Zaadit, Tolol Boleh Tapi Jangan Diperalat Kepentingan Politik

Ilustrasi

 

Oleh : Muhammad Jawy

Zaadit, aku termasuk yang tidak mempersoalkanmu ketika kamu mengeluarkan kartu kuning dan meniup peluit kepada Presiden sah NKRI. Ok, masih ada silang pendapat, masalah pantas dan tidak pantas. Tapi aku lebih condong bahwa itu bagian dari kebebasan berpendapat, dimana kamu berhasil menarik perhatian masyarakat luas dengan ide gilamu yang unik. Disini aku salut dengan keberanianmu.

Kemudian banyak masyarakat yang ramai menghujatmu. Kamu sudah tahu itu akan terjadi. Tapi kamu juga paling tahu, di era polarisasi ini, jalan itu pula yang akan mengangkatmu sebagai pahlawan instan bagi kelompok yang tidak mendukung Presiden, dan jumlahnya tidak kecil. Kamu menemukan peluang yang sangat jitu untuk membuka jalanmu sebagai tokoh di kelompok masyarakat itu. Well done, tidak semua orang bisa sejenius kamu.

Sikap kritis mahasiswa hingga dalam level ekstrim sebenarnya tidak pernah menjadi masalah bagi masyarakat manapun. Dulu asrama kampus sampai diberondong tentara karena mereka juga main gila dengan mengkritik habis rezim. Mulai dari Arief Rahman Hakim hingga Elang Mulia Lesmana dan kawannya tewas diterjang peluru karena berani keras dan lantang bersuara terhadap rezim yang menguasai negeri. Hingga kini nama mereka harum diabadikan sebagai pahlawan, tanpa ada yang mendebatnya.

Nah, sikap kritismu sangat bagus, Zaadit. Masalahnya adalah kamu dinilai partisan, sedangkan Arief dan Elang itu tidak partisan sama sekali. Otomatis wajar jika sikap partisanmu yang sangat kentara ini memicu kemarahan dari salah satu pihak yang saat ini masih bersengketa pasca Pillpres 2014 yang sudah lama berlalu tapi bau kentutnya masih sangat beraroma. Dampaknya adalah merebak orang yang ingin memarahimu, mendampratmu.

Tapi tahukah kamu, Zaadit. Yang sebenarnya ingin mereka marahi, adalah elit-elit politik yang saat ini memanfaatkanmu. Elit-elit politik inilah yang memiliki sifat pengecut dan sama sekali tidak punya keberanian seperti kamu, tapi mereka menggunakanmu sebagai simbol "perlawanan" mereka. Elit politik ini yang berlumuran dosa, entah karena keseringan memfitnah, atau terlilit kasus korupsi, sehingga mereka tidak punya nyali sepertimu untuk berani mengkritik langsung dengan keras. Sekali lagi, bukan kamu, kamu hanyalah proxy saja. Hanyalah sarana untuk meluapkan emosi mereka.

Aku bersimpati kepadamu, Zaadit, karena aku pun pernah mengalami masa sebagai mahasiswa. Mahasiswa adalah fase terindah ketika kita bisa berbuat tolol, tanpa harus banyak mendapatkan konsekuensi. Kalau kamu misalnya berbuat tolol, dengan mengatakan bahwa jalan tol itu hanya menguntungkan orang kaya yang bermobil, maka aku dan kawanku pun pernah sering berbuat tolol pada usia yang sama denganmu. Masak sih mahasiswa tidak boleh tolol?

Salah satu ketololanku waktu kuliah di Bandung adalah malas kuliah, dan lebih rajin ikut aktivitas luar kampus. Suatu pagi ada mata kuliah yang aku malas hadir, dan lebih memilih tidur pagi di kamar. Nah teman kostku, teman baikku, ia pagi-pagi sudah berada di kelas. Dan karena ia sangat baik, maka ia "berbuat baik" dengan mengabsenkanku di kelas padahal aku tidak hadir, dan tidak pernah dalam sejarah aku minta titip absen. Dan ketahuan pula, alamak! Tolol yang tidak ketulungan, bukan? Karena jumlah kehadiran sama sekali tidak mempengaruhi penilaian, tapi ketidakjujuran jelas sangat fatal. Sang dosen kemudian meminta supaya kami berdua menghadap beliau esok pagi, dan salah satu diantara kita harus mendapat "E".

Jaman itu belum ada hape, sehingga baru sore kami ketemu di rumah kost dan ia cerita apa yang terjadi di pagi hari. Tentu saja, aku langsung bilang kamu tolol banget, ada kuliah yang absen tidak dihitung malah kamu mengabsenkanku, ketahuan pulak. Sudah pasti ia yang salah dan tolol, dan tidak ada jalan selain "E" buatnya. Tapi aku tahu ia melakukannya karena berniat baik kepadaku, meski dengan jalan yang tolol. Akhirnya kami berdua esok pagi menghadap sang dosen, dan menyatakan bahwa kami mengusulkan untuk mendapat nilai "E" buat kami berdua. Ya aku memutuskan untuk menemaninya mengulang di tahun depannya, sebuah keputusan yang tentu juga sangat tolol. Nggak papa sama-sama tolol, yang penting persahabatan tetap kuat.

Jadi Zaadit, janganlah kamu bersedih karena diserang oleh banyak orang yang tidak mentoleransi ketololanmu. Mereka ini gaje-gaje seolah mereka tidak punya sejarah ketololan ketika kuliah. Aku cuma pesan, kalau kamu ingin dikenal sebagai mahasiswa idealis yang kritis, maka untuk melakukan kritik, jangan menelan umpan yang dilempar oleh elit politik. Kritiklah sesuai dengan apa yang kamu pernah alami bersama rakyat, bukan sekadar diperalat oleh elit politik untuk agendanya. Carilah kritik yang orisinil dan akurat, jangan makan kritik-kritik yang sering ngasal di medsos, semodel J*n*u yang kadang kamu share.

Wahai Zaadit, hiduplah yang nyaman meski kadang kita berlaku tolol di kampus. Yang penting kejujuran tidak ditinggal. Dan jangan mau diperalat oleh elit politik. Kamu bukan hamba mereka. Aku salut kepadamu ketika kamu menolak tawaran umroh gratis dari tukang politik penyebar fitnah dan hoax. Itu keputusan yang sangat baik, aku melihat masih ada harapan pada dirimu.

Banyak ketololan yang bisa kita lakukan dengan asyik sambil kuliah, tapi jangan sekali-kali menjadi hamba elit politik, karena itu itu adalah ketololan maksimal seorang mahasiswa yang sulit diobati.

Ini adalah simpatiku yang tulus kepadamu, Zaadit. Dan sebagai simbol, kuberikan gambar kartu Simpati kepadamu.

Sumber : Status Muhammad Jawy dengan judul asli simpatiku kepada Zaadit Taqwa

Thursday, February 8, 2018 - 15:00
Kategori Rubrik: