Yusril Ihza Mahendra Bisa Memenangkan Pilgub, Jika Parpol Bersatu

Oleh : Tun Samudra

Beberapa Lembaga Survei mengatakan bahwa hingga sampai saat ini Gubernur Ahok sebagai petahana masih dapat mendominasi minat DPT di DKI Jakarta, artinya bila mengacu pada survei, Ahok masih akan dapat melanjutkan jabatannya sebagai Gubernur DKI Jakarta hingga tahun 2022. namun bukan berarti Ahok sudah pasti akan memenangkan Pilgub DKI dengan Kemulusan. karena bagimanapun lawan Ahok adalah Partai Politik yang tentu adalah tujuan utamanya adalah memenangkan pemilu sebagai langkah awal untuk tetap berada di dalam koridor jiwa raganya yaitu, mencari kekuasaan, mendapatkan kekuasaan, dan mempertahankan kekuasaan. karena jika sampai Ahok memenangkan Pilkada DKI Jakarta. tamat lah riwayat partai politik, dan PDIP mau tidak mau mesti menahan malu sebagai partai pemenang pemilu 2014. sekaligus pemegang kursi terbanyak di Legislatif DPRD DKI saat ini.

jika benar Ahok mampu menembus bursa Pilgub, maka akan terjadi pertarungan antara Relawan dan Mesin Partai, MesIn partai tentu lebih berpengalaman dalam Pilkada, namun relawan juga tidak akan diam begitu saja, pastinya tidak akan ada sebuah relawan tanpa bekingan dibelakangnya, yang diyakini bahwa yang berada di belakang relawannya Ahok bukan orang sembarangan.

Secara realistis memang tidak ada yang bisa menandingi elektabilitas dan popularitas Ahok, mayoritas masyarakat DKI Jakarta puas atas pelayanan Ahok sejak menggantikan Jokowi, masyarakat kini sangat mencintai Ahok, walaupun tidak semua, tapi bila merujuk hasil survei, bisa kita katakan Ahok di cintai oleh "Mayoritas" penduduk DKI Jakarta, sehingga untuk saat hal inilah yang menyebabkan sehingga saya katakan Ahok masih akan mendominasi minat Daftar Pemilih Tetap (DPT).

Sebelumnya dengan hormat kepada Pak Basuki T. Kita harus akui bahwa Beliau memang berhasil membawa perubahan yang signifikan di DKI Jakarta ini yang efeknya langsung di rasakan oleh masyarakat. namun kiranya ada baiknya jika kita perlu mempertimbangkan figur Yusril Ihza Mahendra yang bahwasanya cukup proporsioanal untuk melawan Ahok di pilgub DKI 2017.

Memang jika di tinjau dari aspek elektabilitas dan popularitas, Ahok masih berada di atas Yusril, sehingga dapat dikatakan jika Ahok masih unggul di banding dengan Yusril. tapi 1 hal yang mesti Ahok cs camkan, yaitu bahwa lawan Ahok sesungguhnya bukan Ysuril Ihza Mahendra, melainkan beberapa Mega partai politik yang tentunya spesialis dibidang pemilihan umum. Ahok jangan senang dulu karena bagaimanapun belum pernah merasakan menjadi konsestan Pilkada dengan jalur independen atau tanpa dukungan partai politik.

Yusril Mampu menangkan Pilgub Jika ?

Jika mewakili Partai Politik. Yusril Ihza akan mampu mengalahkan Ahok jika Yusril bisa meyakinkan partai politik untuk dapat mengusungnya sebagai calon tunggal. Dan sebaliknya partai politik harus percaya kepada elektabilitas Yusril yang saya yakin akan memberikan kejutan dalam Pilkada DKI 2017. dan akan lebih meyakinkan jika seluruh mesin partai dapat bersatu dan bekerja untuk pemenagan Yusril Ihza Mahendra. Sebaiknya seluruh parpol tidak usah lagi memikirkan egonya dalam pengusungan kadernya, terlalu riskan sepertinya bagi kelangsungan hidup partai politik tersebut, karena terbukti hingga saat ini, tidak ada figur yang sepadan untuk bersaing dengan Ahok. merujuk hasil Survei dari beberapa lembaga Survei yang hasil surveinya satu sama lain tidak berbeda, yaitu cenderung menempatkan Yusril di bawah Ahok. artinya yang paling berpeluang mengalahkan adalah Yusril Ihza.

Melihat situasi kondisi saat ini sepertinya Ahok akan tetap menjadi Gubernur sampai Jokowi turun gunung nyalon Gubernur. maka dari itu partai politik tidak perlu capek-capek menjaring calon Gubernur, karena akan sia-sia saja, tingkat kepercayaan publik sudah semakin memudar seiring dengan tertangkapnya calon Gubernur M. Sanusi. maka dari itu partai politik mesti membuang egonya, satukan kekuatan, kebersamaan, dan tujuan.

Bagaimanapun ini bukan soal menang Pilgub atau mengusung calon sendiri, tapi ini masalah urgen, ini masalah wibawa partai politik. partai politik sudah kehilangan wibawa, di tambah dengan partai politik yang telah menyalahi fitrahnya, mendukung calon tanpa mengusung. bukankah hal tersebut menyalahi harga diri partai politik. maka dari itu partai politik sebagai elemen demokrasi mesti bersatu mempertahankan kewibawaannya.

Partai Politik harus bersatu mengusung Yusril Ihza.Bbayangkan keseriusan Yusril. Yusril tidak jual mahal seperti calon-calon pada umumnya, Yusril berinisiatif untuk berkonsolidasi dengan partai-partai politik, Yusril berniat menyatukan partai politik, secara survei hanya Yusril yang mampu menjadi lawan terberat Ahok. Sebenarnya apa lagi yang ditunggu, sangat lucu melihat partai politik ini yang kesannya panik sehingga ketika mengusung calon, terkesan seperti lelucon. Yusril sebenarnya sudah membuka ruang, tapi kenyataannya ? hingga sampai saat ini partai politik masih berada dalam lingkaran keegoisannya padahal mereka juga sadar siapa yang akan mereka lawan, atau mungkin mereka tidak sadar bahwa lawannya adalah si TOP Ahok.

Partai politik harus paham bahwa dimata masyarakat siapapun lawan Ahok akan dikatakan si Jahat. kesannya seperti Ahok seperti pembela kebenaran dan lawannya dalah penguasa yang jahat. Seperti saat anak-anak sedang menonton film superhero, anak-anak akan mendukung si Superhero sebagai Pembela Kebenaran dan murka kepada penjahatnya. Hal inilah yang hampir serupa dengan keadaan Pilgub DKI 2017 mendatang.

Partai politik tidak perlu melakukan hal konyol. Seperti Demokrat yang belakangan masuk dipemberitaan bahwa ingin menyalonkan Edie Baskoro Yudhoyono, bukankah itu adalah lelucon. seakan-akan partai Demokrat telah mengatakan kepada kita semua bahwa mereka siap kalah. dan apa yang dilakukan oleh partai Demokrat juga serupa dengan partai-partai lain.

Sebaiknya Partai politik segera bersatu dan mengusung Yusril Ihza Mahendra, jika tidak ingin wibawa partai politik jatuh. karena efeknya bukan saja terjadi di DKI Jakarta ini, namun akan berpengaruh di seluruh pelosok Indonesia. Sehingga kedepannya jika sampai Ahok mampu memenangkan Pilgub DKI 207 maka niscaya akan semakin banyak figur di seluruh daerah Indonesia yang menjadikan Ahok rujukan dalam Pilkada, dan yang paling parahnya justru orang-orang yang merasa mempunyai elektabilitas tinggi dan populerlah yang akan mengikuti jejak Ahok, dan sebaliknya orang-orang yang merasa kurang populer dan dengan Elektabilitas rendah akan memanfaatkan partai politik untuk menaikan elektabilitasnya, artinya hal ini merupakan suatu keterbalikan dari harga diri partai politik.** (ak)

Sumber tulisan : kompasiana.com

Sumber foto:rmol.co

 

 

Sunday, April 3, 2016 - 10:45
Kategori Rubrik: