You're Not Alone

ilustrasi

Oleh : Raihan Lubis

“Finally, I’m home, Kak”. Begitu ucap Yuliannova Lestari Chaniago kemarin pagi lewat telepon padaku. Dia tiba setelah perjalanan panjang dari Wuhan kemudian masuk karantina di Natuna sebelum akhirnya dipulangkan ke daerah asal. Yuli, demikian dia disapa- adalah satu dari 238 orang Indonesia yang dievakuasi dari Wuhan terkait wabah corona. Welcome home, Yul. Selamat datang kembali di Indonesia. You are not alone. We are here with you.

Pada 2 Februari 2020, mereka dievakuasi dari Wuhan. “Penerbangan ini adalah penerbangan yang akan membawa anda pulang ke Indonesia dan selamat kembali ke tanah air,” ulang Yuli mengingat sapaan pilot pesawat Batik Air A330-300 yang mengevakuasi mereka. "Keharuan menyeruak di kabin pesawat," kenangnya. Sang pilot juga menuliskan kalimat 'Ayo mulih, Rek' di kertas yang ditempel di jendela ruang pilot - yang bisa dilihat oleh siapapun yang akan naik ke pesawat.

Selama ini, aku dan Yuli hanya bertukar kabar lewat whatsapp dan pesan-pesan di sosial media. Sudah tiga tahun Yuli di Wuhan untuk studi sebagai kandidat doctor (Ph.D) setelah menyelsaikan program magisternya di tempat yang sama. Sejak kakinya kembali menjejak di Indonesia, dia baru benar-benar melihat dan merasakan kegaduhan yang luar biasa terkait wabah corona- melebihi kegaduhan yang ada di episentrum wabah itu sendiri.

“Di Wuhan, walau akhirnya masker agak sulit ditemukan setelah locked down, tapi pihak kampus memberikan masker gratis, hand sanitizer, juga pemeriksaan suhu badan. Kami juga mendapat sosialisasi agar melakukan pengukuran suhu tubuh secara mandiri karena ada pembagian thermometer.”

Yuli sendiri kebetulan salah satu relawan kampus untuk pembagian masker. “Kalaupun ada yang sakit, pemerintah di sana menyediakan ambulans untuk mengantarkannya ke rumah sakit. Seperti itu pula arahan dari kampus kami, jika ada yang sakit laporkan saja. Nanti dipanggilkan ambulans,” katanya.

Ditambahkanya, sampai hari ini sejak ditemukannya beberapa orang terinfeksi paru di Wuhan, tidak ada penyebaran nama korban dan alamat rumahnya secara lengkap. “Publik hanya tahu tempat kejadian di mana virus itu pertama kali ditemukan. Tapi kami dapat mengakses informasi untuk mengetahui berapa banyak korban yang suspect, infeksi, dan meninggal.”

Menurutnya, tidak banyak pejabat di Wuhan yang memberikan pernyataan di media, kecuali mereka yang benar-benar memiliki otoritas. “Sementara di Indonesia, banyak informasi yang simpang siur. Kami berusaha menjaga perasaan banyak orang sampai kadang lupa kalau punya perasaan sendiri,” katanya tertawa dari seberang sana. Suara tawanya terdengar sumbang.

Sejenak kemudian, Yuli memutar kembali ingatannya tentang wabah corona di Wuhan.

Pagi sebelum menjelang malam tahun baru 2020. Yuli menyempatkan diri membaca surat kabar lokal berbahasa Inggris di gawainya. Dia membaca, ada berita tentang beberapa orang yang terinfeksi paru di pasar Huanan, Distrik Jianghan- yang berjarak sekitar 19 km dari Wuhan. Dikatakan Yuli, saat itu penyakitnya masih disebut pneumonia. “Dua minggu kemudian para ilmuan menyebutkan jika ternyata virus corona jenis baru dengan kode 2019-nCov,” katanya. Virus ini kemudian disebutkan tidak hanya menular dari hewan ke manusia, tapi juga dapat ditularkan dari manusia ke manusia. Dan sejak itulah suasana Wuhan menjadi tidak seperti biasa. Tidak hanya di Wuhan, beberapa negara kemudian juga memberikan pernyataan jika virus tersebut sudah ada di negara mereka.

“Biasanya ramai sekali menjelang imlek. Kali ini, acara makan bersama untuk merayakan imlek yang mengundang semua mahasiswa juga ditiadakan. Pihak kampus hanya memberikan nasi kotak untuk menghindari interaksi dengan banyak orang.” Hari-hari berikutnya, Wuhan semakin sepi. “Apalagi saat itu winter. Aktifitas orang di jalan raya hampir tidak ada. Yang ada hanya mobil-mobil ambulans dengan suaranya yang hilir mudik.”

LOCKDOWN

Tanggal 22 Januari pihak kampus mulai membagi-bagikan masker. Dan sehari setelahnya, pukul 10.00 waktu setempat, pemerintah Kota Wuhan secara resmi memutuskan untuk menghentikan semua jenis transportasi di Kota Wuhan, baik darat, udara, maupun laut. Stasiun dan Bandara ditutup, semua jadwal penerbangan dan kereta dibatalkan. Transportasi umum seperti bus, taksi, dan MRT tidak beroperasi. Wuhan lockdown.

“Hanya kendaraan pribadi yang lalu lalang, itu pun tidak begitu banyak. Hanya ambulans yang hilir mudik. Tidak ada perayaan imlek seperti tahun-tahun biasanya, tidak ada suara dan warna warni petasan di langit Wuhan kali ini.”

Pemerintah setempat kemudian gencar mengirim sms-sms broadcast yang menganjurkan warganya untuk mengurangi aktivitas luar rumah, mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan hal apapun, menggunakan masker setiap akan bepergian, tidak dianjurkan untuk pergi ke tempat ramai, dan mengukur suhu tubuh setiap harinya secara mandiri. “Dan terhitung hari itu pula, wajib memakai masker kemanapun pergi, walau hanya turun ke lobby utama dormitory."

Sementara itu, kantor internasional di kampusnya mulai membuat grup relawan untuk membantu mendistribusikan masker, sabun cair pencuci tangan, dan thermometer untuk mengukur suhu tubuh. “Siapa yang tahu ini akan terjadi, banyak mahasiswa internasional yang memutuskan untuk tidak pulang saat libur musim dingin, dengan alasan yang berbeda-beda. Kebanyakan dari mereka memang adalah mahasiswa tingkat akhir yang sedang menyusun tugas akhir atau memutuskan untuk berlibur ke kota lain,” katanya. Setiap mahasiswa internasional yang tinggal, diwajibkan untuk mengukur suhu tubuh mereka dan melaporkannya setiap hari melalui grup wechat. Begitulah tindakan pencegahan yang dilakukan dan dianjurkan pihak kampus.

JUBIR DADAKAN

Melihat banyaknya berita di Indonesia yang simpang siur beredar di sosial media terkait virus corona yang terjadi di Wuhan, Yuli memutuskan untuk berbicara melalui laman twitter dan Instagram miliknya, guna mengabarkan apa yang sebenarnya terjadi di Wuhan. Yuli kemudian mulai membuat utas di akun twitternya. Dia mengabarkan bahwa 102 WNI di Wuhan, yang kebanyakan pelajar dalam keadaan baik dan sehat. Dia juga meminta agar pemerintah dan teman-teman di twitter untuk berhati-hati dalam berucap soal corona di media sosial.

“Kami di sini berusaha sekuat tenaga untuk tetap tenang, saling menjaga agar tidak panik dan menjaga perasaan orang tua kami di rumah. Bukanlah pula hal yang mudah untuk menjaga perasaan teman-teman kami yang ada di Wuhan, bukan pula hal yang mudah untuk tetap tenang dalam kondisi seperti saat ini. Ketidakpastian sampai kapan Wuhan akan lockdown dan terus bertambahnya korban yang terinfeksi dengan penyebaran yang begitu cepat tak dapat dipungkiri membuat kami panik,” akunya di laman sosial medianya.

Sejak saat itu pula, Yuli dan beberapa temannya; Eva, Gerard, Milla, Fahmi dan Pak Nugraha menjadi juru bicara dadakan. mereka dipercaya untuk memberikan keterangan tentang orang-orang Indonesia yang ada di Wuhan kepada media Indonesia dan internasional terkait wabah virus corona yan terjadi di Wuhan.

Seketika apartement dan kamar dormitory mereka menjadi ruang studio. Secara bergantian mereka menjadi narasumber media. “Hari-hari kami dipenuhi dengan jadwal interview, ini bukan interview pekerjaan melainkan interview untuk mengabarkan langsung kondisi kota Wuhan dan para WNI yang ada di Wuhan. Tetap bertahan, terimakasih sudah bertahan sampai hari ini, jangan lupa check suhu tubuh, pakai masker jika ingin bepergian, selamat istirahat teman-teman” begitulah kalimat-kalimat yang terucap dari mulut kami untuk saling menyemangati satu sama lain,” katanya lagi.

Dikatakan Yuli, para jubir dadakan ini sangat berhati-hati saat memberikan keterangan. Setiap kali ditanya apa harapannya kepada pemerintah, mereka hanya menjawab harapan mereka ingin segera keluar dari Wuhan, ingin tinggal di tempat yang aman. Tapi bukan hal yang mudah karena sangat perlu campur tangan pemerintah, karena ada puluhan bahkan ratusan WNI dari Kota Wuhan. Sementara itu, KBRI Beijing bersama Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Tiongkok cabang Wuhan terus saling berkoordinasi.

Hari kedelapan Wuhan Lockdown. Kemenlu mengeluarkan opsi untuk evakuasi WNI dari Wuhan. “Sungguh kak, kami saling berpelukan dan menangis terharu membaca twitter Kemenlu itu. Kami merasakan benar dalam kasus ini jika negara hadir untuk warga negaranya, negara betul-betul menjamin hak keselamatan untuk warga negaranya yang berada di luar Indonesia. Betapa bangganya kami pada negara kami Indonesia.”

EVAKUASI

Tepat hari kesembilan Wuhan lockdown, 1 February 2020, setelah melewati hari-hari panjang pasca ditutupnya Kota Wuhan dan bertambahnya korban terinfeksi , akhirnya mereka benar-benar akan keluar dari Kota Wuhan. “Kami saling mengingatkan agar untuk tetap menjaga stamina tubuh, menjaga suhu tubuh dan tidak terlalu capek. Perjalanan hari ini kan menjadi perjalanan kita yang sangat panjang. Kami semua mendapatkan arahan bahwa meeting point ada di depan mall Chycony dekat kampus Central China Normal University.”

Menuju ke Bandara Internasional Tianhe Wuhan, Yuli bersama WNI lainnya menggunakan bus. Sepanjang perjalanan, mereka melihat Kota Wuhan yang sungguh sepi di musim semi yang Indah. “Biasanya kami menghabiskan waktu untuk melihat bunga sakura di Wuhan University saat musim semi tiba seperti ini, Kak.”

Setelah perjalanan ke bandara, pemeriksaan kesehatan dimulai; apakah misalnya ada riwayat batuk pilek selama 14 hari sebelumnya. Jika ada, maka besar kemungkinan akan diperiksa lebih lanjut untuk ditetapkan boleh melanjutkan proses evakuasi atau tidak. Suhu tubuh sehat yang menjadi standard pemerintah Tiongkok adalah 36-36.9 derajat celcius. Jika lebih dari itu, maka akan dipisahkan dari barisan antrian.

Evakuasi ini sendiri bersifat sukarela dan hanya mereka yang lolos tes kesehatan yang dapat dievakuasi. “Ada tiga orang yang tidak lolos dan salah satunya adalah teman kami,” ujarnya dengan nada pelan. Akhirnya, setelah hampir 16 jam mereka menunggu, pada pukul 04.00 waktu setempat, tanggal 02.02.2020, mereka diberangkatkan kembali ke tanah air.

Sampai di Indonesia, kemudian mereka dikarantina di Natuna. Mereka pikir setelah itu, akan dapat bernapas lega. Tapi ternyata masih banyak soal yang harus mereka hadapi. Apalagi setelah mereka kembali ke daerah asal. Semisal munculnya berita di berbagai media yang mengatakan bahwa mereka yang dikarantina tidak dites virus corona. Jagad maya gaduh lagi. Informasi menggelinding bak bola salju.

“Di Natuna, kami diberikan pelayanan kesehatan terbaik. Pagi dan malam, kami di cek suhu tubuh. Rutin dicek tekanan darah, diberi vitamin. Makanan juga sangat sehat. Kami juga didampingi dokter dan psikiater yang sangat baik sekali,” jelasnya.

Kenapa mereka tidak dites lab? Menurut Yuli mengutip pernyataan para dokter di Natuna, karena tes lab hanyalah untuk mereka yang mengalami gejala COVID-19. Dan selama 14 hari masa observasi, 238 orang yang diobservasi ini tidak satupun yang mendapatkan gejala COVID-19. Mereka diobservasi sebagai orang yang sehat- dan bukan diisolasi sebagai orang dengan gejala COVID-19.

“Kami juga mendapat kartu kuning, kartu alumni observasi dari Natuna,” kata Yuli tertawa meski terdengar masih sumbang. Fungsi kartu ini kata Yuli untuk dapat melaporkan diri ke Dinas Kesehatan setempat jika mereka mendapat gejala COVID-19 saat tiba di rumah. Dan tentu saja jika sudah melaporkan diri, maka prosedur yang akan dilakukan adalah tes lab, isolasi, dan tindakan penanganan selanjutnya.

Sayangnya, otoritas yang memberikan keterangan soal ini kurang bijak, dan hanya menekankan alasan tidak dilakukannya tes lab lebih pada soal alat uji lab yang super duper mahal. Ditambahkan Yuli, meski mereka tinggal di Wuhan, tapi sesungguhnya akses mereka ke lokasi yang menjadi episentrum wabah sangat minim sekali.

“Kami yang di Wuhan sangat patuh dengan himbauan untuk tidak menuju tempat keramaian. Kami menjaga diri di tempat tinggal masing-masing, baik yang tinggal di dormitori mahasiswa atau apartemen pribadi dengan kewaspadaan tinggi. Bahkan dari kamar ke lobi dormitori saja, wajib pakai masker dan selalu menjaga kebersihan tangan, kebersihan diri. Setiap hari, suhu tubuh dicek dua kali.”

Hingga kini kata Yuli, belum ada kasus terduga COVID-19 yang terjadi di asrama kampus juga dari tempat lainnya sekitar kampus di Wuhan. Dan ketika mereka dipulangkan pada 2 Februari, sudah melebihi 28 hari masa inkubasi virus.

”Diperlukan pengetahuan secara kesehatan dan public speaking yang baik bagi mereka yang menjadi juru bicara pemerintah, terkait COVID19 ini. Agar kami tak terimbas pemberitaan yang simpang siur. Agar juga jutaan warga Indonesia tenang. Dan mereka yang mungkin mengalami gejala juga dapat segera memeriksakan diri,” ujarnya.

Cukup lama kami bertelepon, sampai akhirnya Yuli mengatakan dengan setengah bercanda; “Nanti kalau kita ketemuan, kakak pakai pakaian lengkap APD ga?”. Sejenak aku terdiam dan kemudian segera menjawab; “Kita harus saling mendukung dan menguatkan satu sama lain, bukan malah menakuti satu sama lain,” kataku sok bijak. “Sudah lewat masa inkubasi kan dan juga sudah diobservasi toh. Seperti katamu, menjaga kebersihan tangan dan diri adalah yang paling utama. No worries, aku tidak akan pakai baju APD, paling baju astronot." Kami kemudian tertawa bersama. Wuhan Jiayou!

Wuhan Jiayou: Wuhan, Semangat!

Sumber : Status Facebook Raihan Lubis

Saturday, March 14, 2020 - 09:45
Kategori Rubrik: