Zaadit, Segera Berangkatlah ke Papua

Oleh: Sahat Siagian

 

Apa hubungan di antara melakukan protes dengan tugas-tugas kuliah yang belum selesai? Apakah seorang penjahat tidak boleh menyuarakan kebaikan? Apakah koruptor tak layak mengingatkan anaknya untuk tidak berkorupsi?

Semua orang waras tahu bahwa dalam mengkaji sebuah pernyataan kita hanya perlu melihat isi pernyataan tersebut sebagai basis bagi penyusunan tanggapan. Tentu boleh juga kita gunakan sumber ekstra-tekstual. Tapi itu justru dipakai untuk memahami si proposan, bukan malah membenturkan proposan dengan proposalnya.

 

 

Zaadit Taqwa belum menyelesaikan tugas-tugas kuliah di UI. Haknya tak berkurang untuk mengingatkan pemerintah tentang tugas-tugas yang belum selesai dikerjakan. Itu juga tak mengurangi kepantasannya bersuara.

Kartu kuning yang digunakannya otentik. Saya kagum pada orisinalitas. Saya tersima oleh kecerdasan poetikal-nya. Berpadu dengan baju batik dan pipi tembem, Ia nampak bagai bocah kecil yang protes karena guru di kelas membiarkan teman-teman melempar batang kapur padanya.

Tapi konten protesnya memang keliru. Karena itu penggunaan kartu kuning jadi tak pas, malah cenderung kenes. Kenapa? Tak ada pelanggaran dilakukan Jokowi atas 3 butir protesnya.

Papua jelas bertambah baik. Kekurangan gizi memang belum sepenuhnya teratasi tapi upaya tak henti perlu diapresiasi. Dari tujuh presiden Indonesia, cuma Jokowi yang berani menantang bala untuk membereskan kekacauan di sana. Ribuan kilometer jalan beraspal yang dia bangun menjadi bukti tak tersangkal atas cintanya kepada Papua, kepada Indonesia. Dan itu menjadi landasan dalam menyelenggarakan perbaikan.

Perbaikan lain juga dikerjakan dengan menggebu-gebu. Testimoni dari beberapa pelaku kebaikan di sana, yang mengemuka di hari-hari belakangan ini, mengonfirmasinya. Apa Zaadit Taqwa tak tahu? Dia pasti tahu tapi abai, tak peduli. Itu tak bagus, tak jujur.

Menaruh jenderal berbintang dua menjadi Pelaksana Tugas Gubernur di masa pilkada juga bukan kesalahan. Tak ada peraturan dilanggar. Kartu kuning tak layak diberikan. Bahwa sebagian dari kita menilainya sebagai kebijakan tak elok, itu lain perkara. Elok dan tak elok tidak punya konsekwensi hukum, cuma persoalan artistika.

Soal rancangan peraturan Kemendikti yang dinilai Zaadit berpotensi mengganggu kehidupan kampus, saya tak punya data, tak pantas menanggapinya.

Tapi Zaadit Taqwa sudah jadi perhatian publik. Ia perlu memanfaatkan momentum ini bagi kebaikan Indonesia, bagi pemulihan segala syak dan wasangka:

Zaadit, sebaiknya kamu terima tawaran Presiden Indonesia untuk berkunjung ke Papua. Sebelumnya, bersihkan dulu hatimu, pastikan dua matamu terbuka lebar. Kamu juga perlu menjamin nalarmu cukup jernih untuk melihat keadaan di sana dan menarik kesimpulan yang serba-cakup.

Berangkatlah. Jangan tunda. Setelah itu tulis laporanmu dan berikan langsung ke tangan Presiden Indonesia sebagai pertanggungjawaban atas dana yang kamu terima. Kabarkan apa adanya. Jika derap kerja dan kemajuan kamu temukan di Papua, jangan ragu mengumandangkannya kepada kami semua. Jika masih ada kekurangan, nyatakan, tak perlu cemas.

Dengan itu kamu menjadikan dirimu sebagai bagian dari Indonesia Kita. Negeri ini tak boleh kehilangan kamu.

 

(Sumber: Facebook Sahat Siagian)

Thursday, February 8, 2018 - 17:15
Kategori Rubrik: