Yenny Wahid, Ibu Rumah Tangga yang Ditakuti oleh Politisi Hebat di Panggung Indonesia

ilustrasi

Oleh : Abdul Munib

Puan harus didongkrak lima tahun di menteri koordinator. Walau selama lima tahun itu datar saja, jarang ngomong, gak jelas ia bikin apa. Didongkrak lagi di Ketua DPR, padahal masih banyak. kader PDIP yang intelektualnya jauh lebih layak. Mega lupa fahaman bapaknya Sang Proklamator hulupis kuntul baris, yang terlayak yang memimpin di depan.
Era rezim. Jokowi adalah era keberhasilan Megawati menciptakan Petugas Partai. Jokowi tak pernah berani mendebat statement itu.

Logika kita, bisakah rakyat Indonesia yang dalam pembukaan UUD 45 dinyatakan pemilik kedaulatan pemilik hak suara untuk menentukan wakil di eksekutif dan legeslatif memilih Presiden yang kemudian satu biji presiden itu hanya untuk jadi petugas di partai PDI yang memudian ditambah Perjuangan oleh Megawati. Jokowi Presiden adalah perjuangannya Megawati saja, begitu ?

Semua politis hari ini ada dibawah hegemoni perempuan pengguling Presiden Gus Dur yang terduga kuat tidak konstitusional. Tidak sesuai aturan yang ada di republik ini. Kader NU di bidang hukum sedang mengkaji sejarah hukum yang menganga ini secara akademik. Benarkah Megawati sebagai presiden yang konstitusional. Soeharto jadi presiden setelah Soekarno ditolak pertanggungjawaban nya oleh MPRS, pidato nawaksara. Demisioner dulu baru ada presiden baru. Begitu juga Habibie, Soeharto mundur dulu, demisioner bentar lalu Habibie naik. Habibie ditolak pertanggungjawaban lalu tidak nyalon. MPR hasil pemilu 1999 mamilih Gus Dur jadi Presiden /Kepala Negara. Tidak sampai lima tahun, Gus Dur dipaksa turun secara inkonstitusional.

Gerombolan elit politik seperti ikan kombong terseok kesana kemari. Di era SBY, PDIP dan Gerindera puasa. Koalisi besar makan bunuh.
Kini di Era Jokowi Demokrat, PAN dan PKS yang puasa. Golkar makan untung tiap era. Muhaimin kecil lincah ketua empat periode, rencana seumur hidup.

Bangsa ini lagi gila Pilpres. Belum lagi sebulan dilantik presiden hasil Pemilu kemarin sudah di sebut Kerapu vs Awerika.

Koalisi Prabowo-Puan lawan Anies Baswedan-Ridwan Kamil. Sandiwara trussss tiada henti. Otak-atik kekuasaan. Sampai kapan rakyat ditipu begini. Tidak kenyang dengan bancakan lima tahun lewat dan lima tahun sekarang, mereka semua sedang merancang lima tahun periode 2024-2029 akan datang. Pak Brewok mulai main babak awal sandiwara. Semua tahu dan semua mantuk-mantuk.
Di depan rakyat pura-pura bermusuhan sampai jagat maya genjlong, tak begitu lama adegan Teletubis yang muncul di panggung nasional.

Hebat yah, dimana latihan pameran watak sehingga sinetron tampak seperti adegan aslinya. Yang masih simpatik dengan proklamator, terpesona oleh tampilan anaknya. Lha, dengan sesama keturunan Bung Karno saja tidak saling rukun bagaimana Pak Brewok mau dapat jabat tangan. Yang sedih itu anak muda yang tak diberi tangan. Politik culas muncul dipermukaan. Romli (gerombolan elit politik ini) sedang dalam satu harmoni nyanyian : kemesraan (berkuasa) janganlah cepat berlalu.

Nun jauh di dapur ibu rumah tangga, Yenny Wahid pernah diberi PHP di jaman era SBY. Di singkirkan Muhaimin dari partai yang didirikan oleh ayahnya : PKB. Di era Jokowi hanya dibibitaan saja. Yenny dan Ilham Habibie bisa jadi ancaman serius buat Romli yang terus bermain-main sandiwara melanggengkan kekuasaan. Rakyat kan sibuk cari makan saja susah, mana ada yang mikir kesitu.

Santri Kalong : Kang bagaimana keadaan percaturan politik kiwari terutama terkait jalannya lima tahun.

Kang Mat : Selagi falsafah Pancasila tidak diletakkan di tempatnya yang layak, bicara apapun rasanya seperti omong kosong. Bagaimana dengan manifesto filosofis mufakat bangsa bernama Pancasila ? Jangan lagi dia dijual dengan harga murah. Gotong-royong dikonotasikan ke nyolong berjamaah secara halus nyaris tak terdengar.

Angkringan filsafat pancasila

Sumber : Status Facebook Abdul Munib

Monday, November 11, 2019 - 10:15
Kategori Rubrik: