ahok

Sasaran Berikutnya Jokowi

Yang bijaksana justru seharusnya kalian bisa menjadi tokoh penyejuk di negeri ini, dus bukan justru sebaliknya. Terlebih keinginan mengalahkan Ahok di Pilkada sudah terlaksana dengan cara yang menyedihkan.

Apakah tak merasa sedih bila negeri yang sedang membangun ini diganggu oleh syahwat politik yang berujung pada anti kemapanan? Ingat bahwa rakyat ada batas kesabarannya bila keresahan ini selalu kalian hembuskan. Selain itu, tentunya TNI, Polri, Mahasiswa, dan Banser NU tak akan berpangku tangan.

Ahok: Saya Bukan Kafir (Pledoi dalam Sidang Penistaan Agama)

Kalau kita mau jujur menegakkan hukum diatas semua suku bangsa, agama, ras dan golongan, di dalam sidang semakin jelas sudah terjadi kesalahan fatal dengan memaksakan kasus yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya. Begitu jelas terungkap bahwa kasus ini, sejak awal adalah rekayasa politik dan merupakan pengadilan massa (trial by the mob)  yang didalangi oleh orang-orang yang sejak lama telah membenci saya dan menolak saya dan mencap saya sebagai gubernur kafir.  Mereka bahkan sudah melantik gubernur tandingan sejak tanggal 1 Desember 2014. 

Seekor Nemo

Seekor ikan kecil, di tengah arus Jakarta yang sangat lebat. Kadang berenang melawan arus yang deras. Menari-nari diantara hujaman cuaca. Ikan kecil yang berjuang untuk sebuah idealismenya tentang pemerintahan yang berpihak pada rakyat. Tentang menjunjung kejujuran dalam bekerja. Tentang keikhlasan dalam melayani.

Tapi siapakah yang tertarik dengan itu semua?

Pledoi Ahok

Bagi Ahok semua pengusaha hanya cari untung sendiri dan engga mau ikhlas berbagi untuk rakyat kecil. Padahal semua orang sudah bayar pajak penghasilan dan retribusi yang diatur Perda. Tapi dengan bekal kekuasaan dia menentukan arah sesuka dia. Pernah dia bilang kepada bawahannya " kita preman tapi preman legal. Kalau engga gitu mana ada orang kaya mau peduli dengan orang miskin ". Kalau ada proyek yang engga kasih kontribusi untuk program pembangunan sosial rakyat , persulit izinnya.

Pilkada DKI, Intimidasi dan Ali Syariati

Seorang kawan bercerita, bagaimana ada seorang bocah perempuan yang terus menangis meminta orang tuanya memindahkannya dari sekolah karena setiap hari kawan sekolahnya mengolok dengan sebutan " China kafir, Anak Ahok, gantung china". Atau bagaimana ketakutannya warga komplek perumahan dengan mayoritas Thionghoa saat membaca beragam Spanduk dan ujaran kebencian " Aksi bela Islam, Ganyang China atau Usir China Komunis". Sayatan luka peristiwa 98 masih berbekas basah dalam ingatan mereka, dan ujaran kebencian itu menjadi cuka yang kembali menoreh pedih.

Merayakan Kekalahan Ahok

Kawan-kawan ini adalah para die hard Ahok. Mereka bertarung habis-habisan untuk memenangkan Ahok-Djarot. Lelaki yang duduk di depanku, sedang merokok, adalah seorang pengusaha rumah makan. Di sebalahnya duduk seorang perempuan, mantan wartawan majalah wanita. Tiga orang lainnya, seorang perempuan dan dua orang lelaki adalah karyawan. Saya tidak tahu mereka bekerja di perusahaan apa.

Pages