212

Pilkada dan Kezaliman di Balik Topeng Kesalehan

Meski demikian, aku menyaksikan hal yang berbeda. Linimasa di jagat sosmed menampilkan wajah tak ramah. Perbedaan masih saja disikapi dengan marah-marah dan puncaknya kerap kali menuding pendukung petahana sebagai kaum munafik yang diharamkan menshalatkan jenazahnya.

Aku memilih bersuara demi Ibukota tercinta, Ibukota yang gagah menjadi sculpture Indonesia Raya. Maka dalam konteks Indonesia yang bukan negara agama, penjelasanku berikutnya semoga dapat membuka mata hati kita semua.

Pisau Berlumuran Darah Itu Mungkin Sumbangan Anda

Begini. Saat gerakan itu digagas, GNPF-MUI sebagai motor gerakan mengumpulkan sumbangan dari masyarakat. Dipakailah rekening atas nama Yayasan Keadilan Untuk Semua guna menampung dana-dana dari para donatur. Milayaran sumbangan mengalir.

Tapi, belakangan polisi mencium ada yang tidak beres pada pengelolaan keuangan. Ada sejumlah besar uang yang ditarik dan digunakan untuk kepentingan lain. Bahtiar Nasir sebagai ketua GNPF-MUI kini bolak balik diperiksa polisi.

Setelah 212 Lalu Apa?

Oleh: Anca Ursitadinata
 

Dirikan daulah Islam? Hukum minoritas dgn hukum Islam? Ga ada jelas cerita macam itu. Karena apa yg tampak dari 212 bukanlah perserikatan yg kokoh. Dilandasi tujuan masa depan lebih baik.. Atau itu tadi, mengupayakan daulah Islam.

Dilihat dari motif kumpul, yg sekedar ego dan emosi politis dadakan.. konklusi dari aksi juga malah disumbat oleh jokowi.

Jalan ummat Islam muncul sebagai kekuatan besar hanya sampai di titik menuntut tumbal, bukan membawa kesatuan islam politik yg lebih strategis menuju arah negara islam.

Pages