Zabalin, Peternak Babi di Mesir

Oleh: Sumanto Al Qurtuby

 

Jika di India ada komunitas Dalit, di Mesir ada Zabalin yang secara harfiah berarti "orang-orang pengumpul sampah". Komunitas Zabalin ini bukan hanya Muslim tetapi juga pengikut Kristen Koptik yang di Mesir berjumlah sekitar 10-15%. 

Mesir, seperti negara manapun di dunia ini, bukan hanya berisi tempat-tempat indah memikat para turis tetapi juga terdapat berbagai kawasan "slums" yang sangat memprihatinkan: kotor dan miskin. 

 

Jika New York City punya The Bronx, Kairo punya Manshiyat Nasser. Di kawasan ini Anda akan menyaksikan gunungan sampah dimana-mana: jalan, lorong, gang, dan bahkan atap rumah. Masnshiyat Nasser memang "Kota Sampah" karena disinilah destinasi pembuangan sampah warga Kairo. 

Ada sekitar 300 ribu warga miskin Mesir yang tinggal di kawasan ini dan menggantungkan hidup mereka dari sampah. Laki, perempuan, tua-muda-nak-kanak semua bekerja sesuai dengan tugas masing-masing. Misalnya, yang laki-laki ngumpulin plastik, yang perempuan kaleng, dan seterusnya. 

Mereka mengsortir barang-barang yang masih bisa dijual kembali, dikonsumsi, dipakai, atau di-recycle. Komunitas Zabalin memang menggantungkan hidup mereka sehari-hari dari sampah. Nah, untuk membantu membersihkan sampah-sampah itu, terutama sisa-sisa makanan, mereka menggunakan babi. 

Sebetulnya ada juga keledai atau domba tetapi kerja mereka lemot tidak segesit babi dalam hal membersihkan sampah. Ada ribuan babi yang "dipekerjakan" gratis tanpa upah di area ini sebagai "seksi kebersihan". 

Bukan hanya dipakai untuk membantu membersihkan sampah saja, babi juga dijual ke restoran-restoran yang mau menerima untuk dibikin "hulai babi", "babi huling", atau "BPK" (Babi Panggang Karo) untuk para turis maupun untuk warga Kristen, atau mungkin Muslim sekuler. 

Komunitas Zabalin pada awalnya adalah para petani yang tinggal di area pegunungan di Mesir. Karena hidup susah dan paceklik berkepanjangan akhirnya mereka sejak 1940an migrasi ke daerah bawah di kota Kairo. Pada mulanya mereka mencoba menjadi peternak ayam, domba dan babi. Tapi kemudian mereka melihat sampah yang lebih menjanjikan secara ekonomi. 

Mereka menawarkan menjadi pengumpul sampah dari rumah ke rumah di Kairo dengan sedikit imbalan yang kemudian diangkut dengan keledai atau truk sampah untuk dibawa ke Manshiyat Nasser untuk dipilah-pilah. Fenomena ini adalah dampak dari tiadanya sistem pengeloaan sampah yang memadai di Mesir. 

Tapi ngemeng-ngemeng soal perbabian di Timur Tengah, makhluk ini bukan hanya eksis di Mesir saja tetapi juga di sejumlah negara lain seperti Iran, Aljazair, Suriah, Libanon, dlsb. Kalau di Yaman atau Arab Saudi sepertinya tidak ada babi, adanya baby, kebab, atau "kabib"

Jabal Dhahran, Jazirah Arabia

 

(Sumber: Facebook Sumanto AQ)

Friday, October 4, 2019 - 17:15
Kategori Rubrik: