ahok

Tonggak Kecerewetan Rakyat

Ilustrasi

Dulu di masa Ahok, reaksi keras datang kalau terkait isu penggusuran, reklamasi. Reaksi ini juga penting, memberi rambu-rambu bagi pemimpin. Kalau saja Ahok kalah karena isu ini misalnya, kita semua masih ayem, worth lah isunya untuk menjatuhkan (walau publik terbelah karena isu ini sebenernya sangat debatable, tidak hitam putih, bahkan dari kacamata ilmiah).

Dia Tetap Bersinar

Ilustrasi

Kami tak jumpa pada hari Minggu. Padahal masih banyak yang kepingin dibincang. Kami lalu mengungkapkannya via surat: dia menulis untuk saya, saya menulis untuk dia. Saya ingat warna kertas yang digunakan Muna: hijau muda. Sebelum berpisah pada Sabtu seusai jamuan senja, kami saling memberikan surat masing-masing

Jadilah Pemimpin yang Otentik

 

Sebaliknya, pemimpin yang tidak otentik akan tampil seolah-olah mereka mencintai rakyat kecil dengan makan di warteg atau berdiri di samping bak dorongan sampah. Namun hasilnya konyol. Semua orang tahu itu adalah pura-pura. Untungnya (atau sialnya), selalu saja ada orang, bahkan banyak, yang lebih suka memilih pemimpin yang pura-pura asal satu agama.

Mental Pecundang (Tanggapan Analisis Harsubeno Arif)

Ilustrasi

"PLAYING VICTIM"
Jadi sangat disayangkan Hersu menulis artikel yang terkesan "playing victim" yang mencoba memposisikan Anis dan Sandi adalah pihak yang teraniaya dan akan terus menerus di ganjal. Komentar dia ini nampaknya paralel dengan PKS yang menyalahkan Djarot jika program DP rumah nol persen gagal dilaksanakan.

Surat Terbuka untuk Anies

Ilustrasi

Seperti halnya saya dulu memilih Prabowo ketika Pilpres - meski ternyata Jokowi yang terpilih - saya akhirnya tetap mendukung presiden yang terpilih secara sah dan konstitusional. Dan ternyata Jokowi mampu menunjukkan integritas, kualitas kepemimpinan dan kinerjanya. Tak ada alasan bagi saya untuk tak mendukungnya, bahkan kelak saat pilpres 2019.

Ahok dan Egi

 

Orang boleh omong apa saja--entah seberapa sesat ucapannya--asalkan muncrat dari pikiran yang jujur. Sila menganggap agama di luar Islam bertuhan entah 3 atau 999. Selama Pancasila memberi kebebasan kepada warga Indonesia untuk menghayati ketuhanan dengan rumusan, doktrin, dan teologi yang beragam, itu cukup.

Pages