anies

Ayo, Anies. Jangan Cuma Bibir yang Bergetar

Orang kaget. Pasalnya sampai hari ini, menurut data BNPB jumlah pasien positif Corona yang wafat secara nasional ada 122 orang. Lho, kok Jakarta nyelonong sendiri menyebutkan angka 283 orang sampai bibirnya bergetar begitu.

Memang, Anies tidak menyebutkan pasien positif. Ia hanya menyampaikan orang yang pemakamannya menggunakan protap Covid19.

Tragedi Kemanusiaan Jakarta

Strategi gila memakai agama sbg alat pengoyak kekuatan kebaikan yg nyata dari seorang Ahok sangat besar taruhannya, andai saja waktu itu posisi Ahok menang Jakarta bisa membara, dia kalah, sekaligus dia menjadi martir atas kelangsungan bangsa ini, dia di korbankan utk memuaskan nafsu durjana para setan pengendus yg rakus dlm kekuasaan dan kekayaan, hanya ada dua di benak kepala mereka kuasa dan harta, negara no lima.

Puncak Pertarungan Jokowi-JK

Apakah itu salah, tidak juga, tidak ada yg melarangnya, hanya akhlak yg bicara, itupun kalau masih ada. Karena sulit mengekang nafsu berkuasa, sekaligus menampik peluang usaha. Itu bedanya dia dgn Jokowi, Jokowi pengusaha yg berhenti setelah jadi politisi. Anaknya saja yg punya usaha catering tidak pernah mau menerima orderan pemda. Itu AKHLAK DAN ETIKA. Bukan aji mumpung perut gembung dada membusung.

Jangan Ngurus Bangke

Priode awal dia memimpin Indonesia fokusnya infrastruktur, sampai ada mulut prempuan murah di parlemen yg mengatakan bhw rakyat gak makan aspal alias tak butuh infrastruktur. Pak Jokowi jalan kedepan, hasilnya jalan terhampar dari Aceh ke Papua. Ribuan km jalan tol tersambung membuat orang mudah kemana-mana, kawan saya dari Sidoarjo bisa hanya mau makan tengkleng kambing pergi ke Solo pp, itulah fakta bhw aspal bisa membuat kita mudah, makan di Solo kencing di Sidoarjo dalam hitungan jam saja.

Pak Anies, Mundur Sajalah

Kepiawaian anda dlm hal tanya jawab dapat dimaklumi karena latar belakang anda adalah dosen dan sempat menjadi rektor walau khabarnya dgn jalan yg sedikit kotor. Universitas Paramadina, dimana almarhum Cak Nur yg membidaninya, namun akhirnya sang istripun harus meninggalkannya karena tiba-tiba ada gerombolan yg masuk menguasainya, dan itu termasuk anda katanya.

Mengapa Abas Begitu Perkasa di Jakarta?

Kasus di Jakarta menjadi menarik karena melibatkan uang rakyat yang super jumbo dan cara penganggaran yang super aneh, kasar dan tidak masuk akal sehat. Orang waras mana yang percaya pembelian lem Aica Aibon senilai lebih dari Rp 126 M ? Belum masalah pembelian pulpen, fee konsultan dan mata anggaran lain yang seperti memperkosa akal sehat kita. 

Pages