Zoonosis : Benarkah Hikmah Kelelawar Sebagai Reservoir Virus Karena Haram Dimakan?

ilustrasi

Oleh : Mila Anasanti

Sebenarnya reservoir (inang) hewan untuk 2019-nCoV belum diketahui hingga kini. Namun secara genetik, 2019-nCoV ini mirip dengan coronavirus dari kelelawar (96% tingkat kemiripan), agak berbeda dari SARS-CoV (79,5%). Sehingga dugaan terkuat hewan perantara yang berfungsi sebagai inang virus ini adalah kelelawar.

Bukan kelelawar haram dimakan hikmahnya karena diciptakan ada virusnya. Kalau hal itu dijadikan alasan keharaman, harusnya ayam yang paling haram karena flu burung menyebabkan kematian lebih tinggi dibandingkan 2019-nCoV.

Binatang diharamkan karena syariat Islam melarang. Jadi jangan dicocokologi.

Kelelawar dikenal paling banyak sebagai reservoir virus sebelum berpindah ke manusia, karena kelelawar mampu menyebarkan penyakit ke wilayah geografis yang lebih luas dengan kemampuannya untuk terbang dan migrasi.

Mungkin ada yang bertanya, kenapa 2019-nCoV baru merebak 2 bulan belakangan? Padahal beberapa pasien yang pertamakali terdeteksi positif berkaitan dengan Pasar hewan di Wuhan. Apa baru dua bulan ini masyarakat Wuhan mengkonsumsi kelelawar?

Sebenarnya virus yang hinggab di hewan (contoh kelelawar) ya sudah ada sejak dahulu. Tapi karena tidak terjadi mutasi, 'permukaan' virus ini tidak bisa menempel ke sel manusia, akibatnya ya tidak bisa menginfeksi manusia.

Yang harus diketahui yang namanya virus itu mudah sekali bermutasi (berubah susunan RNA nya).

Sekarang mengerti kan kenapa kalo anda bersin-bersin flu di depan ayam, ayam anda tidak ketularan ikut meler? Karena virus yang bisa hinggab di sel manusia belum tentu bisa hinggab di sel hewan, demikian pula sebaliknya.

Jika virus dari hewan bisa tiba-tiba hinggab di sel manusia (sebagaimana virus 2019-nCoV) ini karena virus tersebut telah terjadi mutasi secara alami.

Virus punya kemampuan mutasi secara alami yang adakalanya mengakibatkan 'permukaannya' bisa menempel ke sel manusia ibarat kunci dengan gemboknya yang sesuai.

Bahkan lebih jauh virus juga mampu bermutasi menyebabkan persebaran antar manusia.

Ini yang membuat 2019-nCoV cukup menghebohkan, karena mutasinya menyebabkan persebaran antar manusia sangat cepat. Bilangan eksponensial, di mana 1 penderita mampu menularkan ke 2 atau 3 orang. Bayangkan jika 1 orang ada 10 tingkat penularan, sudah 2¹⁰ = 1.024, nah kalau menyebar 100x, ya bisa dibayangkan jumlah yang terinfeksi (kurvanya pasti naik tajam karena eksponensial dengan bilangan berbasis 2 atau 3).

Adalagi bahkan yang tidak percaya adanya perpindahan virus dari hewan ke manusia (zoonosis), dengan bersandar testimoni ini:

https://www.facebook.com/moh.i.cah…/posts/10216081130965287…

Dalam video itu, seseorang mengaku terbiasa memaparkan dirinya dengan orthomyxovirus H5N1, sehingga berkesimpulan kalau konsep zoonosis itu tidak ada.

Padahal virus flu burung, orthomyxovirus adalah virus RNA yang memiliki 3 varian — A, B, dan C. Flu burung disebabkan oleh virus influenza A, yang memiliki 8 segmen RNA. Flu burung adalah ancaman potensial dan tak terduga bagi manusia karena sifat segmen genomnya.

Strain yang dianggap sebagai ancaman terbesar adalah A(H5N1), sebagian besar karena tingginya tingkat kematian terkait (hingga 60%, sedang di Indonesia lebih tinggi yaitu 80%).

https://www.who.int/csr/don/2012_08_10b/en/

Pertanyaannya, kenapa di Indonesia banyak yang bersentuhan dengan unggas/ayam yang sakit tapi tidak ikut tertular?

Pertama harus dipastikan lebih dahulu, varian mana yang menyebabkan unggas/ayam itu sakit? Tidak semua varian orthomyxovirus yang menyebabkan sakit pada unggas pasti telah bermutasi sehingga bisa menginfeksi manusia.

https://www.who.int/…/avian_influenza/h5n1_research/faqs/en/

Kedua, jika tidak terinfeksi BUKAN BERARTI KONSEP ZOONOSIS ITU TIDAK ADA. Bisa dikata, anda kebetulan saja lagi beruntung.

Ingat, virus flu burung terus mengalami perubahan genetik. Dan ini bakalan lebih berbahaya jika virus H5N1 menjadi lebih mudah menular antar manusia sebagaimana 2019-nCoV. Mutasi seperti ini juga pernah terjadi ketika virus flu H2N2 berevolusi menjadi strain flu Hong Kong H3N2.

Syukurlah untuk sementara, H5N1 tidak mudah menginfeksi manusia, dan penyebarannya dari orang ke orang tampaknya BELUM bisa.

Sehingga hanya sekitar lebih dari 700 kasus manusia yang terinfeksi H5N1 dari kurun 10 tahun terakhir, namun angka kematian dari yang terinfeksi ini sangat tinggi, yaitu 445. Artinya meksipun peluang terkena virus ini kecil, namun sekalinya kena, peluang untuk menghindari kematian sangat kecil.

Berbeda dengan 2019-nCoV yang peluang persebarannya cepat, baru 2 bulan sudah sanggub menginfeksi lebih dari 15 ribu orang, namun peluang meninggalnya lebih rendah yaitu 2 - 3%, sehingga di antara 17 ribuan orang yang terinfeksi saat ini, (baru) 300 an saja yang meninggal.

Hingga kini, selain test sequencing (membaca genom virus), tes molekuler dengan reaksi rantai balik transkriptase polimerase (RT-PCR) diperlukan untuk mengkonfirmasi diagnosis 2019-nCoV.

Sayangnya belum ada antiviral khusus yang tersedia, pasien yang terkena 2019-nCoV hanya akan ditangani untuk mengurangi gejala dan mencegah kerusakan organ. Namun, beberapa antiviral sedang diajukan untuk masuk fase uji klinis. Mudah-mudahan disegerakan. Aamiin.

Sumber : Status Facebook Mila Anasanti

Saturday, February 8, 2020 - 10:15
Kategori Rubrik: