Yesus dan Kebangkitan

Oleh: Denny Siregar
 

Yesus Kristus di dalam Islam dikenal dengan nama Isa al-Masih as.

Kemuliaan beliau tercatat dengan baik dan tinggi di dalam Al-quran. Beliau adalah seorang pejuang kemanusiaan pada masanya, seorang yang penuh dengan cinta kasih sehingga sulit bagi beliau untuk mempersenjatai dirinya sendiri.

Perjuangan Yesus dalam menyebarkan cinta yang murni tanpa mengharap balasan, menjadikan beliau sebagai cahaya ditengah2 kegelapan dan kemerosotan moral manusia pada era itu yang penuh dengan kejahatan dan kemunafikan. Maka tidak aneh ketika banyak manusia menjadi pengikut ( syiah)-nya.

Perlawanan cinta beliau yang semakin membesar-lah yang menjadikan penguasa pada waktu itu, resah dan khawatir akan kekuasaannya. Maka dengan segala upaya, Yesus-pun dituduh dan pada akhirnya disalibkan sebagai satu cara untuk memutus gerakan yang semakin membesar.

Di dalam Alquran, disebut bahwa Yesus sendiri dikelilingi orang2 kafir yang awalnya mengikuti kemudian berkhianat kepadanya. Mereka lebih memilih dunia yang lebih nyata daripada akhirat yang dianggap hanya berupa janji saja.

Apakah tiang salib membunuhnya ?

Sama sekali tidak. Itulah sebenarnya kemenangannya. Pancaran pengorbanannya merasuki jiwa2 yang merasa berdosa yang tidak mampu membantunya. Mereka bersimpuh, memohon ampun dan merasa ikut menderita. Yesus menang melawan kezaliman dan angkara penguasa. Mereka hilang ditelan waktu, sedang spirit Yesus berkembang bersama waktu.

Apa yang terjadi pada Yesus as, itulah yang terjadi pada Imam Hussain as, cucu dari Nabi Muhammad Saw dan anak dari Imam Ali as.

Pengorbanannya di padang Karbala adalah bagian dari penghianatan warga Kufah yang pada waktu itu meminta bantuan kepadanya. Imam Hussain as dan 70 anggota keluarganya, baik wanita dan anak2, terjebak di tengah kepungan puluhan ribu pasukan Yazid Muawwiyah pada waktu itu. Mereka dibantai, dimutilasi dan bagian tubuh mereka diarak keliling.

Apakah pembantaian itu membunuh Imam Hussain as ?

Sungguh tidak. Spirit perjuangan beliau masih abadi sampai kini. Dipelihara dengan baik dalam kegiatan asyura. Para pengikut ( syiah )nya, ikut merasakan penderitaan masa pembantaian itu. Mereka berjalan mengenang tragedi besar itu sambil memukul dadanya, "Labbaik Ya Hussein.. Kami datang Ya Hussein." seollah ada perasaan malu karena tidak sedang bersamanya. Api yg terus dipelihara sebagai penentangan dr semua penindasan.

Kita belajar, bahwa sesungguhnya spirit jauh lebih abadi daripada materi. Spirit itu seperti benih yg tumbuh di hati manusia, dan disirami terus oleh kebaikan sehingga berkembang menjadi keimanan. Sedangkan materi membusuk di dalam tanah.

Yesus dan Imam Hussain, mereka adalah representasi keabadian dan perjuangan. Sebuah pesan kepada umat manusia untuk "bangunlah kalian dari tidur panjang, lawanlah ketidak-adilan".

Sekelumit cerita di malam hari sambil ditemani secangkir kopi.

Selamat merayakan Paskah, saudara2ku yang nasrani. Salam cinta dari saudatamu yang bukan seiman tetapi sama dalam kemanusiaan...

 

(Sumber: Facebook Denny Siregar)

Saturday, March 26, 2016 - 07:00
Kategori Rubrik: