Dukung

Mengembalikan Nama Ulama

ilustrasi

Akhirnya berkumpul ulama yg sebenarnya, mengambil kembali nama dan sebutan "ulama" yg sempat liar dipakai orang-orang bar-bar. 74 thn Indonesia merdeka, tdk pernah para ulama memakai istilah ijtima', mereka para wali, para kiayi, para sufi, para santri, tidak perlu embel-embel segala nama, karena mereka terjaga oleh prilaku dan akhlak mulia utk menjaga jalannya sebuah tatanan kemanusiaan yg digariskan. Bukan akal-akalan kebangsatan utk sebuah kekuasaan dgn jalan pemaksaan.

Aksi "Lompat Pagar" Anti Klimaks Pilpres?

ilustrasi

Beberapa hari sebelumnya, Ketua Umum PAN, Zulkifli Hasan secara khusus "soan" menemui Presiden Jokowi di Istana Negara Jakarta. Sebagai imbalannya, Jokowi secara khusus menyiapkan santap bersama.

AKSI "lompat pagar" dalam dunia politik adalah biasa dan lumrah. Persoalannya adalah etika dalam berpolitik.
Bukan rahasia bagaimana sikap dan perilaku para elit serta pengurus parpol koalisi pendukung Prabowo menjelang dan selama kampanye. Ini juga yang mungkin menjelaskan sikap "malu-malu kucing" PKS khususnya dan mungkin Gerindra untuk segera "lompat pagar". 

Ijtima Politik

ilustrasi

Iya, bagi mereka yang termakan hoaks penyelenggaraan pemilu. Yang jadi korban generalisasi atas pelanggaran yang jumlahnya sangat kecil dibanding jumlah keseluruhan. Yang mereka nggak ngerti kalau pelanggaran itu pun akan dikenai sanksi baik administrasi ataupun pidana.

Iya, bagi mereka yang kehilangan kesempatan untuk menduduki jabatan, karena perantaranya, sudah duluan gugur di depan.

Kelompok Ulama Partisan Yang Mulai Kehilangan

ilustrasi

Jadi menurut saya, apa yang dilakukan mereka yang sangat kental aroma politis, partisan dan memaksakan kehendak sendiri, merupakan pelecehan dan penistaan terhadap pengertian ijma' dan netralitas seorang ulama. Publik akan mengenang mereka hanya merupakan kaki tangan para politikus busuk atau individu ambisius yang tidak menghargai proses demokrasi. Mereka hanya kelompok orang yang mencoba mengingkari kenyataan bahwa ternyata rakyat tidak mendukung pilihan ngawur mereka.

Hari Ini Untuk Indonesia Maju

ilustrasi

Aku bergerak membela dan memperjuangkan sesuatu yang kuyakini benar, tanpa merasa paling benar. Tanpa merendahkan siapapun, tanpa menyerang siapapun, tanpa caci maki, hujatan, kebencian dan semisalnya. Aku mendukung dengan cinta, menyebarkan hal-hal yang baik saja, mengajak orang untuk fokus pada apa yang positif saja—seraya tidak merasa paling hebat, paling baik, apalagi paling suci. Aku bergerak memperjuangkan sebuah pilihan, sambil tak lupa menghargai pilihan orang lain.

Pages