Zonasi Sekolah, Angkat Potensi Anak

ilustrasi

Oleh : Desrinda Syahfarin

Memperhatikan daftar SMA ini cukup menguatkan kepercayaan pada mutu sekolah di dekat rumah yang ternyata masih masuk top-100 walaupun jauh di bawah sekolah-sekolah "favorit" (yang beberapa entah kenapa ada angka 8-nya: 8, 28, 68, 81).

Sistem zonasi sebenarnya bagus. Pertama, secara jarak maka anak-anak bisa ke sekolah tanpa tergantung kendaraan umum atau fasilitas antar/jemput (anak saya selalu pulang/pergi ke sekolah naik sepeda sejak kelas 2 SD). Irit waktu, biaya, tenaga.

Kedua, karena sekolahnya bukan "unggulan" (dulu waktu diterima di UI saya heran kok teman-teman sekelas asalnya dari SMA yang itu-itu saja se-Jakarta/Bogor/Padang), maka ikhtiar orang tua pun jadi harus lebih besar untuk mengusahakan anak agar berhasil mendapat pendidikan selanjutnya yang terbaik di perguruan tinggi nanti. Tak bisa lepas tangan, "Ah...pasti masuk UI, khan SMA unggulan..."

Dengan sistem zonasi sebelumnya, orang tua lebih leluasa meraih kemungkinan anak masuk sekolah favorit karena tahap 1 adalah "jalur umum", siapa pun boleh mendaftar ke sekolah mana pun. Walaupun kuotanya sedikit, ya daftar saja. Seandainya tidak diterima di sekolah favorit itu khan bisa ikut tahap 2 yang menerapkan zonasi dengan kuota lebih besar sehingga kemungkinannya besar diterima di sekolah negeri.

Sistem tahun ini, dibalik jalur zonasi dulu baru jalur umum, calon siswa yang ingin masuk sekolah favorit (yang di luar zonasi sesuai KK) harus melepaskan tahap 1, tunggu jalur umum di tahap 2. Resikonya, tidak diterima di sekolah favorit itu (karena kalah di seleksi) tapi kehabisan pula bangku di sekolah dekat rumah. Terpaksa swasta deh.

Anyway kenapa mesti sekolah favorit sih? Sebenarnya karena memang somehow metode guru mengajar, fasilitas belajar, atau sistem kedisiplinan yang diterapkan, memang lebih unggul dari yang lain.

Yang lain dicap "kurang" tentu karena banyak faktor, contohnya ada SMA dekat rumah yang saya googling ternyata (dulu) jumlah siswi yang hamil di luar nikah cukup tinggi.

Sekolah saya dulu, SMAN 6 Palembang, terhitung "kurang" karena NEM saya yang lulus terbaik (rata-rata 8.14) ternyata tidak ada apa-apanya dibandingkan teman-teman sekelas di UI yang lulusan SMA unggulan di Jakarta/Bogor/Padang. Cuma saya sendiri yang kuliah di UI, lulusan SMA seangkatan saya kebanyakan "cukup" di Universitas Sriwijaya atau IAIN Raden Fatah atau perguruan tinggi swasta di Palembang.

Sejak UN SD lalu, saya perhatikan bahwa memang sulit menstandarisasi kualitas pendidikan di seluruh sekolah se-Indonesia. Soal-soal yang diberikan kepada anak di sekolah unggulan di Jakarta tentu beda hasilnya dengan jawaban anak yang sekolah di dusun terpencil.

Saya beruntung bahwa ibunda saya yang alumni Boedoet, jebolan Biologi dari IKIP Jakarta, telaten mengajari anaknya membaca dan berhitung sejak usia balita sehingga saya lancar baca koran dan menggunakan mesin ketik sejak usia 6 tahun, loncat kelas (bisa dibilang langsung sekolah di kelas 3 SD karena kelas 1 dan 2 masing-masing hanya sebulan lalu dipulangkan ketimbang reseh sendiri mengganggu anak-anak lain yang baru belajar mengeja ABC).

Ayahanda saya yang tentara terlalu sibuk jaga negara, tapi segala kitab-kitab trigonometri, IPA dll miliknya menemani saya belajar sampai lulus SMA (boekoe jadoel itu lebih keren dan asyik dipelajari lho!). Ibunda saya kemudian berhenti mengajari sejak menemukan bahwa beliau harus menerangkan "simbiosis mutualisma/komensalisma/parasitisma" kepada anaknya yang baru kelas 1 SMP sementara ilmu itu baru dipelajarinya di bangku kuliah. Katanya: "Des, mulai sekarang kamu harus belajar sendiri, karena kalau pelajaranmu sudah segini tinggi ya Bunda nggak sanggup lagi mengajari,"

Jadilah sejak saat itu sampai lulus SMA, seluruh dinding kamar saya hingga plastik pelapis meja belajar bahkan cermin di lemari pakaian dipenuhi segala rumus matematika/fisika/kimia yang saya tulis sendiri dengan spidol permanen. Ya gimana lagi, semangat belajar tinggi tapi orang tua saya tak mampu membayari bimbingan belajar tambahan dan tentunya guru-guru di sekolah tak akan mampu memastikan semua anak mengerti apa yang mereka ajarkan (jadi saya terpaksa belajar secara mandiri).

Alhamdulillah kayaknya mengajar matematika/fisika/kimia buat Alif sampai lulus SMA sih saya masih mampu (buat apa sekolah tinggi-tinggi kalau tak bisa berbagi ilmu dengan anak sendiri?). Selama 3 tahun di SMP, saya biarkan dia menikmati masa remaja, terserah mau belajar gimana yang penting naik kelas, malah banyakan diajak keluyuran (termasuk 4 minggu ke India-Pakistan justru 3 bulan sebelum UN). But holiday's over now, wisuda SMP tadi pagi adalah penanda akhir masa transisinya dari anak kecil menjadi dewasa muda.

Minggu lalu saya belikan dia segepok buku-buku kumpulan soal UN SMA dan segala ringkasan materi matematika/fisika/kimia/biologi, plus tabel sistem periodik, senang sekali ternyata ujug-ujug dia bertanya: "Sin cos tangen itu apa sih, Bunda?"

Yuk, Nak. Kita gelar whiteboard lagi, yang selama ini berdebu di pojokan, penghapusnya jadi mainan kucing, spidolnya pun mengering. Bunda akan ajari "sindemi, cosami, tangdesam, halinaka rb cs fr, hicomeorkuhibiuapu".

#cemungudh
#bundamengajar

Sumber : Status Facebook Desrinda Syahfarin

Sunday, June 23, 2019 - 19:15
Kategori Rubrik: