Zona Hijau VS Zona Merah, Husnudzon?

ilustrasi

Oleh : Ahmad Sarwat Lc MA

Beberapa jamaah sempat mengkritik saya terkait tulisan saya tentang tidak bolehnya shalat berjamaah di masjid. Mereka bilang, ustadz harus bedakan bahwa yang antum maksud itu hanya berlaku di zona merah wilayah antum.

Sedangkan kami ini berada di zona hijau, maka apa yang antum bilang itu tidak berlaku bagi kami. Kami masih rutin shalat jamaah 5 waktu dan shalat Jumat juga.

Saya sih tidak marah, biarkan saja dia ngomong pembagian zona. Mungkin itu ijtihad-nya dia pribadi.

Cuma saya tanya balik ke orangnya. Antara zona merah dan zona hijau itu di-lock total atau orang-orang masih bisa keluar masuk?

Dia bilang, di komplek kami kebijakannya tidak boleh ada orang dari luar boleh masuk. Jadi wilayah kami tertutup dari kemasukan orang luar. Di gerbang komplek kami tempatkan pihak keamaann berlapis, termasuk ronda dari masyarakat kami hidupkan.

Oh, gitu ya, jawab saya. Terus penghuni kompleknya gimana? Boleh nggak mereka keluar komplek?

Kalau penghuni komplek tentu boleh keluar. Yang kita larang itu orang luar masuk ke komplek kami, gitu jawabnya.

Saya balik bertanya,"Kalau penghuni komplek boleh keluar, apakah masih boleh pulang masuk lagi ke komplek?"

Boleh, kan dia warga kami. Tapi ada prosedur yaitu suruh nunjukkan KTP atau kartu masuk.

Wah mantab dong. Btw, trus apa dia dijamin pulangnya nggak bawa virus?

Hmm ya kita sih husnuzhan saja. Masak warga sendiri jahat sih pakai bawa virus ke komplek sendiri.

Husnuzhon? Wahahaha

TErus masjid di komplek yang katanya di zona hijau itu, apa diseleksi jamaahnya?

Diseleksi bagaimana?

Apa dijamin yang ikutan jumatan disitu tidak bawa virus? Apa semua dirapid tes dulu, atau diswab dulu?

Wahh, nggak sampai kesitu sih. Kita kan harus huznuzhon, masak tega ada jamaah ke masjid bawa-bawa virus.

Husnuzhon? Wahahaha

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat Lc MA

Saturday, May 2, 2020 - 16:30
Kategori Rubrik: