beragama

Beragamalah yang Lebih Mencerahkan

Jadi jangan beri celah sedikitpun bagi kaum radikalis (apapun agamanya) untuk membenturkan Islam vs Kristen dan agama-agama yang lainnya, dengan ras atau suku-suku yang lainnya, karena kita semua saudara satu bangsa, satu bahasa, satu tanah air Indonesia. Percayalah, tidak akan ada satu agamapun yang menganjurkan kita untuk bermusuhan satu sama lain hanya sebab beda keyakinan. Karena kalau tidak demikian tentunya agama itu tidak bakalan laku dan diterima dengan baik oleh para pengikutnya.

Beragama Melampaui Formalisme dan Substansialisme

Sementara itu, kaum substansialis menganggap agama bukan segalanya. Bagi mereka, spiritualitas jauh lebih utama. Dan memang ini adalah cirinya: mereka suka membedakan antara agama dan spiritualitas, seolah yang terakhir lebih murni daripada yang pertama. Sudah tentu mereka melihat ritual, syariat, liturgi, kanon, dan berbagai teks ajaran agama lainnya sebelah mata. Dalam keseharian mereka sering disebut sekuler, pluralis, atau liberal. 

BerIslam Dengan Evidence Based

ilustrasi

Karena itu ummat Islam harusnya sangat kuat apetite(selera)-nya terhadap evidence based, bukti ilmiah. Poligami diriset dulu, evidence basednya, cenderung baik atau buruk, atau harus dibatasi, apa regulasinya, kalau regulasi gini efeknya diriset dulu, klo regulasi gitu diriset dulu. Zakat diriset dulu. Bunga bank di riset dulu evidence based nya dibanding bagi hasil. Jangan alergi kalau ternyata bunga bank lebih "menjaga" dibanding sistem bagi hasil (udah banyak riset mulai melihat tentang ini).

Ngaji Pada Gus Baha : Ketika Allah Tersinggung

ilustrasi

Merespon kejadian itu, Allah memberi wahyu kepada seorang Nabi. “Beri tahu kepada si Fulan yang sedang sujud itu. Bilang padanya, bagaimana mungkin dia mengatasnamakan sifatku pada seorang hambaku.” Maksudnya dia membawa-bawa nama Allah karena kemarahan dalam dirinya sehingga seolah-olah Allah tidak mungkin mengampuni orang yang menginjak kepalanya.

Pages