denny siregar

Surat Warna Jingga untuk Ko Ahok

Oleh: Denny Siregar
 

Ah, akhirnya saya harus kirim surat lagi untuk ko Ahok.. Hanya kali ini agak berbeda dari yang kemarin.

Ko, jujur saya agak mual melihat begitu massifnya gambar-gambar yang berseliweran di timeline saya mengiringi situasi emosional waktu koko menangis di persidangan.

Saya sangat mengerti kegundahan koko waktu bercerita tentang keluarga. Mungkin menangis itu adalah bagian dari pelampiasan kegundahan sekian lama sesudah ditabrak kanan kiri depan belakang oleh mereka yang pada dasarnya tidak ingin koko maju ke pilgub DKI.

Pakde Jokowi, Kita dalam Bahaya

Oleh: Denny Siregar
 

Malam, Pakde...

Banyak yang memuji langkah Pakde pada aksi tadi siang. Dan saya yakin tim pakde pasti tersenyum senang melihat keberhasilan membalikkan serangan lawan dengan gemilang.

Tapi Pakde, jika boleh saya ingatkan..

Keberhasilan2 itu sebenarnya sangat rentan. Salah langkah sedikit saja, maka kita akan terpecah menjadi beberapa bagian. Terlalu riskan jika selalu memakai pola bertahan..

Kangen Mulut Ahok

Oleh: Denny Siregar
 

Seorang teman berkata, "Ada orang istana ngomong gini, gua dah ingetin Ahok supaya mulutnya dijaga. Dia iya iya, tapi 3 hari gitu lagi.. Kayaknya Ahok perlu disumpel selotip ajaib.."

Saya ketawa ngakak dengarnya. Duh, jujur saya malah kangen dengan gayanya Ahok, cara ngomongnya yang meledak2 dan langsung to the point. Bagi sebagian orang memang terlihat kasar, tapi bagi saya itu hiburan yang menyehatkan.

Mengukur Benar dan Salah dalam Politik Kita

Oleh: Denny Siregar
 

Seharusnya peristiwa2 yang terjadi dalam perpolitikan kita akhir2 ini, membuat logika berfikir kita menjadi matang..

Benar dan salah terus dihadirkan dalam berbagai peristiwa supaya kita terus belajar. Tuhan memberi pelajaran kepada manusia bukan dalam sekali peristiwa, tetapi bertahap tergantung akal manusia menyerap dan memahaminya.

Pages