Zohri, Di Indonesia Ngeributin Bendera Dan Dunia Mengapresiasinya

Ilustrasi

Oleh : Miranti Hirschmann

Kalau saya mau dibilang sotoy ya silakan. Saya cuma mau nostalgia sedikit saat liputan IAAF 2009 di Berlin. Kalo mungkin masih ingat, itulah saat Usain Bolt pecah rekor lari 100 meter putra dengan 9,58 detik.

IAAF baik world championship maupun IAAF world u20 selalu dilaksanakan saat musim panas, sekitar bulan Juli. Durasinya sekitar seminggu , karena partai partai pertandingannya banyak banget. Yang unik, pertandingan pertandingan ini hanya dilaksanakan pagi dan sore, sekitar jam 17 mulai lagi hingga malam.

Apa yang terjadi diantara pertandingan pagi dan malam? Pastinya matahari lagi terik teriknya. Tidak ada pertandingan. Saat IAAF Berlin, di Olympia Stadion, wartawan yang terkakreditasi mendapatkan akses bebas menggunakan kolam renang yang lokasinya berdampingan. Habis berenang, mereka berjemur, pepe kayak ikan asin, mandi, baru meliput lagi hingga malam hari. Wartawan yang diijinkan masuk lintasan lari? Mereka adalah wartawan televisi dan fotografer yang nota bene media partner. Ada panggung khusus buat fotografer dan campers yang bukan media partner.

Walau sudah 9 tahun berlalu saya pikir aturan pertandingan dan akreditasi buat wartawan bukannya makin longgar pastinya makin ketat. Pertama IAAF world champion apaan sih ya. International Association Athletic Federation. Ya semacam FIFA di cabor sepakbola. Atlet yang tanding di IAAF harus memenuhi berbagai kualifikasi. Salah satunya pernah ikut dan punya performance dalam pertandingan tingkat nasional atau regional.

Di tahun 2009 itu saya sempat nonton partai partai pertandingan babak penyisihan awal dimana atlet Indonesia Serafi Anelies Unani dan Fernando Lumain bertanding. Saat itu ada pengurus PB PASI mendampingi. Dimana mereka saat itu? PB PASI walaupun anggota delegasi duduk jauh dari panggung, sementara pelatih pun tidak diijinkan mendampingi hingga lintasan lari. Mereka hanya dapat mendampingi hingga area tertentu. Selebihnya mereka menunggu di tribun penonton. Sama seperti saya saat itu. Walau saya sudah berdiri di ring terdepan di area para awak media, yang lumayan dekat dengan lintasan lari, tetap saja masih ada pagar pagar pembatas di lintasan lari.

Saya ngga habis pikir mengapa yang diributkan netizen malah bendera saat pengumuman kemenanan Lalu M Zohri di Tampere Finlandia. Hasil bincang bincang dengan Ibu Wiwiek Setyawati Firman, Duta Besar RI untuk Finlandia mengatakan saat pertandingan final 100 meter putra itu, kedua pelatih pendamping sibuk memasang kamera untuk merekam performance Lalu Zohri, untuk dibahas nantinya menghadapi pertandingan di Asian Games.

"Bendera sudah kita bawa, untuk dibagikan pada supporter Indonesia, bahkan bendera dari ruang kerja saya yang biasanya dipasang bersebalahan dengan bendera Finladia itu tak bawa sekalian mbak," kata ibu Dubes. Ada berapa WNI di Tampere? "Sekitar 30 termasuk bayi bayi," sambung bu Dubes. T-i-g-a p-u-l-u-h. Dan pertandingan itu pada hari kerja. Dimana bu Dubes dan staf KBRI duduk? "Dalam stadion, beli tiket 12 euro tapi sayangnya dapatnya jauh dari lintasan lari, jadi nonton lewat layar raksasa itu".

Jarak Tampere-Helsinki? Sekitar dua setengah jam bermobil. Kalau WNI di Helsinki mau nonton pertandingan? "Ya beli tiket kereta satu jalan 50 Euro lalu tiket 12 euro, pulangnya 50 euro lagi". 120 Euro untuk WNI di Helsinki kalau mau nonton pertandingan. Itupun kalau tertarik sama atletik.

Indonesia meledak saat Zohri mampu memenangkan pertandingan. Tapi kenapa banyak hal hal kecil yang diributkan? Ya kenapa pelatih cuma sedikit yang ikut? Lho, bagus kan? efektif!! Finlandia emang dimana? Pernah iseng cari penerbangan ke Finlandia? Jauh lho. Jauh dari mana mana. Sumpah. Ntar kalo banyak delegasi katanya buang buang duit. Sedikit, eh salah juga.

Kenapa Ketua PB PASI Bob Hasan begitu keras dalam menanggapi kemenangan Zohri? Kenapa yang dicari bukan saat Zohri latihan sebulan di Amerika dan pertandingan di UCLA Drake Stadium Mei lalu? Kenapa bukan kehebohan WNI dan PPI di Finlandia yang ikut mensupport Zohri dan Moan? Moan siapa? nah lo, siapa ya? ...

Lalu Zohri, pemuda sederhana dari NTB, tak pernah absen shalat 5 waktu, setia menunggu kiriman nasi dan lauk dari bu Dubes Wiwik bahkan di hari pertandingan. Para pelatih sempat khawatir karena Zohri ngotot menunggu kiriman nasi dengan hanya makan roti roti dan selai kiriman wisma duta yang tersisa, tak mau roti Finlandia, tak mau salad Finlandia.

Kini wajahnya langsung dikenali para pramusaji di Hard Rock Cafe Helsinki "Hey! Indonesia? You are the world champion!". Ia mendapat hadiah segelas es krim besar dengan kembang api diatasnya dan para pramusaji HRC yang cantik cantik itu minta berfoto dengannya.

Sekali lagi selamat buat Lalu Zohri. Mudah mudahan kemenangan ini hanya awal untuk kesuksesan dan keberhasilan berikutnya. Saat ini, Zohri menghindar dari sorot kamera media. Nomer telepon yang tak ia kenal tak diangkatnya. Kadang ia berikan hpnya pada pelatih. Ia memilih menikmati batang batang coklat Finlandia sebagai hadiah kecil untuk kemenangannya.

Sumber : Status Facebook Miranti Hirschmann

Sunday, July 15, 2018 - 14:15
Kategori Rubrik: