Zaadit Buka Mata Kamu, Yakin Kartu Kuning Yang Kau Kasih?

Ilustrasi

Oleh : Damar Wicaksono

Duhai presidenku yang tersayang, Presiden Joko Widodo

Sebagai pemilihmu..
Kalo saya ditanya, saya lebih bangga jika jalur kereta trans Kalimantan bisa mulai dibangun tahun ini (setidaknya 10 km deh), alih-alih membanggakan bakal selesainya ruas tol pertama di Kalimantan (Samarinda-Balikpapan sejauh 99 km).

Sama seperti ruas tol di Sulawesi Utara Manado-Bitung. Bagi saya, sangat penting membuat jalur kereta Makassar-Pare pare sejauh 145 km bisa selesai separuhnya, seperti rencana pemerintah. Ruas sejauh 145 km itu adalah segmen pertama dari rencana 5 ruas jalur kereta Trans Sulawesi

Itu, penambahan panjang rel dengan jalur ganda Medan-Kualanamu, lalu rencana aktivasi jalur ganda Bogor-Sukabumi dan selesainya LRT Palembang (23 km lho, keren) sangat membanggakan. Jauh lebh bangga dibanding selesainya jalan tol. IMHO

Saya juga trmasuk ngga sabar melihat selesainya MRT tahap pertama Lb. Bulus-Bunderan HI (16 km) pada Maret 2019. Proyek ini telat setahun akibat pembebasan lahan di sekitar Haji Nawi-Fatmawati. Lalu 3 bulan kemudian (Juni 2019), 3 ruas LRT milik pusat juga akan selesai. Cawang-Bekasi Timur (6 stasiun, 18,5 km), Cawang-Cibubur (6 stasiun, 14,5 km) dan Cawang-Dukuh Atas (9 stasiun, 10,5 km).

Sama seperti saat awal pemerintahan gubernur Jokowi-Ahok di Jakarta, yang mendorong dengan kuat pembangunan kereta dalam kota, monorel/LRT/MRT. Dan saya termasuk yang menolak pembangunan 6 ruas tol dalam kota. Melihat MRT dan LRT terwujud adalah KEGEMBIRAAN melihat suksesnya pemerintahan gubernur Jokowi dan gubernur Ahok

Jadi, saat tahun 2016 gubernur Ahok menyatakan akan melanjutkan pembangunan 6 ruas tol dalam kota, itu bertentangan erat dengan ikhtiar kuat untuk membuat Jakarta berpihak kepada transportasi publik, bukan mobil pribadi. Dalam hal ini Ahok ngga konsisten. Karena dulu Jokowi-Ahok menentang rencana gubernur Foke membangun 6 ruas tol dalkot

Lihatlah..
Ke bandara Soetta sekarang bisa lewat 3 ruas tol. Tol Dalkot (Cawang-Tomang-Soetta), tol Wiyoto Wiyono (tol Priok lalu belok kiri di Ancol) dan tol JORR W2. Ditambah sudah ada kereta bandara dari Manggarai. Tak perlu lagi lah menambah ruas tol dalkot

Ruas tol JORR yang sekarang mengelilingi Jakarta cuman "bertahan" 3 tahun mulus dan lancar. Seiring kemajuan ekonomi dan jumlah mobil dan truk yang bertambah, membuat ruas tol berlajur 3 setiap jalur, sudah ngga mampu lagi menanggung kemacetan. Yang kerap lewat JORR pasti tau

Rel, rel dan rel.

Begitulah seharusnya kota metropolitan dibangun.

Jakarta dan Bodetabek, lalu Surabaya, Semarang, Bandung, Medan, Palembang, Batam, Denpasar, Makassar dan Manado. Pemerintah pusat HARUS Fardhu 'ain mengembangkan jalur kereta dalam kota di kota2 tersebut

Terserah mau trem kek, monorel kek, LRT atau MRT kek. Khusus di Jabodetabek, harus didorong keras memanfaatkan bawah tanah

Jadi..
Sungguh pembangunan tol dalkot Sunter-Semanan (1 dari 6 ruas tol dalkot lanjutan) itu sudah cukup lah. Yang lain ngga usah dilanjut. Kurangi jumlah truk di jalan dengan terus mengefisienkan dan mengoptimalkan jalur kereta barang

Demikian sedikit urun rembug dari saya, remaja 30an tahun

Sumber : Status Facebook Damar Wicaksono

Sunday, February 4, 2018 - 21:45
Kategori Rubrik: