Youtuber

ilustrasi
Oleh : Ahmad Sarwat
Saya sih punya channel di YouTube, ada dua bahkan. Atau malah ada banyak, kalau mau dihitung dengan channel rumah fiqih dan sekolah fiqih.
Dan hampir tiap hari saya live via YouTube juga. Setidaknya seminggu 3 kali yang rutin. Live juga di FB selain juga via Zoom.
Tapi kalau ditanya berapa jumlah subscribernya, nah justru itu yang saya tidak tahu. Atau lebih tepatnya tidak terlalu memperhatikan. Soalnya saya kan bukan youtuber.
Makanya saya tidak pernah bilang : Silahkan tekan like, share dan jangan lupa tombol merahnya subscribe. Soalnya ya saya kan bukan youtuber.
Selama ini saya tahunya YouTube itu sekedar fasilitas gratisan yang bisa untuk simpan file video. Ya gratis dan tanpa limit sehingga saya jadi merasa tidak perlu beli puluhan hardisk buat simpan koleksi video. Itu saya buat saya sudah waw sekali.
Apalagi video saya di YouTube itu bisa saya 'kirimkan' kepada beberapa kalangan secara online lewat share link youtubenya. Tidak perlu filenya diburning pakai DVD, juga tidak perlu kirim hardisk. Kirimkan saja link youtubenya via japri dan beres. Itu waw banget buat saya.
Malah video kitadi YouTube itu bisa diembed ke halaman web kita pribadi. Makanya di web rumahfiqih.com video rekaman di youtube saya embed, sehingga kalau buka webnya bisa langsung nonton. Tanpa kudu buka aplikasi YouTube.
Buat saya semua fasilitas YouTube itu banyak gunanya. Apalagi semua digratiskan.
Tapi ternyata yang dilakukan para youtuber justru jauh berbeda dengan yang saya lakukan.
Para youtuber itu menyebarkan videonya tidak lewat ambed di web atau japri, tapi justru lewat YouTube itu sendiri. Ini hal yang baru buat saya, setidaknya sadarnya baru belakangan.
Ternyata memviralkan video kita yang paling efektif malah lewat YouTube itu sendiri, bukan lewat japri apalagi pakai diembed ke web pribadi.
Cukup sering-sering uplaod video, maka akan semakin banyak yang nonton video kita. Rumusnya, semakin unik konten videonya, semakin banyak yang ingin nonton.
Dan biar banyak yang penasaran, ternyata ada strateginya. Jadi judul dan thumbnailnya diotak-atik biar semakin cantik dan semakin menarik jumlah penonton. Walaupun ternyata isinya tidak seheboh judulnya.
Nah di bagian begitu-begituannya saya jelas kalah. Saya sih ceramah ya ceramah saja, tapi tidak pernah mikirin kasih judul yang bombastis di youtubenya. Judulnya lempeng-lempeng saja.
Tidak pakai bahasa bombastis khas bahasa para youtuber : akhirnya terbongkar, ternyata banyak sesatnya, cukur gundul paham ini, rahasia ini dan itu. Akhirnya diam tak berkutik. Wah wah . . .
Judul ceramah saya itu polos : fiqih shalat, ya sudah gitu aja. Tidak ada heboh-hebohnya, juga tidak ada narasi bombastisnya.
Mungkin kalau mau heboh bisa juga dibikin jadi : "Akhirnya Terbongkar Tujuh Hal Penyebab Shalat Jadi Sia-sia".
Ternyata isinya cuma menjelaskan syarat sah shalat yaitu :
1. Muslim.
2. Akil atau berakal alias tidak gila.
3. Suci dari hadats.
4. Suci dari Najis baik badan, pakaian dan tempat shalat.
5. Tahu sudah masuk waktu shalat.
6. Menutup aurat.
7. Menghadap kiblat.
Dengan thumbnail dan judulnya yang dibikin seheboh mungkin,jadi ai-ke-cing, diharapkan akan menarik perhatian dan bikin orang penasaran.
Walaupun pas ditonton yah gitu-gitu aja. Biasa aja, bikin ngantuk malah.
Ini kan sebenarnya trik tukang obat pinggir jalan. Kalau gelar dagangan, tukang obat sukanya pada heboh dan bikin atraksi aneh-aneh. Intinya bikin kerumunan dan biar banyak orang berkerumun.
Gak beli gakapa-apa, yang penting banyak yang berkerumun. Sebab pemasukannya justru dihitung dari jumlah kerumunan itu.
Itulah algoritme YouTube dan itu logika dagang para youtuber. Guru saya suka ceramah di YouTube, yang nonton cuma 3 orang. Itu berarti beliau tidak bisa dagang di YouTube.
Sumber : Status facebook Ahmad Sarwat
Saturday, February 20, 2021 - 12:15
Kategori Rubrik: