Yoga

Oleh: Sahat Siagian

 

8 menit sebelum berbuka
16 Ramadhan 1439 Hijriah

Saya mungkin salah satu dari umat "puasa" yang tak menyukai ngabuburit.

 

 

Berpuasa tak membuat kita punya semacam legitimasi untuk menghindar dari hidup sehari-hari. Karenanya saya tak bersetuju dengan kebijakan pulang kantor lebih cepat daripada biasanya di bulan Ramadhan.

Tak juga saya bersetuju dengan kegiatan ngabuburit seolah berbuka puasa adalah hal istimewa sehingga kita berhak mengosongkan 1-2 jam sebelum berbuka, mengisinya dengan kegiatan yang membuat kita "lupa" dengan lapar dan dahaga di jam-jam paling "kritis".

Puasa adalah laku intim dengan Allah dan dengan diri kita. Beberapa teman dari Buddha malah lebih kritis lagi: berpuasa adalah semacam yoga, percakapan antara kamu dan dirimu. Makanan kita jauhkan agar percakapan tersebut tak diganggu hal-hal lain.

Ya, ada banyak orang menafsir Yoga seolah hanya terbatas pada sikap duduk bersila dengan dua tangan bertumpu di atas lutut bagian samping, kemudian hening diri, dan membangun percakapan internal.

Para buddhis berkata bahwa meditasi bisa kita lakukan ketika sedang berjalan, berolahraga, mengetik laporan, menulis buku, melakukan audit keuangan, bahkan dengan menyadari aktivitas bernapas.

Dalam setiap kerja, di bulan Ramadhan, kita diajak menyelam lebih dalam, menghayatinya. Dari sana kita akan menemukan bahwa angka "5" dari laporan keuangan yang kita periksa, misalnya, ternyata punya karakter khusus.

Kekhususan tersebut berbeda-beda satu dengan yang lain. Tak cuma 5 terasa khusus buat kita, dan "2" buat teman kita, tapi juga makna atau penghayatan terhadap "5" berbeda-beda.

Saya misalnya, tahu bahwa angka yang sangat akrab dengan hidup saya adalah "25", "2", dan "5". Saban sedang sendiri, tanpa saya sadari telunjuk tangan kanan sering menulis "25" di udara. Itu baru saya tahu ketika melakukan pembacaan data di jam-jam menjelang berbuka.

Saya tak tahu kenapa begitu. Tak juga karenanya saya terpanggil untuk terbang ke Las Vegas dan menaruh angka tersebut di bidikan saya.

Di bulan Ramadhan saya mengenal diri lebih jauh dan tergetar: betapa uniknya saya di jazirah semesta

 

(Sumber: Facebook Sahat S)

Friday, June 1, 2018 - 21:45
Kategori Rubrik: