eko kuntadhi

Mentang Mentang Muslim

 

Saya bergumam, mentang-mentang muslim. Sampai segitunya.

Sebetulnya waktu membaca berita penghancuran susunan batu hasil karya orang iseng itu, saya teringat film The Gods Must Be Crazy. Bapak-bapak yang semangat menendang tumpukan batu di sungai Cidahu, seperti Xi, lelaki bercawat dari gurun Kalahari. Xi mengira, botol Coca-Cola bebas yang jatuh dari langit adalah akibat ulah Tuhan. Maklum, Xi belum punya HP untuk mencari tahu informasi soal botol Coca-cola.

Berebut Memetik Mahar

 

Mungkin begini. Jika sudah dapat surat rekomendasi maka La Nyalla bisa 'menjajakan' surat itu ke banyak pengusaha untuk dimintakan bantuan. Jadi gak perlu keluar duit sendiri. Sementara Prabowo juga ngerti, rekomendasi partai miliknya bukan barang murah. Bayar dulu dong. Dalam kacamata yang lain masalah ini hanya soal siapa memanfaatkan siapa.

Kajian Kencing di Pondok Indah

 

Tapi belakangan anak-anak muda NU makin beradaptasi dengan perkembangan jaman. Dengan tetap memegang kearifan kultural, NU terus bergerak maju. Islam diwartakan dengan semangat kebangsaan. Ditampilkan dengan wajah rahmatan Lil alamin.

Sebaliknya kaum Islam yang mengaku Islam kota, makin bergerak puritan. Makin menarik agama jadi makin aneh. Bahkan semakin menjauh dari ilmu pengetahuan.

Jakarta Kota Oposisi

 

Benar saja, pidato pertama Gubernur bicara soal kebangkitan pribumi, sebuah kosa kata yang kita tahu kemana arahnya.

Lalu perhatikan penyusunan RAPBD, banyak pos anggaran yang terkesan bagi-bagi jabatan. Tim pembantu Gubernur saja sampai 73 orang, dengan anggaran Rp 28 miliar setahun.

Belum lagi dana tunjangan Parpol yang naik 10 kali lipat. Dana perjalanan dinas yang saohah, sampai dana hibah ke ormas yang kita tahu arah ideologinya.

Pages