca. Ikan kecil yang berjuang untuk sebuah idealismenya tentang pemerintahan yang berpihak pada rakyat. Tentang menjunjung kejujuran dalam bekerja. Tentang keikhlasan dalam melayani.

Tapi siapakah yang tertarik dengan itu semua?

Kita Putuskan Mata Rantai Itu

Rakyat Jakarta 'pernah' merasakan bagaimana keberadaanya direken oleh pemerintah. Kita berharap kata 'pernah' tidak pernah terjadi. Artinya, siapapun yang akan memimpin Jakarta nanti rakyat tidak lagi cuma dihitung sebagai obyek. Tetapi justru dianggap sebahai subyek yang nyata.

Kita tahu bahwa Pemilu seringkali meninggalkan bekas yang panjang. Pilpres yang baru lalu membuktikan ada orang-orang yang tidak mau move on menghadapi kenyataan. Ada yang tidak bisa beranjak menerima hasil dari proses elektoral.

Mereka Menista Masjid

Masjid didirikan untuk menandakan kerendahan hati manusia di hadapan sang Khalik. Bukan sarana untuk petantang-petenteng, merasa sok kuasa. Masjid bukan sarana untuk melampiaskan ego. Apalagi cuma karena alasan beda pilihan politik.

Kita menyaksikan kekurangajaran itu. Kita menyaksikan masjid-masjid kita dikotori oleh kejahilan. Kita juga mendengar mimbar-mimbar Jumat berubah jadi ajang kampanye. Semakin lama, semakin memuakkan.

Pages