Dalil

Hati-Hati Pada Ulama Yang Dikit-Dikit Ndalil

Ilustrasi

Mereka tahu mayoritas umat Islam di Indonesia memang kurang dalam pemahaman atas Al Qur’an dan Hadits. Mengapa? Jelas karena bahasa yang digunakan adalah bahasa dimana Islam diturunkan. Oleh para Ulama-ulama NU, apa yang ada dalam Al Qur’an dan Hadits serta kitab-kitab sudah diolah dan disampaikan secara sederhana. Sehingga masyarakat awam tinggal menjalankan saja. Mengapa begitu?

Sedikit Tentang Ibadah dan Bid'ah

Ilustrasi

Kesalahan dalam memaknai dan mengklasifikasi jenis ibadah dapat menjerumuskan seseorang dalam prilaku mudah membid'ahkan. Dengan dalil yang sama, dia menghukumi banyak kasus yang berbeda. Dimana-mana akan bertanya, apa dalilnya? mana contohnya dari Nabi? dan memvonis haram amalan yang kemudian tidak ada dalil perintahnya dan tidak ada teladannya.

Yerussalem, Tanah yang Dijanjikan atau Tanah yang Menjanjikan?

Ilustrasi

Kemudian kita kilas balik pada abad pertengahan. Dimana menjadi puncak kejayaan Eropa sebagai simbol peradaban dan ekonomi. Dimana saat itu orang-orang Bani Israel yang telah melakukan eksodus (lagi) ke Eropa juga turut menggapai kesuksesan. Dulu Jerussalem bagi mereka hanyalah "Jalan menuju Tuhan" dan bukan "Jalan menggenggam Dunia". Karakter mereka yang memang oleh Tuhan dianugerahi kelebihan intelejensi, membuat mereka mencari jalan efektif dan efisien untuk mencari penghidupan.

Mempertanyakan Dalil Tahlil dengan Jaminan Keperawanan, Ndeso!!

Ilustrasi

Ulama ushul membahasnya dengan pembahasan illatn menurut mereka, illatnya ibadah mahdhah itu adalah ta'abbudiyyah (maknanya tidak bisa dilogikakan jika dinisbahkan kepada para mukallafiin/orang2 mukallaf). Seperti jika dicari hikmahnya shalat subuh 2 rakaat, dzhuhur 4 rakaat, para fuqaha menjawabnya semua ketentuan itu adalah ta'abbudiyyah; kita hanya wajib menjalankannya saja. Hikmahnya tidak dapat dijangkau oleh akal.

Pages