Zakir Naik, Ulama yang Tak Bisa Bahasa Arab

Oleh: Kajitow Elkayeni
 

Kekurangan Zakir Naik itu sebenarnya hanya satu, tapi fatal untuk disebut ulama, dia tak bisa Bahasa Arab. Jadi selama ini dia memahami Alquran dan Hadits dari terjemahan. Itupun dengan pembacaan yang sangat buruk. Bagaimana mungkin seseorang disebut ahli agama jika tak memahami bahasa asal kitab suci agama tersebut?
 
Orang-orang mudah terpana dengan pertunjukan mengislamkan orang. Yakin itu bukan sandiwara? Ada banyak bukti jika ingin melacak hal itu. Ada banyak show semacam itu dari berbagai agama. Itu bukan hal baru. Orang-orang yang gumunan, kagetan, ngowohan sebenarnya tidak bodoh. Mereka hanya kurang piknik.
 
 
"Tapi ustadz-ustadz menyambut dia bak pahlawan lho? Jusuf Kala bahkan mengundangnya ke istana." Ya karena mereka koplok. Kalau ulama betulan ya tak mungkin ikut koplok. Dan Jusuf Kalla itu bukan ulama. Ustadz televisi tentu ingin pasang muka, jaga langganan. Lagipula, mereka itu belum teruji keulamaannya.
 
"Eh, di Gontor kabarnya disambut hangat juga lho?"
 
Gontor? Jika itu benar, saya beri ilustrasi begini. Dulu di sekolah saya ada anak magang dari Gontor, cewek. Saat itu saya sudah jadi guru bantu, badal, serep. Jadi waktu saya santai ngerokok di kantor nunggu jam berikutnya, guru magang ini masuk nyari ustadz senior. Perkaranya sepele, waktu dia lagi ngajar kitab matan ketemu kata "aswaq" dan tak tahu artinya wak wak wak. Padahal itu bentuk jamak dari "suq" yang artinya pasar.
 
Jadi jangan seperti buih, koplok dan terombang-ambing gelombang pemujaan tukang jual retorika yang tak bisa Bahasa Arab. Namanya Zakir Naik. Sudah dibanned banyak negara, termasuk negaranya sendiri, India. Bodoh itu sederhana, retorika yang membuatnya ruwet.
 
 
Sumber; Facebook Kajitow Elkayeni
Wednesday, April 5, 2017 - 11:00
Kategori Rubrik: