Zonasi Berkeadilan

ilustrasi

Oleh : Budi Setiawan

Bayangkan anak di kawasan kumuh Jatinegara bisa masuk SMA 54 yang favorit itu. Atau anak-anak di kawasan bantaran sungai Manggarai bisa masuk SMA 68. Atau anak Babakan Ngantai masuk SMA 13 di Jakarta Utara. Dan anak-anak miskin dengan NEM rendah lainnya bisa masuk ke sekolah favorit yang sebelumnya cuma mimpi belaka. Yang tadinya cuma lewat dengan hati iri.

Namun mimpi itu sekarang menjadi kenyataan dengan sistem zonasi yang meniadakan persyaratan masuk sekolah favorit dengan NEM tinggi. Sekolah favorit itu kini punya tugas besar mengubah anak didik dengan NEM rendah menjadi pintar.

Sistem baru ini membuat para guru sekolah favorit yang terbiasa mendidik anak hampir jadi alias semuanya pintar-pintar, harus siap kerja keras. Para guru tidak bisa lagi ongkang kaki tinggal ngedadar. Tinggal kasih soal dan biarkan murid cari cara sendiri. Lewat internet atau lewat para pangajar bimbel. Maklum saja, sekolah favorit rata-rata muridnya dari kalangan berpunya. Sejak kecil bergizi tinggi karena orang tuanya mampu hingga cerdas sampai ke jenjang SLTA.

Namun dengan sistem zonasi, anak miskin dan NEM rendah belajar di sekolah favorit sejauh rumahnya berdekatan. Dan para sekolah favorit sekarang harus putar otak untu menerima murid yang hanya bisa menangkap pelajaran melalui “ jalan non tol.”

Murid mereka harus diajarkan berkali-kali supaya mengerti. Beda dengan siswa sebelumnya yang ber NEM tinggi yang cepat menerima pelajaran. Jadi tidak ada istilah buat para guru sekolah favorit untuk berleha-leha lagi di era zonasi.

Sekolah top itu juga tidak bisa lagi semena-mena dalam menyingkirkan anak didik yang bernilai rendah dari lingkungan mereka.

Sudah jadi rahasia umum, jika anak didik tidak bisa mencapai rata-rata kelas yang biasanya dipatok tinggi, orang tua diperingatkan dan di jelaskan bahwa secara tidak langsung anaknya tidak cocok di sekolah “ber standard tinggi”.

Mereka kemudian mengarahkan orang tua agar anaknya dipindahkan ke sekolah lain. Artinya diminta mengundurkan diri. Kan malu kalau tinggal kelas... demikian penjelasan klasik para guru sekolah favorit itu.

Sekolah malu dan konon peformanya dianggap turun oleh Kanwil Pendidikan setempat jika ada anak yang tidak naik kelas. Anak yang bodoh dan harus tinggal kelas dianggap sebagai kegagalan sekolah mendidik yang bersangkutan.

Padahal pandangan itu sama sekali salah. Guru dan sekolah tugas utamanya adalah mendidik anak murid hingga pintar sesuai kemampuannya. Bukan menyingkirkan anak bermasalah ke sekolah yang lebih rendah “ratingnya” atau sekolah swasta abal-abal.

Sistem zonasi mengubah semua itu. Tidak ada lagi kata malu bagi sekolah jika nantinya anak tinggal kelas. Tidak ada lagi alasan buat guru untuk jajan di jam pelajaran karena mereka harus lebih intensif mengajar anak didik yang lambat menangkap pelajaran. Jadi para guru harus kerja keras. Mereka sudah digaji tinggi jadi kita tuntut untuk menaikkan dedikasi agar anak didik berprestasi. Era leha-leha makan gaji besar sudah lewat di era zonasi

Dan sekarang saatnya, para guru, terutama yang terbiasa mengajar di sekolah favorit dengan anak-anak pintar lagi kaya, untuk kembali pada tujuan dasar mendidik.

Yakni mengubah sampah menjadi kompos.

Mengubah yang nakal menjadi berakal.

Mengubah yang lambat menjadi pintar dan menjadi insan yang bermanfaat.

Sumber : Status Facebook Budi Setiawan

Wednesday, June 19, 2019 - 20:15
Kategori Rubrik: