denny siregar

Jakarta di Tangan Kang Anies

Sebenarnya bener kata Ahok, kang Anies ini lebih bagus jadi dosen. Teori bolehlah, tapi praktek bisa jauh api dari panggang. Seperti saya bilang, seandainya dosen saya kang Anies, saya bisa ngorok di bangku belakang atau lebih baik baca Enny Arrow aja sama teman2..

Membangun kota keras seperti Jakarta itu tidak bisa sibuk pada tataran konsep, karena manusianya - terutama di jajaran PNS - sudah rusak semua. Mereka sudah kacau cara berfikirnya, menganggap dirinya raja dan rakyat adalah pelayannya.

Puisi Indah Buat Fahri Hamzah

Dengan semua apa yang mereka lakukan
Tetap kau beri nama mereka Babu
Sebutan yang sangat merendahkan..

Okelah, tuan..
Yang duduk di ruang dingin di Senayan
Yang kalau rapat tidur sampe ngiler tak tertahan
Kadang datang, seringnya enggan
Berjas tapi jarang bercelana dalam
Hidup ditunjang dari uang sidang

Maukah kau kuberi gelar
Yang sesuai dengan apa yang kau kerjakan
Dengan tanpa merendahkan..

Kita panggil saja dirimu Penjual Congor..

Komunikasi Sarung

Oleh: Denny Siregar
 

Entah bagaimana ceritanya, sarung menjadi identifikasi kaum muslim di Indonesia.

Mungkin karena kita sering lihat sarung di promosikan di media saat momen lebaran. Atau ketika shalat jumat dan shalat ied. Padahal kalau ke Bali, kita akan sering melihat umat Hindu di Bali juga menggunakan sarung saat upacara adat dan keagamaan mereka.

Tuhan yang Beranak

Oleh: Denny Siregar
 

Saya sendiri heran dengan pernyataan Habib Rizieq dalam ceramahnya itu..

"Kalau Tuhan beranak, lalu bidannya siapa ?" Dan tertawalah satu ruangan dalam ketidak-mengertian yang sama.

Saya menganggap HR adalah seorang yang paham ilmu agama, maka ia didaulat sebagai Imam besar di sebuah ormas. Tapi ternyata seorang "Imam besar" pun tidak pernah bertanya langsung kepada Pendeta, Romo atau pemuka agama yang selevel dengannya dalam pengetahuan agama mereka.

Surat Warna Jingga untuk Ko Ahok

Oleh: Denny Siregar
 

Ah, akhirnya saya harus kirim surat lagi untuk ko Ahok.. Hanya kali ini agak berbeda dari yang kemarin.

Ko, jujur saya agak mual melihat begitu massifnya gambar-gambar yang berseliweran di timeline saya mengiringi situasi emosional waktu koko menangis di persidangan.

Saya sangat mengerti kegundahan koko waktu bercerita tentang keluarga. Mungkin menangis itu adalah bagian dari pelampiasan kegundahan sekian lama sesudah ditabrak kanan kiri depan belakang oleh mereka yang pada dasarnya tidak ingin koko maju ke pilgub DKI.

Pakde Jokowi, Kita dalam Bahaya

Oleh: Denny Siregar
 

Malam, Pakde...

Banyak yang memuji langkah Pakde pada aksi tadi siang. Dan saya yakin tim pakde pasti tersenyum senang melihat keberhasilan membalikkan serangan lawan dengan gemilang.

Tapi Pakde, jika boleh saya ingatkan..

Keberhasilan2 itu sebenarnya sangat rentan. Salah langkah sedikit saja, maka kita akan terpecah menjadi beberapa bagian. Terlalu riskan jika selalu memakai pola bertahan..

Kangen Mulut Ahok

Oleh: Denny Siregar
 

Seorang teman berkata, "Ada orang istana ngomong gini, gua dah ingetin Ahok supaya mulutnya dijaga. Dia iya iya, tapi 3 hari gitu lagi.. Kayaknya Ahok perlu disumpel selotip ajaib.."

Saya ketawa ngakak dengarnya. Duh, jujur saya malah kangen dengan gayanya Ahok, cara ngomongnya yang meledak2 dan langsung to the point. Bagi sebagian orang memang terlihat kasar, tapi bagi saya itu hiburan yang menyehatkan.

Pages