Anies-Sandi

Bingung dan Linglung (Mati Ketawa Ala Gabener)

Ilustrasi

Kata pakar, cara berkomunikasi menunjukkan suasana psikologis yang bersangkutan. Jelas dari celotehannya, dua orang ini bingung dan miskin data. Dia sok tahu ketika bilang amdal, padahal semuanya ada amdal. Dia bilang rumah lapis gak tahunya rumah susun. Diledekin lagi. Diketawain lagi.

Jangan Move On, Jangan Berhenti Mendukung

Ilustrasi

Semakin cerewet pemilih, baik mendukung maupun nyinyir, semakin baik, karena ini memberi sinyal-sinyal buat pemimpin bahwa mereka dikontrol rakyat. Pelan-pelan membentuk semacam saringan melahirkan pemimpin. 40 tahun lalu, mana bisa kita nyinyirin sayembara pantofel-nya sandy, mulut comberannya ahok, manut-manut aja dapet pemimpin karut marut kayak apapun.

Move On

Ilustrasi

Anehnya, ada sekelompok orang yg nyuruh pencinta Ahok-Djarot move on, tapi mereka tidak bisa move on dari seseorang yg belum pernah memimpin, belum pernah berbuat kebaikan utk masyarakat bahkan belum pernah jadi pejabat pelayan publik. Dengan segala janji, mereka memaksa org lain bahwa orang itu layak jadi pemimpin. Kalau sekedar janji mah, semua tukang kecap mengatakan kecapnya no 1.

Seorang Jokowi

Masalahnya banyak lawan politiknya tidak melihat hukum sebagai panglima tapi masih hidup dalam culture politik sebelumnya dimana masalah apapun diselesaikan secara politik. Akibatnya terjadi transaksional dan pasti yang dikorbankan adalah rakyat. Karena bagi mereka jelas tujuannya bukan rakyat tapi kepenting pribadi dan golongan. Kalaupun Ormas di seret dalam aksi itupun masuk dalam political cost bagi mereka. Semua tidak ada yang gratis dalam aksi.

Kelompok Jakarta Bersyariah Pendukung Anies-Sandi

Ilustrasi

Dari berbagai hal yang diungkapkan diatas jelas terlihat pendukung Anies-Sandi soal Jakarta Bersyariat ini ada 3 yakni HTI, FPI serta PKS. Dan isu Jakarta Bersyariat ini bukan baru saja terjadi karena sudah sejak 2016 lalu terbentuk Majelis Tinggi Jakarta Bersyariat. Berdasarkan penelusuran, Majelis Tinggi Jakarta Bersyariat ini dibentuk pada 19 November 2015 dalam rangka menghadapi Pilkada 2017. Sejak awal mereka mendorong adanya Gubernur Muslim, urai Ketua Majelis Tinggi, Rizieq Shihab.

Ini yang Terjadi Jika Anies-Sandi Menang Pilkada

Dengan mengalirnya dana ke kantung ormas agama, para pemain politik dan politikus memastikan bahwa mereka didukung oleh "umat Islam" yang menjadi kekuatan terbesar di negara ini.

Situasi ini sudah berlangsung puluhan tahun lamanya dan mereka - para ormas agama - itu berkembang biak dengan menjual ayat sesuai kepentingan pembelinya. Mereka juga meraih banyak pengikut dan simpatisan yang sedang mencari "petunjuk" dengan menggelar pengajian dan mimbar2 Jumat di masjid mereka.

Pages