cingkrang

ASN, Cadar dan Radikalisme

Kedua, untuk konteks Indonesia, saya lebih setuju untuk membatasi pemakaian cadar. Di tempat-tempat atau ruang publik tertentu (misalnya ruang pengadilan, imigrasi, bank, dlsb) sebaiknya tidak mengenakan cadar demi keamanan dan kenyamanan. Kalau di tempat-tempat lain silakan saja. Toh cadar bukan ajaran / syariat Islam fundamental. Masyarakat di Arab Teluk pun lebih memaknainya sebagai sebuah kebudayaan. Yang wajib menurut mereka adalah hijab. 

Kirain Ulama, Ternyata Bukan

ilustrasi

Buat yang awam, tetap saja susah membedakannya. Sebab orang awam tahunya ulama itu dari kostum, atribut, sorban, jenggot, cingkrang, dan yang kelihatan mata telanjang.

Orang awam mengenal ulama asalkan pintar ceramah, sering ngisi kajian, banyak nampil di yutub, asalkan viewernya banyak, yang ngelike banyak, subscribernya banyak.

Dulu Saya Cingkrang, Sekarang Nggak

Oleh: Fahmy Arafat Daulay
 

Dulu saya cingkrang, sekarang nggak. Karena saya tau Asbabul Wurudnya dan tetap hormat pada yg suka cingkrang.

Dulu saya mengharamkan total lagu, sekarang lebih toleran dan tidak menghakimi bagi yg masih suka musik (saya juga suka hahaha) sebab kita juga nggak tau dia dimasa depan mungkin saja tobat n jadi kekasihnya Allah, who knows?

Dulu nggak mau cium tangan sama yg lebih tua, sekarang ok ok saja. Itu cuman adab, bukan penyembahan.

Pages