Zonasi Sekolah Itu Pemerataan Hak

ilustrasi

Oleh : Samsul Maarif

Saya jadi pengen ikutan posting soal zonasi..

Anak saya, Muhammad Al Hikam diterima di SMP Negeri favorit karna zonasi. Nilai UN-nya 252 atau rata rata 84.

Ada dua SMP di kompleks perumahan saya di Gresik. SMPN 2 Kebomas dan SMPN I Manyar. Dua2nya lumayan favorit sebelum zonasi. Anak saya masuk SMPN 2 Kebomas. Jaraknya 956 M dari rumah.

Semua teman main-nya juga keterima. Jadi mirip sekolah di desa waktu kecil dulu. Teman main juga teman sekolah. Bersama bisa naik sepeda atau jalan kaki menuju sekolah.

Saya pernah baca majalah ada seorang public figur yang memilih tinggal dan menyekolahkan anaknya di Italia, tempat kelahiran istrinya, demi agar anaknya mendapat pengalaman semacam itu. Menurutnya itu sangat berharga.

Saya juga pernah baca, pakar dari Jerman mengatakan: tantangan berat sistem pendidikan bukanlah mencetak anak pintar jadi berhasil. Tapi bagaimana me'maintain' anak rata rata atau dibawah rata rata agar berguna atau minimal tidak jadi sampah masyarakat.

Saya kira sistem zonasi bisa dipahami dengan filosofi demikian. Kata Mendikbud, tujuan Zonasi adalah pemerataan. Sekolah negeri adalah public service. Anak bodoh, anak pintar semua punya hak. Kalau soal ada anak yang gak bisa masuk, itu harus dianggap sebagai kekurangan pemerintah dalam menyediakan 'public service', pemerintah harus mengejarnya.

Semua anak di komplek saya kayaknya diterima di SMP Negeri. Tapi ada anak tetangga saya yang terlempar ketika daftar SMA Negeri. Karna rumah tidak dekat dengan SMA Negeri manapun.

Jika tidak dibangun SMAN baru di sekitar kami, saya kira anak saya akan mengalami nasib yang sama saat lulus nanti.

Ahh..atau aturan mungkin sudah berubah tiga tahun lagi..

Buat yang kecewa dengan sistem zonasi, saya memahami perasaan saudara-saudara..

Tiga tahun lagi, saya Insyaallah akan ada di barisan anda..

#hahaha

Sumber : Status Facebook Samsul Maarif

Friday, June 21, 2019 - 10:00
Kategori Rubrik: