ahok

Balaikota Jakarta Sekarang Jadi Rumah Hantu

ilustrasi

Mewujudkan janji reklamasi dihentikan, sudah. Tapi setelah itu apa ? Terlantar. Menutup Alexis dilakukan, tapi setelah itu apa ? Entah. Sekadar menguasai gedung Balaikota, memerintah dari balik kursinya, menutup ini itu, menghalangi orang bekerja ini dan itu. Ya, itu saja.

Tak Ada Lagi Kerumunan Warga di Balaikota

 

Kini balaikota sunyi senyap layaknya gedung ‘Stad Batavia’ di awal pendiriannya dulu, di zaman Pemerintahan Hindia Belanda, dimana pejabat setingkat ‘Gouverneur General’ berkantor di sana. Simbol kekuasaan yang kukuh dan angker. Tidak ramah sebagaimana zaman Basuki Tjahaja Purnama.

Karena Gubernur Basuki ‘Ahok’ Tjahaja Purnama sudah tidak berkuasa di sana.

Koh Ahok dan Cik Vero, Kembalilah

 

Mohon maaf sebelumnya jika saya terpaksa harus ikut angkat bicara soal perceraian dan rencana pernikahan Koh Ahok, karena selain saya ini bukan anggota keluarga, masalah perceraian dan pernikahan merupakan sepenuhnya urusan pribadi Koh Ahok dan Cik Vero. Namun saya terpaksa harus berani angkat bicara, karena Koh Ahok selain sudah saya anggap sebagai sahabat, Koh Ahok juga merupakan publik figur yang sangat dicintai orang banyak.

Antara Vero, Puput Dan Luput

ilustrasi

Lalu perempuan-perempuan berusia 25-35 lewat di depan mata. Mereka tak sungkan menyapa dengan tawa belia dan rona segar. Percakapan lalu dimulai. Ada sesuatu terasa berbeda.

Di rumah, para suami berhadapan dengan aneka persoalan. Tentang anak, tentang pompa ngadat, tentang genting bocor, tentang tagihan cicilan mobil, cicilan rumah, dan bayaran uang arisan.

Cerita tentang Ahok, Baskara dan Sahiron

 

Ia juga mengaku tidaklah mudah menerima tawaran menjadi saksi atas hal ini. Tidak hanya meminta restu kepada kolega dan kedua orang tuanya, pria yang aktif di PWNU DIY ini juga melakukan ritual khusus agar kesaksiannya tidak mendapat halangan baik sebelum maupun sesudah persidangan.

"Mas, sampeyan kok selamet dari perisakan di media ya. Kok bisa? Apa resepnya?" tanyaku agak berbisik kepada Dr. Sahiron.

Veronica Tan

ilustrasi

Ia cantik, pintar, baik hati dan "berkelas".
Ia memiliki selera yang baik dalam bermusik.
Jago bermain cello, piano atau bernyanyi sambil memetik gitarnya.
Ia juga jago berpidato dalam bahasa Inggris.
Kebaikan hatinya pun menawan, sebagaimana penampilannya yang bersahaja tanpa dandanan yang berlebihan.
Ia dikenal begitu penuh perhatian kepada mereka yang butuh pertolongan dan bantuan.

Pages