Yusril Merapat Ke PDIP?

Oleh :Beni Guntarman

Manuver politik Yusril Ihza Mahendra untuk meraih tiket sebagai Cagub dalam Pilkada DKI Jakarta 2017 tergolong nekat. Mungkin banyak hal yang menjadi dasar perhitungannya, salah satunya mungkin agar tidak tenggelam dalam kancah perpolitikan di tanah air. Mantan Mensesneg di zaman SBY ini adalah sosok kontroversial. Namun ia punya keahlian yang tidak banyak orang yang mampu menandingi keahliannya dalam Ilmu Hukum Tata Negara.

 Partai Bulan Bintang yang diarsitekinya pernah mendapat suara yang cukup signifikan di Pemilu awal zaman reformasi tahun 1999. Partai yang mengidentifikasikan dirinya sebagai jelmaan Masyumi itu ternyata perlahan-lahan meredup di beberapa Pemilu selanjutnya, dan akhirnya tereleminasi dari Senayan. Mungkin hal ini salah satu yang sangat meresahkan bagi Yusril. Zaman berubah, waktu tidak bisa dilawan. Pilgub DKI 2017 menjadi ajang taruhan bagi Yusril untuk membangkitkan kembali PBB dari keterpurukannya.

Yusril ikut meramaikan bursa pencalonan Gubernur DKI yang akan diperebutkan dalam Pilkada serentak Februari 2017 nanti. Sedari awal ia memunculkan diri, terkesan sedang bermain-main, namun perlahan tapi pasti Yusril memperlihatkan keseriusannya meraih Kursi DKI 1. Ada apa dengan Kursi DKI 1 sehingga terlihat begitu berharga di mata Yusril? Mungkin Yusril tengah bermimpi ingin mengikuti jejak Jokowi, mencari batu pijakan menuju RI 1.

Bukanlah suatu hal yang mudah bagi Yusril untuk bisa meraih tiket menjadi calon Gubernur DKI. Setelah omong kosongnya ingin menempuh jalur independen tidak berhasil, Yusril mulai mendekati partai-partai yang bisa mengusungnya secagai calon.

Lobi-lobinya sejauh ini belum menghasilkan sinyal-sinyal yang pasti dari partai-partai yang tertarik ingin mengusungnya. Mungkin sosok Yusril yang kontroversial, terlalu pintar dan susah dikendalikan, yang menjadi penyebab kenapa partai-partai butuh waktu yang panjang untuk menilai dan memutuskan apakah akan menolak atau mengusungnya.

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) mungkin belum bisa melupakan bagaimana Megawati bisa terganjal di Sidang Umum MPR dalam agenda Pemilihan Presiden RI ke-4. Padahal saat itu PDIP sedang euforia atas kemenangannya yang fantastis, meraih 33% kursi DPR RI. Manuver Yusril dan partai-partai islam lainnya membuat Megewati terganjal dengan isu politik “haram memilih pemimpin wanita”.

Ketika proses pemilihan berlangsung di MPR, Yusril yang juga berambisi menjadi Presiden itu pasang badan menghalangi langkah Megawati dan membuka jalan bagi Gus Dus yang akhirnya berhasil terpilih menjadi Presiden RI ke-4. Sejarah kemudian mencatat bagaimana kemudian Gus Dur dijatuhkan dan akhirnya membuat Megawati yang saat itu menjabat sebagai Wakil Presiden otomatis dilantik sebagai Presiden RI ke-5.

Terkait dengan upaya Yusril meraih tiket calon gubernur DKI di Pilkada 2017, akhir-akhir ini terbaca manuver politik Yusril yang berharap bisa diusung oleh PDIP. Apakah Yusril akan berhasil meraih keinginannya ataukah kembali berharap kepada partai-partai lain yang juga mengkhawatirkan sosok kontroversialnya? Bisa jadi Megawati punya pandangan lain untuk Yusril saat ini. Menghargai keahliannya dan menempatkannya pada posisi yang tepat yang sesuai dengan keahliannya di dalam Kabinet Jokowi-JK mungkin pilihan yang tepat. Mungkin ada baiknya PDIP mengusulkan Yusril menjadi Jaksa Agung! **(ak)

Sumber tulisan: kompasiana.com

Sumber foto :sumsel.tribunnews.com

 

Saturday, April 9, 2016 - 09:00
Kategori Rubrik: