Zaadit, Tirulah Dilan

Oleh: Aldie Al Kaezzar

 

Menyimak Mata Najwa yg menghadirkan beberapa ketua BEM dan pejabat negara membuat saya gembira sekaligus sedih. #Gembira karena mahasiswa masih dengan idealismenya berani #terbuka menyuarakan aspirasi, namun sekaligus sedih. #Sedih karena ternyata problem #literasi di negeri ini sangat parah.

Persoalan kartu kuning itu sendiri sebenarnya sangat sah, normal, wajar. Siapapun atas nama kebebasan bersuara berhak menyampaikan aspirasinya. Persoalannya bukan di kartu itu sendiri, lebih dari itu. Zaman sudah #berubah. Dan perubahan inilah yang menuntut perubahan lain ke atas "syarat" untuk bersuara. Ini yang gagal dicermati kawan mahasiswa.

 

 

Zaman dulu, akses informasi sangat terbatas. Internet murah, sinyal 4G, ponsel kamera, semua belum ada, sementara pemimpin berkarakter diktator. Tantangan bersuara saat itu lebih pada #keberanian. Kasarnya, kritisi tidak akurat 100% pun "tidak masalah". "Bunyi" saja dulu, itupun sudah bagus kalau setelahnya masih "selamat". Tapi itu dulu. Gaya seperti ini sudah tidak bisa lagi dipakai zaman Dilan menggombali Milea di layar lebar.

Kritisi saat ini utamanya bukan sekedar masalah berani lagi, tapi lebih pada #kualitas, pada #akurasi. Andai masalah Asmat terjadi zaman Adian dulu, kartu kuning ke presiden sudah sangat cukup. Tinggalkan dulu UU Otonomi Daerah (Otda) yang menjelaskan mana kewenangan pusat dan mana kewenangan daerah, Adian akan "dimaafkan" karena akses informasi saat itu sangat terbatas. Bukan hal yang mudah mencari data perundangan waktu itu. Adian tidak punya ponsel 4G dari China. Tidak ada.

Tapi lain Adian lain Zaadit. Zamannya sudah beda. Saat ini, keberanian Zaadit sudah bukan barang mewah lagi karena bahkan caci maki ke presiden sudah hal yang umum ditemui. Keberaniannya tidak bisa lagi jadi #pemakluman seperti zaman Adian dulu.

Kini, Zaadit dituntut harus paham pembagian #wewenang pusat-daerah karena UU #otda jaraknya cuma sejauh jari telunjuk. Zaadit harus paham bahwa jalan tol juga dipakai oleh angkot dan bus yang dinaiki kelas menengah bawah. Zaadit harus paham kalau padi dan bahan pokok lainnya juga memanfaatkan jalan tol untuk bisa sampai di depan matanya. Zaadit harus paham wewenang pusat bukan pada pembangunan jalan desa/kota/kabupaten, tapi jalan tol dan jalan nasional. Zaadit harus #mengerti itu.

Karena zaman Adian, yang tahu aksi/orasinya cuma rekan dan wartawan yang melihat langsung. Saat ini siapapun dengan mudah menyorot aksi individu di ruang publik. Dengan bekal kamera ponsel, #jurnalisme warga bisa #update melaporkan kejadian di manapun. Akibatnya, mereka yang lebih memahami seluk-beluk masalah bisa ikut menilai. Itu kenapa kritik sudah tidak bisa lagi sepermisif dulu.

Adian menyebutnya sebagai #legitimasi moral. Bahasa sederhananya, alasan, dasar atau landasan. Ini tambahan yang diperlukan dalam kritisi. Adian mengacu pada pengalaman sebagai legitimasi atau landasan untuk melontarkan kritik/saran. Kenapa? Agar lebih #akurat. Sehingga nanti tidak dinilai omdo alias omong doang. Karena seringkali praktek memang tidak "seindah" teorinya.

Seorang #jomblo yang baru lulus kuliah, tidak pernah pacaran, di #sosmedmenasehati kakaknya yang telah berkeluarga 10 tahun, supaya lebih sabar dan mengutamakan dialog dengan pasangannya saat berselisih. Apa kritik/sarannya #valid? Pasti! Tapi dalam konteks rumah tangga, apa dia punya legitimasi yang #cukup untuk itu?

Kalau kita belum pernah #mengalami, atau belum #memahami (regulasi dan praktek di lapangan) lalu apa yang bisa kita jadikan modal untuk bicara? Pada kasus jomblo tadi, kalau dinilai hitam-putih semata, maka seperti Zaadit, kritik/saran mereka tetaplah sah. Tapi melihat konteksnya, baik si jomblo atau Zaadit kurang memiliki legitimasi/landasan karena minimnya pengalaman atau wawasan.

Ini yang ia tunjukkan di Mata Najwa. Selain pengalaman, wawasan Zaadit terlihat masih #minim. Selain kurang memahami UU Otda, Zaadit bahkan "termakan" framing "jalan tol cuma untuk orang mampu". Hal sesederhana ini gagal ia pahami. Kenapa bisa sampai seperti ini? Karena miskin literasi. Inilah salah satu masalah terbesar bangsa ini. Derasnya arus informasi rentan #menyesatkan pemahaman masyarakat.

Hanya karena mayoritas jalan tol dilalui kendaraan pribadi, terjadi sesat pikir bahwa jalan tol dibuat hanya untuk orang mampu. Dengan cara pikir yang sama, maka jalan biasa pun bisa dianggap cuma untuk orang mampu. Yang bisa punya motor dan mobil siapa lagi kalau bukan orang mampu? Tepatkah mengambil #kesimpulan seperti ini?

Kenyataannya, siapapun boleh menggunakan jalan. Bukankah setiap hari jalan tol pun dilewati ribuan #buruh dan #pekerja dalam angkot/bus umum? Termasuk oleh supir truk yang mengantarkan hasil panen ratusan petani. Betulkah jalan/tol hanya untuk orang mampu?

Jadi, sadarilah. Mahasiswa harus mampu meningkatkan kualitas diri karena zaman juga sudah berubah. Iringi kritik keras dengan #landasan yang juga kuat. Maka buktikanlah kritik sebagai bentuk #cinta dengan lebih dulu mengisi #kekosongan di dalam kritik itu sendiri, seperti layaknya TTS Dilan yang sudah terisi penuh kepada Milea.

Milea jelas senang, selain dapat hadiah dari cowo yang dicintainya, ngirim TTS bisa dapet hadiah uang juga, menang banyak dia...

 

(Sumber: Facebook Aldie Al Kaezzar)

Thursday, February 8, 2018 - 18:30
Kategori Rubrik: