2018

Penolakan Yeni, Signal Prabowo Tak Layak Capres?

Ilustrasi
Ketiga, Salah pilih di Jakarta. Paska terpilihnya Anies – Sandi di Jakarta bukannya menguntungkan malah merugikan partai. Lihat saja sejak dilantik sampai saat ini polemik terus menerus terjadi. Mulai dari hal sepele administrative hingga hal-hal yang substansial yang jelas-jelas nir keadilan. Kita tahu soal salah kostum, penghapusan video rapat gubernur, kantor gubernur ditutup tirai, pengalihan pengaduan dari gubernur ke tingkat kelurahan.

PDIP Amankan Pilkada di Jawa dari Intoleransi

Ilustrasi

Di Jateng..
PDIP sebenernya bisa mengusung cagub sendiri. Karena tak mau Jateng lepas dan pede yang sedikit mengendur, PDIP berusaha menggandeng parpol laen. Terutama pemegang suara NU, yaitu PKB atau PPP. Gus Yusuf dari PKB atau anak mbah Maemoen Zubair sudah sejak sebulan lalu didekati.

Pesan Gus Dur dalam Pernyataan Yeni Wahid Saat Tolak Pinangan Gerindra

Ilustrasi
Lalu pilihan kata “punya tugas sejarah menjaga bangsa”, dapat diinterpretasikan sebagai tugas penting nan mulia. Bukankah Prabowo pernah jadi Danjen Kopassus? Bukankah dia Capres 3 kali? Bukankah sejak Gerindra berdiri, dia menjadi pengambil kebijakan penting di Partai berlambang kepala burung Garuda?  Berbicara tentang tugas menjaga bangsa kan mestinya tugas kita bersama, apalagi bagi Prabowo. Sebagai mantan tentara tentu tak perlu diajari bagaimana “menjaga bangsa”.
 

Pilkada 2018, Incaran Kaum Wahabi Kuasai Indonesia

Ilustrasi

Mereka mencoba memasukkan kader-kadernya untuk menjadi pemenang di setiap wilayah dan daerah, untuk menyatukan suara pada puncak pesta demokrasi bangsa ini yaitu Pilpres, untuk memuluskan visi dan misi mereka yaitu NKRI Bersyari'ah atau Khilafah dapat berdiri tegak, karena dari daerah, wilayah sampai pusat sudah dikuasai para kader-kadernya yang sudah mereka pasang sebelumnya.

Politik Identitas

Ilustrasi

Sekali lagi, orang mencari kesamaan identitas dalam berkawan, berbisnis, dan berpolitik, itu sangat wajar dan sah. Tetapi ketika yang terjadi adalah manipulasi dan politisasi, sama saja dengan membohongi rakyat dan merendahkan martabat agama. Mengapa itu terjadi? Mungkin seorang calon tidak cukup percaya diri dengan modal integritas, popularitas, dan kompetensinya, sehingga mesti mencari cara lain untuk membeli suara rakyat.

Kang Dedi Urang Lembur

Ilustrasi

Penaku tak henti bergerak di atas kertas putih, seolah tak dapat menahan diri untuk mencatatkan apa yang dapat dirasakan ketika membuntuti perjalanan Kang Dedi selama berada di tengah-tengah rakyatnya saat itu.

Kang Dedi tidak pernah mencoba beralasan lelah, lagi sibuk, dan sedang pertemuan rapat penting, ketika ada rakyat kecil datang menghampiri.

Pages