Yerussalem, Tanah yang Dijanjikan atau Tanah yang Menjanjikan?

Ilustrasi

Oleh : Fadly Abu Zayyan

Sedang viral tulisan dari Kaum Zionis Sawo Matang tentang polemik Jerussalem yang dikaji dari perspektif historis dan teologi. Intinya bahwa dari dua perspektif ini, kaum Zionis memiliki alasan yang kuat atau bahkan terlegitimasi untuk mendirikan Negara Israel dan bahkan mencaplok Yerussalem. Saya memakai istilah kaum Zionis dan tidak mau mengatakan Umat Yahudi, karena faktanya penduduk Palestina asli sebagai pemeluk Yahudi juga banyak yang menentang pendudukan Israel.

Oke, jika argumen anda bahwa Zionis lebih berhak atas Al Quds dengan dalil bahwa Bani Israel daripada Arab Islam adalah lebih "senior". Atau bahkan jika berdalil Agama pun, Yahudi lebih dulu diturunkan daripada Islam dan Nasrani. Disini anda mengabaikan fakta bahwa pertama kali eksodusnya Bani Israel adalah dari Mesir. Eksodus yang disebabkan tekanan dari Fir'aun yang membuat mereka hijrah ke Jerussalem sebagai Tanah Yang Dijanjikan dan tertuang dalam Taurat. Jadi "Tanah Yang Dijanjikan" tersebut adalah, dimana Bani Israel dalam keadaan tertekan oleh Fir'aun yang terkepung dan terhalang Laut Merah. Kemudian Tuhan menjanjikan tanah diseberang mereka (Jerussalem) agar mereka bisa selamat dan bisa berhijrah. Dan Tuhan memenuhi janjnya dengan membelah Laut Merah agar mereka dapat melewatinya dan selamat dari Fir'aun. Jadi, jika bicara dari akar sejarah dan dalil mereka kembali ke tanah asalnya, seharusnya Bani Israel lebih "pas" kembali ke Mesir daripada ke Jerussalem.

Kemudian jika bicara dari perspektif sejarah, teologi sekaligus politik. Kenapa anda tidak belajar dari penaklukan pasukan Perang Salib atas Jerussalem? Dimana antara Penguasa Muslim dan Nasrani pada saat itu bisa memilah dan bersepakat antara urusan Politik dan Agama. Sebagaimana masing-masing pihak tetap memberikan toleransi antar dua pemeluk Agama atas Tempat Sucinya masing-masing. Apakah kemudian Penguasa Nasrani atas kemenangannya kemudian mendirikan Negara Salib dan mengklaim mereka paling berhak atas Kota Suci Jerussalem? Jawabannya tidak! Terbukti bahwa tiga Agama disana saling berdampingan. Justru seiring berjalannya waktu berangsur-angsur pemeluk Yahudi banyak yang eksodus (lagi) keluar dari Palestina karena TANAH YANG DIJANJIKAN sudah TIDAK MENJANJIKAN. Tanah Palestina yang tandus membuat Bani Israel mencari tempat yang lebih menjanjikan bagi mereka. Diantaranya di negara-negara Eropa. Tidak heran jika antara Yahudi, Islam dan Nasrani, akhirnya Muslim menjadi mayoritas di Palestina. Dan diantara tiga pemeluk Agama ini masih hidup damai berdampingan, hingga masuknya kaum Zionis dan mendirikan Negara Israel yang di inisiasi Inggris dan Rothschild dibelakangnya. Dan jelas hal ini kental dengan motif politik dan ekonomi.

Kemudian kita kilas balik pada abad pertengahan. Dimana menjadi puncak kejayaan Eropa sebagai simbol peradaban dan ekonomi. Dimana saat itu orang-orang Bani Israel yang telah melakukan eksodus (lagi) ke Eropa juga turut menggapai kesuksesan. Dulu Jerussalem bagi mereka hanyalah "Jalan menuju Tuhan" dan bukan "Jalan menggenggam Dunia". Karakter mereka yang memang oleh Tuhan dianugerahi kelebihan intelejensi, membuat mereka mencari jalan efektif dan efisien untuk mencari penghidupan. Memilih bidang perdagangan dan keuangan, bagi mereka lebih menjanjikan daripada mengembala dan bercocok tanam diladang tandus. Orang-orang Yahudi (cerdas) itu telah mampu menciptakan model transaksi baru. Dimana mereka mempu menciptakan kertas berharga (baca:uang) yang bisa ditukar dengan kepingan emas dan perak. Kemudian mereka juga menciptakan tempat "jasa penyimpanan aset" (baca:bank) sebagai dampak kepanikan dan perang yang juga mereka ciptakan. Disinilah mereka mulai meninggalkan "Jalan Menuju Tuhan" dan memilih "Menjadi Tuhan" dengan cara "Menggenggam Dunia" dengan "Tatanan Baru" mereka.

Seiring perkembangan jaman, mereka mampu menciptakan berbagai Industri Keuangan dan mengendalikan Bank Sentral dihampir seluruh dunia. Merancang model kolateral yang mengakibatkan terjadinya penjarahan mulai dari cadangan emas, minyak, hingga artefak berharga di negara-negara bekas "jajahan" mereka. Terutama negara-negara bekas Kerajaan besar yang dijajah dan dijarah yang kemudian "dipaksa" menjadi negara baru berbentuk Republik. Tujuannya supaya menjadi kabur dan hilang historikal serta tali waris atas aset yang telah mereka jarah. Sampai akhirnya mereka teringat kembali sebuah bekas Kerajaan Agung, yaitu Kerajaan Sulaiman yang tepat berada di Al Quds yang mereka yakini juga meninggalkan aset "tak terhingga". Dimana kerajaan itu terletak di "Tanah Tak Menjanjikan" yang telah mereka tinggalkan. Dan kini akan mereka duduki, dengan kembali kepada dalil "Tanah Yang Dijanjikan"!!

Jadi sekali lagi, yang terjadi di Jerussalem bukanlah perebutan Kota Suci Tiga Agama. Melainkan keserakahan manusia yang dibungkus Agama. Buktinya selama ini mereka (tiga Agama) damai berdampingan sebelum Negara Israel diciptakan. Bukan pula hak tanah atas entitas suatu golongan (Bani Israel). Jika nalar dan logika seperti itu yang anda pakai, kenapa etnis Rohingya yang mau "pulang kampung" saja tidak bisa? Karena ini menyangkut kedaulatan dan tatanan sebuah negara. Apakah juga WNI keturunan Tionghoa boleh mendirikan negara baru di China daratan tempat leluhur mereka? Jawabannya tidak bisa! Yang bisa dilakukan adalah mengajukan menjadi warga negara disana dan ikut aturan yang ada sebagai pengakuan atas kedaulatan negara tersebut. Itupun kalau kedua pihak sama-sama mau. Begitu pula jika ada diaspora Yahudi yang ingin kembali ke Jerussalem, seharusnya lebih pas menempuh jalur naturalisasi dan ikut aturan Palestina. Bukannya malah mendirikan negara baru!

Kalau boleh saya berandai-andai, Jika ada golongan yang tiba-tiba mau mendirikan Negara Abrahamik di Mekkah dengan dalil yang mendirikan Ka'bah adalah Ibrahim? Boleh tidak??!! Lha wong usulan Iran tentang urusan Haji agar dikelola oleh OKI dengan dalil bahwa Kota Suci Mekkah-Madinah adalah milik Muslim sedunia langsung membuat Saudi mencak-mencak?! Dan sahabat sejati (auliya') nya yakni Amerika siap jadi beking dibelakangnya? Karena bagi mereka ini masalah Pendapatan Negara. Bukan lagi sekedar urusan Agama. Begitu pula yang terjadi di Palestina. Ini menyangkut potensi pendapatan Rothschild dan Kroninya (Inggris dan Amerika). Jadi.., mendingan anda sadar. Karena jika kita balik posisisnya, saya yakin kita juga tidak rela kedaulatan negara kita diinjak-injak sebagaimana resistensi anda terhadap Khilafah yang mengaku "Tentara Tuhan" dan mau mengganti NKRI dengan dalil ini "Tanah Tuhan". Bukan sekedar "Tanah Yang Dijanjikan Tuhan".

Sudah ya.., jangan latah ikutan jadi Zionis Sawo Matang (ZSM). Padahal jauh lebih mending jika anda menjadi Si Manis Sawo Matang! Ya kan?!

*FAZ*

Sumber : Status Facebook Fadly Abu Zayyan

Tuesday, December 19, 2017 - 14:45
Kategori Rubrik: