Zonasi Sekolah Dan Hak Pendidikan

ilustrasi

Oleh : Septin Puji Astuti

Ada UN dan dijadikan acuan masuk sekolah, negara diprotes oleh yang tidak setuju.

Nilai UN tidak jadi pertimbangan sama sekali dan mulai menggonakan catchment area (song ngenggris) alias zonasi, negara diprotes lagi oleh yang gak setuju.

Apa lagi? hehehe ...

Dominasi sekolah favorit yang itu-itu saja memang akan melenakan guru-guru di sekolah favorit. Ya, terbiasa dapat murid pinter dan rajin. Gurunya merem aja, muridnya udah bisa gerak otak dan badannya sehingga (kesannya) menghasilkan murid bagus. Lha wong gurunya merem dan muridnya merem aja kalau muridnya memang kualitas bagus ya bisa unggul kok.

Beda dengan guru sekolah 'pinggiran'. Mereka harus jungkir balik untuk menghasilkan murid yang bagus. Gurunya pinter tapi muridnya gak 'nyandak' tetap aja bikin gurunya harus lebih banyak gaya supaya menghasilkan murid yang bagus. Coba kalau sekolah pinggiran ini bertahun-tahun bahkan puluhan tahun seperti itu. Sekolah yang dapat mahasiswa bandel-bandel karena yang pinter masuk sekolah favorit, lama-lama gurunya ya bosen dam gak sabar. Misalkan gurunya jadi mudah marah, mudah mukul muridnya, saya kira saya akan maklum meski saya gak sepakat kekerasan di dunia pendidikan. Sekolah jelek makin jelek, sekolah bagus makin bagus. Itu jika menggunakan sistem NEM sebagai acuan diterimanya murid. Kalau kata orang Inggris, itu diskriminasi terhadap anak.

Sistem zonasi di awal memang pasti gak enak. Orangtua mana sih yang gak bangga anaknya bisa masuk sekolah favorit? Saya yo ngarep. Dulu awalnya tenang-tenang aja, sekarang ikut ketar-ketir masalah sekolah di mana karena saya tinggal di pinggiran yang sangat jauh dari sekolah favorit hehehe ...

Ya wis dinikmati saja. Kalau dulu ketar-ketir lihat ranking berdasar NEM, kalau sekarang rangkinnya berdasarkan jarak rumah. Fair?

Semua ada plus dan minusnya. Ya kayak dulu pas sekolah, kita belajar serius tapi yang dapat nilai bagus orang lain yang gak belajar tapi dia tokcer otaknya atau mereka yang gak belajar tapi pintar ngakali sistem. Itu fair?

Bagi yang gak sepakat ngakali sistem ya gak fair. Tapi bagi yang melihat ngakali sistem itu halal ya itu fair aja sih ...

Demi anak katanya ...

Wis ah,
Sugeng dalu sederek

Sumber : Status Facebook Septin Puji Astuti

Monday, June 17, 2019 - 20:45
Kategori Rubrik: